Ingatanku sering kali terbang ke Dusun Bukit Togang, Jorong Simpang Goduang. Di sana, di Nagari Simpang Kapuak, Kecamatan Mungka, doa-doa orang tuaku dipanjatkan.

Sebagai anak rantau dari Kabupaten Lima Puluh Kota, memegang SK PNS dengan ijazah D2 pada tahun 2010 sudah terasa seperti mimpi yang jadi kenyataan.

Namun, di perantauanku, tepatnya di SDN 31 Koto Merapak, aku bertemu dengan sosok yang menolak membiarkanku merasa “cukup”.

“Pendidikan itu jembatan, jangan berhenti di tengah jalan,” ucap Pak Eka (Pak Dedi Eka Putra), Kepala Sekolahku saat itu. “UNP buka kelas jauh di Balai Selasa.

Itu kesempatan emas buat kamu, meski kamu jauh dari kampung, di sini kamu harus tumbuh.”
Perjuangan pun dimulai.

Namun, alam Pesisir Selatan seolah ingin menguji nyali anak Mungka ini.

Aku tidak akan pernah lupa saat Pasir Putih dihantam banjir luar biasa.

Air bah berwarna cokelat pekat meluap ke jalanan, membawa material lumpur dan kayu. Akses jalan menjadi medan tempur yang sulit dilalui.

Motor seringkali harus didorong, pakaian basah kuyup, dan dingin menusuk tulang. Di tengah kesulitan itu, hatiku goyah.

Aku teringat ketenangan bukit-bukit di kampung halamanku di Mungka.

“Untuk apa aku bersusah payah begini?” bisik batinku saat melihat kepungan banjir di Pasir Putih.

Tapi Pak Eka selalu ada untuk menguatkan.

“Jangan menyerah pada air, kamu lebih kuat dari itu,” pesannya yang selalu terngiang.

Beliau tahu bahwa gelar S1 dari UNP dan sertifikasi adalah satu-satunya cara agar karierku sebagai PNS tidak jalan di tempat.

Tahun-tahun berat itu berlalu. Banjir surut, ijazah diraih, dan sertifikasi pun turun.

Hari ini, aku melangkah masuk ke ruangan Kabid SMP.

Pak Eka menyambutku dengan senyum yang sama seperti di Koto Merapak dulu.

“Pak Eka,” sapaku sambil menyalaminya erat.

“Terima kasih sudah memaksa saya untuk tetap berjalan saat Pasir Putih dilanda banjir dulu.

Berkat Bapak, anak rantau dari Bukit Togang ini sekarang sudah bisa menerima sertifikasi.”

Pak Eka tertawa hangat, ada rasa bangga di matanya.

“Banjir itu hanya lewat, tapi ijazah dan sertifikasimu itu permanen.

Saya hanya tidak ingin potensi anak muda dari Mungka ini sia-sia hanya karena takut basah.”

Keluar dari kantor dinas, aku menatap langit Pesisir Selatan.

Perjalanan jauh dari Simpang Goduang hingga menembus banjir Pasir Putih telah terbayar lunas.

Semuanya karena seorang pemimpin bernama Pak Eka yang percaya padaku saat aku sendiri hampir menyerah.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.