Oleh: Rima Septiani, S.Pd. (Aktivis Dakwah)

Isu gencatan senjata dan Board of Peace (BoP) kembali digaungkan sebagai solusi konflik Gaza. Narasinya terdengar menenangkan: menghentikan perang, melindungi warga sipil, membuka jalan perdamaian, menjaga stabilitas, dan membawa perdamaian.

Namun faktanya di lapangan jauh berbeda. Di tengah gencatan senjata, Zionis Israel berkali-kali kembali menjatuhkan bom ke Gaza. Sekolah dan pengungsian diserang, warga sipil kembali jadi korban, dan nyawa manusia terus melayang. Peristiwa ini bahkan terekam dan diberitakan luas oleh media internasional, termasuk CNN Indonesia yang membuat video rekaman warga yang memperlihatkan serangan udara oleh Israel yang menghantam sebuah bangunan di Khan Younis, Palestina (Jumat/6/2/2026).

Umat Islam perlu jujur melihat fakta di lapangan, bukan sekadar terpukau oleh istilah-istilah manis diplomasi global. Karena yang kita saksikan saat ini yakni gencatan senjata yang diklaim sebagai solusi damai justru terus dilanggar oleh pihak yang sama, tanpa sanksi tegas dari para penggagasnya.
Masalah utama lainnya yakni ada pada sikap dunia internasional yang terlalu naif. Banyak negara, termasuk lembaga-lembaga global, masih percaya pada janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi Amerika Serikat. Padahal rekam jejaknya jelas, Israel berulang kali melanggar kesepakatan tanpa rasa bersalah.

Lebih ironis lagi, sebagian penguasa negeri-negeri Muslim memilih diam atau bahkan ikut dalam skema BoP dengan alasan menjaga stabilitas wilayah. Keamanan dijadikan alasan, sementara penderitaan muslim Palestina terus dibiarkan. Zionis Israel masih terus melakukan penjajahan. Sikap ini menunjukkan lemahnya keberanian politik dan hilangnya keberpihakan pada kebenaran.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa diam terhadap kezaliman juga bagian dari masalah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya.” (HR. Muslim)
Sikap umat seharusnya tegas dan sadar arah. Umat Islam tidak boleh larut dalam narasi damai yang kosong keadilan. Kita perlu terus menyadarkan pemikiran umat bahwa penderitaan Palestina bukan konflik biasa, melainkan akibat penjajahan yang sistematis.

Kesatuan umat dalam naungan kepemimpinan yang satu juga menjadi kebutuhan mendesak saat ini. Selama umat tercerai-berai, suara keadilan akan selalu kalah oleh kepentingan politik global. Dakwah hari ini bukan hanya soal ibadah individual, tetapi juga membangun kesadaran politik umat agar berpihak pada yang tertindas.

Solusi atas Masalah Palestina

Umat Rasulullah SAW adalah umat yang satu. Umat Islam adalah satu tubuh, di mana ada tubuh yang terluka maka bagian lain pun akan merasakan perihnya luka tersebut. Rasulullah SAW mewariskan ukhuwah Islam di antara umat Islam agar kita semua dapat bersatu dalam satu naugan ikatan, yaitu ikatan Islam.

Sebenarnya, kalau kita kembali mengulang sejarah, akan kita dapati bagaimana kebaikan Khalifah dalam menjaga etnis Yahudi saat itu. Ketika kaum Yahudi di Spanyol dianiaya oleh pemerintahan Nasrani, mereka melarikan diri ke wilayah Khilafah era inkuisisi Spanyol, karena mereka tahu bahwa mereka akan diterima disana, dan diberikan perlindungan, serta dijamin hak-hak mereka untuk hidup sebagai warga negara.

Namun, lihatlah saat ini, apa yang dilakukan Zionis Israel kepada Muslim Gaza sungguh di luar nalar. Mereka dengan tanpa rasa kemanusiaan terus menampakan kejahatannya tanpa pandang bulu. Masihkah kita bergantung pada sandiwara perdamaian Board of Peace?

Di satu sisi, kita harus yakin drama kepalsuan kapitalisme Barat akan segera runtuh dan digantikan oleh sistem Islam, maka bersiaplah untuk menjadi seorang mujahid yang memperjuangkan Islam. Bersiaplah menjadi pembebas Al-Aqsha.

Hadirnya Khilafah akan membebaskan negeri-negeri Muslim lainnya yang tertindas dan menyatukan negeri-negeri Islam yang terpecah. Hadirnya Khilafah akan menghilangkan hegemoni kuffar yang menjajah tanah Palestina, dan melindungi kehormatan kaum Muslimin di seluruh dunia di bawah kalimat tauhid dan pemerintahan Islam. Al-Aqsha menunggu pembebasan, memanggil kaum Muslimin. Wallahu alam bi ash shawwab.

(Visited 24 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.