Jujur saja, ada saatnya rasa sesak itu muncul di sela-sela aktivitas harian. Aku melihat teman-temanku minum kopi tanpa beban di sore hari, tertawa lepas tanpa ada bayang-bayang ketakutan.

Aku melihat mereka begadang menyelesaikan pekerjaan tanpa takut esoknya tubuh akan “ambruk” karena kelelahan yang ekstrem. Ada titik di mana aku merasa cemburu melihat darah mereka yang mengalir bersih, murni, dan bebas dari kontaminasi obat-obatan kimia.

Sementara aku? Tubuhku saat ini adalah sebuah laboratorium kecil yang terus beroperasi. Darahku sudah lama bersahabat erat dengan senyawa kimia dari Obat Anti Epilepsi (OAE) yang harus mengalir setiap detik, setiap menit, demi menjaga agar aliran listrik di otakku tetap stabil dan tidak meledak menjadi badai listrik.

Ada rasa perih yang tersembunyi saat menyadari bahwa kebebasanku dibatasi secara ketat oleh jadwal minum obat yang kaku. Satu dosis yang terlewat bukan sekadar lupa biasa bagi orang pada umumnya, melainkan sebuah undangan terbuka bagi “kejutan” yang sangat tidak diinginkan: kejang.
Namun, perlahan tapi pasti, aku mulai belajar untuk berdamai dengan kenyataan ini. Jika aku terus-menerus memandang obat ini sebagai “racun” atau “kontaminasi” yang merusak kemurnian tubuhku, maka hatiku pulalah yang akan terus beracun oleh rasa iri dan ketidakpuasan.

Aku mulai mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Obat ini adalah penjaga setiaku. Tanpa zat kimia ini, aku mungkin tidak akan memiliki kesempatan untuk duduk tenang dan menikmati indahnya senja hari ini.

Ia adalah jembatan yang menghubungkanku dengan kehidupan yang normal, memungkinkanku tetap produktif meski dengan syarat yang berat.

Penyakit ini, jika dilihat dengan mata hati, adalah filter kesabaran yang luar biasa. Ia adalah guru yang galak, disiplin, namun sangat setia menemani perjalananku. Ia mengajarkanku arti disiplin dan keteguhan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang-orang yang fisiknya sehat bugar.

Aku mencoba memeluk keyakinan bahwa setiap butir obat yang kutelan dengan susah payah, setiap rasa kantuk yang menggelayut, atau pening luar biasa sebagai efek sampingnya, adalah proses penggugur dosa-dosaku di masa lalu. Ini adalah cara Allah SWT mencuciku agar lebih bersih secara spiritual, meskipun secara medis darahku tak lagi murni secara kimiawi.

Menjadi “berbeda” di tengah kerumunan bukan berarti aku kalah dalam perlombaan hidup. Menjadi sehat secara fisik memanglah sebuah anugerah yang patut disyukuri, namun menjadi kuat secara mental di tengah keterbatasan fisik adalah sebuah kemenangan yang hakiki.

Aku tidak lagi memiliki keinginan untuk membandingkan isi darahku dengan darah orang lain. Darahku mungkin mengandung obat, tapi di dalam aliran darah itu juga mengalir ketabahan yang luar biasa kuat. Aku belajar bahwa sehat bukan hanya soal bebas dari resep dokter, tapi soal bagaimana hati tetap tenang dan rida meski tubuh sedang berada di bawah ujian yang berat.

Bagi orang yang sehat, sangat penting untuk benar-benar mengerti perasaan sesama, karena setiap manusia diciptakan dengan ketahanan fisik yang berbeda-beda. Memang sangat melelahkan ketika kita harus bertarung sendirian dengan kondisi kesehatan yang “tak kasat mata” atau invisible illness. Di mata rekan kerja dan atasan, aku mungkin terlihat produktif, ceria, dan sehat-sehat saja. Padahal, di dalam tubuhku, organ-organku sedang berjuang keras menyeimbangkan efek samping obat yang berat serta mengelola risiko serangan yang bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan.

Apalagi saat menghadapi bulan suci Ramadan di lingkungan kantor. Ekspektasi sosial tentang produktivitas dan ibadah seringkali tidak sejalan dengan realitas fisik yang harus aku dan kaum minoritas kesehatan lainnya jalani. Hidup dengan epilepsi adalah tentang bertahan hidup di antara dunia nyata dan fatamorgana. Ini adalah analogi yang sangat dalam; bagi kami penyandang epilepsi, batas antara kesadaran penuh dan “kekosongan” itu sangatlah tipis, setipis helai rambut.

Agar tetap kuat menjalani bulan Ramadan yang mulia ini, pesanku untukmu: jangan pernah merasa bersalah jika ritme kerjamu berbeda dengan rekan yang lain. Sadarilah bahwa tubuh seorang dengan epilepsi (ODE) sedang bekerja dua kali lipat lebih keras daripada orang sehat. Satu energi digunakan untuk urusan kantor dan sosial, sementara energi lainnya digunakan untuk mengelola efek samping OAE yang membuat darah terasa “terkontaminasi” dan kepala seringkali terasa oleng.

Dalam perspektif Islam, kesehatan adalah amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Jika kondisi berpuasa tersebut secara medis membahayakan keselamatanmu saat bekerja atau berkendara, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai penyesuaian dosis atau jadwal minum obat selama berpuasa.

Sabar itu memang perlu dan wajib, tetapi memberikan ruang bagi diri sendiri untuk mengakui bahwa kita sedang “tidak baik-baik saja” juga merupakan salah satu bentuk kekuatan jiwa yang luar biasa. Kalian tidak sendirian dalam perjuangan yang sunyi ini.
Ramadan adalah bulan penuh berkah yang membawa ketenangan bagi jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian.

Bagi teman-teman pejuang epilepsi, menjalani ibadah di bulan ini mungkin memiliki tantangan yang jauh lebih besar, namun ingatlah bahwa setiap niat tulusmu adalah ibadah yang sangat berharga di mata Allah SWT. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tapi tentang bagaimana kita menguatkan jiwa dalam keterbatasan.

Untukmu para pejuang epilepsi, ingatlah bahwa setiap detik kesabaranmu saat menelan obat atau menahan efek sampingnya adalah zikir yang terus mengalir. Tetaplah semangat, jaga pola tidur dengan sangat ketat, dan perhatikan asupan nutrisimu. Menjaga amanah tubuh adalah bentuk ketaatan yang setara dengan ibadah lainnya.

Selamat menunaikan ibadah puasa dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian.
Ingatlah, kawan senasib sepenanggunganku, bahwa jika pada akhirnya kondisi kesehatan tidak memungkinkanmu untuk berpuasa (berdasarkan saran dokter), hal itu sama sekali tidak mengurangi kemuliaanmu sebagai seorang Muslim.

Allah adalah Dzat yang Maha Tahu dan Maha Adil. Tetaplah disiplin meminum obat dan menjaga jam tidur meski jadwal duniawi berubah total selama Ramadan.

Sebab, sebagaimana janji-Nya dalam kitab suci: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).

(Visited 5 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.