Suasana pagi di Pantai Berova terasa begitu istimewa hari ini, jauh dari hiruk pikuk ruang kelas konvensional. Angin sepoi-sepoi yang datang langsung dari teluk bone menyapu kawasan pantai, menyejukkan hati dan pikiran. Di bawah rindangnya pohon, kami duduk menghadap langsung ke birunya teluk bone.
Minggu lalu, saya memberikan tugas observasi kepada mahasiswa prodi Manajemen UMKOTA untuk melakukan wawancara terhadap kepala institusi atau owner UMKM.
Sehingga hari ini saya hanya sibuk mendengarkan presentasi mahasiswa. Observasi tersebut terkait pluralisme budaya, toleransi dan pengelolaan keberagaman di tempat kerja.
Para mahasiswa, berbagi temuan mereka tentang bagaimana perbedaan usia, suku, agama, dan latar belakang memengaruhi dinamika tim, konflik, dan produktivitas organisasi yang mereka amati.
Mereka menghubungkan teori manajemen dengan realitas kerja keras di lapangan, mengajarkan bahwa mengelola keberagaman adalah kunci sukses organisasi modern.
Suara ombak yang berirama seolah menjadi soundtrack alami bagi setiap argumen dan analisis yang disampaikan mahasiswa.
Di tengah suasana yang inspiratif tersebut, kami kemudian membawa fokus perkuliahan ke isu yang lebih personal. Bagaimana mahasiswa dapat mempersiapkan diri untuk membangun usaha atau karier yang sukses di masa depan?
Saya menyampaikan pesan yang jujur dan realistis, bahwa di dunia nyata, terdapat tiga “modal awal” atau privilege yang seringkali memudahkan jalan seseorang.
Privilege atau Latar Belakang Keluarga. Hal ini mencakup dukungan keluarga yang kuat berupa social capital, jaringan (networking).
Finansial yang cukup berfungsi sebagai modal awal atau jaring pengaman risiko saat memulai usaha.
Nilai Akademik (IPK). Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi berfungsi sebagai “tiket masuk” dan langkah awal yang mempermudah akses ke pekerjaan.
Saya menyampaikan bahwa ketiga hal tersebut adalah realitas yang tidak dapat dimungkiri sebagai faktor penentu awal keberhasilan.
Kita juga punya jalan Alternatif, yaitu Pengalaman dan Ilmu yang Luas.
Saya menutup dengan menegaskan bahwa jika mahasiswa tidak memiliki salah satu, atau bahkan ketiganya dari privilege tersebut, bukan berarti pintu kesuksesan tertutup. Justru, inilah saatnya untuk berjuang lebih keras, memanfaatkan waktu perkuliahan saat ini dengan maksimal, dan berinvestasi pada dua hal tak ternilai.
Pengalaman yang Luas. Bukan hanya soal IPK, tetapi aktiflah berorganisasi, magang, dan terlibat dalam proyek riil. Pengalaman adalah guru terbaik yang membentuk keterampilan praktis dan kemampuan beradaptasi. Ilmu dan Wawasan yang Mendalam, Kuliah dengan baik tidak hanya mengejar nilai, tetapi memperluas ilmu hingga di luar kurikulum. Wawasan yang luas adalah modal utama untuk melihat peluang yang tidak terlihat oleh orang lain.
Perkuliahan kami berakhir dengan hati yang lebih sejuk dan semangat yang membara. Para mahasiswa meninggalkan Pantai Berova tidak hanya membawa pemahaman tentang keberagaman, tetapi juga bekal strategi hidup. Bahwa, meskipun privilege adalah keuntungan. Kerja keras, pengalaman, dan ilmu yang luas adalah modal sejati yang dapat memenangkan persaingan masa depan.
Saat kami akan beranjak menuju kendaraan masing-masing. Tiba-tiba salah seorang mahasiswi pingsan. Setelah sadar dan kutanya kenapa datang kuliah kalo kurang sehat.
Jawabnya. Tidak mau meninggalkan kesempatan tuk presentasi dihadapan teman2.
Itu juga bagian dari perjuangan.
#AH
