Digelar 12 Juni hingga 12 Juli 2021, Euro 2021 membawa euforia tersendiri di tengah masa pendemi COVID-19. Sepertinya tidak terlalu gegap gempita. Obrolan di warung kopi pun terbatas. Nonton di rumah masing-masing menjadi satu-satunya pilihan karena tidak boleh nobar. jadi, kita ambil hikmahnya saja, ya?
Dikutip dari buku “Merangkai Kata Merajut Makna” karya Hery Subowo, di setiap turnamen sepak bola yang dicari pastilah tim yang paling subur golnya ke gawang lawan. Sebaik apa pun tim bertanding, juaranya tergantung seberapa banyak bola disarangkan. Tapi kadang orang lebih mengenang tim yang kalah namun dengan strategi cantik dan fair play apik sepanjang pertandingan.
Baik juara yang riil sebenarnya maupun juara tanpa mahkota tidak lahir begitu saja di lapangan. Mereka muncul setelah melewati masa sulit persiapan dan latihan yang pastinya sangat melelahkan. Sepak bola mengajarkan kita untuk fokus pada tujuan akhir sambil tetap passion dengan proses yang kita lakukan dan tidak pula mengabaikan cermatnya persiapan.
Selain itu, jalan menuju tangga juara selalu dihiasi dengan beragam kontribusi. Ada pelatih yang cermat merancang strategi. Ada wasit yang tegas memutus dan hakim garis yang nanar mengamati. Ada official yang sigap berlari masuk lapangan saat cedera terjadi. Ada fans penonton yang riuh rendah menyemangati. Ada pengamat yang bisanya cuma mengomentari. Bahkan, ada juga petaruh yang cuma sekadar menunggu skor akhirnya nanti.
Seberapa pun besar dukungan mereka, hasil pertandingan sangat dipengaruhi semangat, soliditas, kerja sama, dan strategi tim itu sendiri saat 90 menit beraksi. Sepak bola mengingatkan kita bahwa prestasi dicapai sebaiknya dengan mengandalkan motivasi, upaya, dan kerja keras kita sendiri.
Di samping itu, posisi pemain sangat tergantung dari tugas yang harus dijalankan. Goal Keeper setia di bawah gawang menjaganya dari kebobolan. Back rela di garis belakang, menyapu bola, dan bertahan. Libero naik turun lapangan, atur irama permainan. Stricker menunggu umpan manis di daerah lawan. Yang lainnya tunggu di bangku cadangan. Posisi tersebut bisa saja berubah saat dibutuhkan. Full menyerang atau total bertahan, pelatih dan kapten yang menentukan.
Sepak bola menasihati kita bahwa dalam berorganisasi setiap kita harus konsisten berbagi dan bertukar peran sesuai amanah pimpinan, untuk mencapai visi misi dan kinerja yang ditargetkan.
Terakhir, tentunya sepak bola dibatasi oleh aturan main sebagai sebuah olahraga. Tapi penegakannya sangat tergantung dari wasit dan hakim garis di tiap laga. Untungnya, kini kecanggihan teknologi membuat putusan mereka makin akurat niscaya. Pelanggaran sekecil apapun pasti tertangkap VAR camera. Teknologi GLT pun mampu membaca lewatnya garis gol sang bola. Diving dan tackling kasar pun tidak bisa lagi dilakukan dengan leluasa. Dan jika terjadi, kartu kuning atau merah baginya dan pelakunya akan jadi musuh bersama. Fair play akhirnya pun menjadi kepastian bagi semua.
Sepak bola mencontohkan kita untuk selalu menaati rule of the game dan tidak menghalalkan segala cara. Yakinlah bahwa gusti Allah mboten sare sehingga becik pasti ketitik dan ala pasti ketara. []


Suka tulisannya….