Oleh: Andiani*

Masih banyak guru yang terpaksa menggadaikan SK demi bisa punya rumah atau membiayai pendidikan anaknya. Bukan karena mengejar gaya hidup mewah, bukan karena foya-foya, tapi karena penghasilan yang diterima tiap bulan sering kali hanya cukup untuk menutup kebutuhan dapur hari ini, tanpa sisa untuk menabung hari esok.

Mereka adalah orang-orang yang ikhlas setiap pagi berdiri di depan kelas, menanamkan mimpi pada puluhan anak orang lain, walau terkadang mimpi anak sendiri kabur tertutup awan harapan. Menyemangati muridnya untuk berani bercita-cita setinggi langit. Mengajarkan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan.

Namun di balik pintu rumahnya sendiri, tidak sedikit guru yang diam-diam menghitung ulang uang belanja. Menunda memperbaiki genteng bocor. Memutar otak mencari tambahan agar anak kandungnya bisa lanjut kuliah. Bahkan ada yang harus mengajar les sampai malam, hanya demi menutup kebutuhan keluarga.

Ironi pendidikan kita : Yang bertugas mencerdaskan bangsa, kadang harus berjuang keras untuk hidup dengan layak.

Guru tidak minta dikasihani. Mereka hanya butuh dihargai dengan sistem yang adil. Karena kita tidak bisa berharap mutu pendidikan naik, sementara orang yang mengajar di dalamnya masih dibebani pikiran tentang biaya hidup besok.

Semoga kesejahteraan guru benar-benar jadi prioritas. Sebab pendidikan berkualitas tidak lahir dari gedung megah saja. Ia lahir dari guru yang hatinya tenang, pikirannya fokus, dan hidupnya layak. Guru sejahtera, murid bahagia, bangsa berjaya.

*Pemerhati pendidikan

(Visited 5 times, 5 visits today)
Avatar photo

By Inspirasi Daerah

Inspirasi Daerah memuat narasi pemerintahan daerah seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.