Oleh: Ruslan Ismail Mage

Penangkapan bukan berarti bersalah, diserang bukan berarti kalah, namun yang pasti kebenaran hanya lahir dari jiwa seorang pejuang. Terlalu banyak data dalam sejarah menjustifikasi bahwa pahlawan lahir dari tekanan. Bahkan tidak sedikit fakta menjelaskan bahwa penindasan adalah rahim subur yang melahirkan tokoh-tokoh besar.

Tiba-tiba saya teringat tokoh-tokoh perempuan pejuang asal Minangkabau.

Rohana Kudus, perempuan pejuang yang bersenjatakan pena. Perempuan pertama di Indonesia yang mendirikan surat kabar, Soenting Melajoe. Ia memilih pena di saat perempuan lain belum berani memilih suara.

Rasuna Said, karena keberaniannya sebagai orator ia dijuluki “Singa Betina” di podium. Perempuan pertama yang mendapat hukuman cambuk dari penjajah Belanda. Ia bersuara di saat bersuara adalah kejahatan.

Siti Manggopoh, perempuan pemberani yang memimpin perlawanan rakyat melawan kebijakan pajak yang menindas dari pemerintah kolonial Belanda. Ia bahkan menyuruh kaum lelaki memakai rok kalau tidak berani melawan kolonial. Bukan penghinaan, tapi tamparan keras bagi mereka yang memilih diam di hadapan ketidakadilan.

Ketiga perempuan Minang ini tidak pernah mengenal rasa takut dalam menghadapi kolonial. Mereka tidak menunggu izin untuk berani. Mereka tidak menunggu kondisi aman untuk bergerak. Mereka bergerak justru ketika kondisi paling tidak aman, paling tidak mengizinkan, paling tidak memungkinkan. Dan dari pilihan itulah nama mereka dikenang, bukan karena mereka tidak pernah jatuh, tapi karena mereka tidak pernah menyerah untuk bangkit.

Jiwa pejuang ketiga perempuan Minang itu rasanya menjelma ke dalam diri seorang Tifauzia Tyassuma, yang lebih dikenal sebagai Dokter Tifa. Seorang dokter, penulis, dan aktivis kesehatan Indonesia yang dikenal karena pandangannya yang kritis dan tidak pernah kompromi terhadap kebijakan publik yang ia yakini keliru. Ia bukan pejuang di medan perang dengan senjata. Ia pejuang di ruang publik dengan data, dengan argumen, dengan keberanian untuk mengatakan apa yang banyak orang pilih untuk tidak katakan.

Dalam sejarah panjang perempuan-perempuan pejuang Minangkabau, ada satu benang merah yang tidak pernah putus: mereka semua membayar harga untuk keberanian mereka. Rohana Kudus membayarnya dengan jalan yang tidak mudah di masa ketika perempuan tidak seharusnya mendirikan surat kabar. Rasuna Said membayarnya dengan cambukan yang meninggalkan bekas di tubuh tapi tidak pernah di keyakinannya. Siti Manggopoh membayarnya dengan mempertaruhkan nyawa di garis depan perlawanan. Dan Dokter Tifa membayarnya dengan cara yang berbeda tapi dengan taruhan yang tidak kalah beratnya: nama baik, kebebasan, dan kedamaian hidup yang bisa ia pilih untuk dinikmati kalau ia memilih diam.

Ia tidak memilih diam.

Dan itulah tepatnya mengapa namanya layak disebut bersama nama-nama perempuan besar itu. Bukan karena nasibnya sama. Bukan karena zamannya sama. Tapi karena pilihan yang ia buat di hadapan tekanan mencerminkan jiwa yang sama: jiwa yang tidak mengukur kebenaran dari seberapa aman ia diucapkan, tapi dari seberapa perlu ia disampaikan.

Menyala, Bunda Tifauzia.

Penulis adalah akademisi dan penulis buku motivasi kepemimpinan

(Visited 7 times, 7 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.