#penguasaancinta #themasteryoflove

Manusia secara alami adalah makhluk yang sangat sensitif. Kita sangat emosional karena kita menangkap segala sesuatu dengan emosional tubuh. Emosional tubuh seperti radio yang dapat disetel untuk menangkap frekuensi atau bereaksi terhadap frekuensi tertentu. Frekuensi normal manusia sebelum ditundukkan adalah untuk mengeksplorasi dan menikmati hidup; kita disetel untuk saling mencintai. Sebagai anak-anak, kita tidak memiliki definisi cinta sebagai sebuah konsep abstrak; kita hanya hidup untuk saling mencintai. Begitulah cara kita mencintai.

Emosional tubuh kita memiliki komponen seperti sistem alarm untuk memberi tahu kita ketika ada sesuatu yang salah. Sama halnya dengan tubuh fisik kita; memiliki sistem alarm untuk memberi tahu kita jika ada sesuatu yang salah dengan tubuh kita. Kita sebut rasa sakit. Ketika kita merasakan sakit, itu karena ada sesuatu yang salah dengan tubuh kita yang harus diperhatikan dan diperbaiki. Sistem alarm bagi emosional tubuh kita adalah rasa takut. Ketika kita merasa takut, itu karena ada sesuatu yang salah. Mungkin kita berada dalam bahaya kehilangan hidup kita.

Emosional tubuh merasakan emosi, tetapi tidak melalui mata. Kita menangkap emosi melalui emosional tubuh kita. Anak-anak hanya merasakan emosi dan pikiran penalaran mereka dengan tidak menginterpretasikan atau mempertanyakannya. Itulah sebabnya mengapa anak-anak bisa menerima orang-orang tertentu dan menolak orang-orang tertentu. Ketika mereka merasa tidak yakin berada di dekat seseorang, mereka menolak orang itu karena mereka bisa merasakan emosi yang orang itu pancarkan. Anak-anak dapat dengan mudah menangkap perasaan ketika seseorang marah dan sistem alarm mereka menghasilkan sedikit rasa takut kemudian mengatakan, “Menjauhlah.” Dan mereka mengikuti naluri mereka – mereka pun akan menjauh.

Kita belajar menjadi lebih emosional sesuai dengan energi emosional di dalam rumah kita, dan reaksi pribadi kita terhadap energi itu. Itulah sebabnya setiap kakak dan adik akan bereaksi secara berbeda sesuai dengan bagaimana mereka belajar untuk mempertahankan diri dan beradaptasi dengan situasi yang berbeda. Ketika orang tua kita terus bertengkar, ketika ada ketidakharmonisan, rasa tidak saling menghormati, dan kebohongan, kita belajar secara emosional menjadi seperti mereka. Walaupun mereka memberitahu kita untuk tidak bersikap seperti itu dan tidak boleh berbohong, energi orang tua kita, energi seluruh keluarga kita, akan membuat kita menangkap kehidupan dengan cara yang sama.

Energi emosional yang berada di dalam rumah kita akan menyesuaikan dengan emosi tubuh kita terhadap frekuensi itu. Emosional tubuh kita mulai mengubah frekuensinya, dan itu bukan lagi merupakan frekuensi normal manusia. Kita memainkan peranan orang dewasa, kita memainkan peranan mimpi luar, dan kita dikalahkannya. Kita kehilangan kepolosan kita, kita kehilangan kebebasan kita, kita kehilangan kebahagiaan kita, dan kehilangan kecenderungan untuk mencintai. Kita dipaksa untuk berubah dan kita mulai menangkap realitas dunia lain, realitas pada diri orang lain; realitas ketidakadilan, realitas rasa sakit secara emosional, realitas racun emosional . Selamat datang di neraka – neraka yang diciptakan oleh manusia itu sendiri, yang merupakan mimpi dunia dan masyarakat di sekitar kita. Kita akan disambut ke neraka itu, walaupun kita tidak menciptakan itu secara pribadi. Karena semua itu sudah ada di dunia ini sebelum kita dilahirkan.

Bersambung

(Visited 17 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.