#penguasancinta #the masteryoflove

Sekarang ada sesuatu di dalam luka yang pada awalnya bukanlah merupakan masalah besar, yaitu racun emosional. Racun emosional yang ada di dalam pikiran Anda mulai terkumpul dan pikiran mulai bermain dengan racun emosional itu.

Sekarang, kita mulai khawatir tentang masa depan karena kita memiliki memori racun emosional itu dan kita tidak ingin hal itu terjadi lagi. Kita juga memiliki kenangan merasa diterima; kita ingat Ibu dan Ayah berbuat baik terhadap kita dan hidup dalam keharmonisan.

Kita menginginkan keharmonisan itu, tetapi kita tidak tahu bagaimana menciptakannya. Sebab, kita berada di dalam gelembung persepsi kita sendiri, apa pun yang terjadi di sekitar kita seolah-olah itu karena diri kita. Kita percaya kenapa Ibu dan Ayah kita bertengkar disebabkan oleh karena diri kita, waaupun pertengkaran itu sendiri tidak ada hubungannya dengan diri kita.

Sedikit demi sedikit kita mulai kehilangan kepolosan di dalam diri kita; kita mulai merasakan kemarahan, kita mulai sulit untuk memaafkan. Seiring waktu, insiden dan interaksi ini membuat kita tahu bahwa sudah tidak aman lagi untuk menjadi diri kita yang sesungguhnya. Tentu saja hal ini akan bervariasi dalam intensitas dari masing-masing manusia sesuai dengan kecerdasan dan pendidikannya. Ini akan bergantung pada banyak hal.

Jika Anda beruntung, penundukkan itu tidak begitu dominan. Tapi jika Anda tidak beruntung, penundukkan itu bisa begitu kuat dan luka yang anda derita begitu dalamnya. Bahkan, bisa saja Anda menjadi takut untuk berbicara. Hasilnya adalah, “Oh, saya pemalu.”

Rasa malu adalah rasa ketakutan untuk mengekspresikan diri. Anda mungkin percaya bahwa Anda tidak tahu bagaimana cara menari atau bagaimana cara bernyanyi, tetapi ini hanya sekadar penekanan naluri manusia normal untuk mengungkapkan rasa cintanya.

Manusia menggunakan rasa takut untuk menundukkan manusia lainnya, dan ketakutan kita meningkat dalam setiap pengalaman ketidakadilan. Rasa ketidakadilan adalah pisau yang membuka luka di dalam emosional tubuh kita. Racun emosional diciptakan oleh reaksi kita terhadap apa yang kita anggap merupakan suatu ketidakadilan.

Beberapa perasaan terluka akan sembuh, namun beberapa luka akan lebih terinfeksi lagi dengan lebih banyak racun emosional. Setelah diri kita penuh dengan racun emosional, kita memiliki kebutuhan untuk melepaskannya, dan kita berlatih melepaskan racun emosional itu dengan mengirimkan kepada orang lain. Bagaimana kita melakukan ini? Dengan menarik perhatian orang itu.

Mari kita ambil contoh dari sepasang suami istri. Untuk alasan apa pun, sang istri sedang marah. Dan dia memiliki begitu banyak racun emosional dari ketidakadilan yang berasal dari suaminya. Sedangkan suaminya tidak di rumah, tapi dia ingat atas ketidakadilan itu dan racun emosional tersebut tumbuh di dalam hatinya.

Ketika suaminya pulang, hal pertama yang ingin dia lakukan adalah menarik perhatian suaminya karena setelah dia menarik perhatiannya, semua racun emosional bisa dia transfer kepada suaminya dan dia bisa merasakan lega. Begitu ia mengatakan kepadanya betapa buruknya dia, betapa bodohnya atau bagaimana tidak adilnya dia, racun emosional yang ada di dalam dirinya ditransfer ke suaminya.

Dia terus berbicara dan berbicara terus sampai si istri itu mendapat perhatian suaminya. Akhirnya, sang suami bereaksi dan jadi marah, dan si istri merasa lega. Tetapi sekarang racun emosional mulai bersarang di hati suaminya, bahkan suaminya akan membalikkan kemarahan itu.

Sang suami mulai menarik perhatian istrinya dan melepaskan racun emosional yg bersarang didirinya, tetapi bukan saja melepaskan racun emosional sang istri – tetapi racun emosional sang istri ditambah racun emosional sang suami.

Jika Anda bisa melihat interaksi ini, Anda bisa melihat mereka sudah saling menyentuh luka dan bermain pingpong dengan racun emosi. Racun emosional itu semakin berkembang dan berkembang hingga suatu saat salah satu dari mereka meluapkan amarahnya. Sering hal ini terjadi bagaimana manusia menjalin hubungan satu sama lain.

Dengan menarik perhatian, energi itu mengalir dari satu orang ke orang lainnya. Perhatian adalah sesuatu yang sangat hebat dalam pikiran manusia. Setiap orang di seluruh dunia berburu perhatian dari orang lain setiap saat. Ketika kita menangkap perhatian, kita menciptakan saluran komunikasi. Mimpi mulai disalurkan, kekuatan tersalurkan, tetapi racun emosional tersalurkan juga.

Biasanya kita melepaskan racun dengan orang yang kita pikir bertanggung jawab atas ketidakadilan itu. Namun, jika orang itu terlalu kuat hingga kita tidak dapat mengirimkan kepadanya, kita tidak peduli kepada siapa pun kita mengirimkannya. Kita mengirimkannya kepada orang lemah yang tidak bisa membela dirinya untuk melawan kita, dan begitulah kekerasan dalam rumah tangga terbentuk.

Orang-orang yang kuat melakukan kekerasan pada orang-orang yang lemah karena mereka harus melepaskan racun emosional mereka. Kita memiliki kebutuhan untuk melepaskan racun emosional tersebut, terkadang kita tidak menginginkan keadilan. Kita hanya ingin melepaskannya, kita menginginkan ketenangan. Itulah mengapa manusia mencari kekuasaan setiap waktu, sebab semakin berkuasa kita, semakin mudahnya kita melepaskan racun emosional kepada orang yang tidak mampu membela dirinya sendiri.

Don Miguel Ruiz

Tentu saja, kita berbicara tentang hubungan di neraka. Kita berbicara tentang penyakit mental yang berada di atas planet ini. Tidak ada seorang pun yang bisa kita salahkan atas penyakit ini, ini bukan masalah baik atau buruk atau benar atau salah, ini hanyalah patologi normal sebuah penyakit.

Tidak ada seorang pun yang bersalah karena melecehkan. Sama seperti orang-orang di planet imajiner yang tidak bersalah karena kulit mereka sakit, Anda tidak bersalah karena Anda memiliki luka yang terinfeksi dengan racun emosional. Ketika Anda secara fisik sakit atau terluka, Anda tidak menyalahkan diri sendiri atau merasa bersalah. Lalu, mengapa merasa buruk atau merasa bersalah karena tubuh emosional Anda sakit?

Yang terpenting adalah memiliki kesadaran bahwa kita memiliki masalah ini. Jika kita memiliki kesadaran, kita memiliki kesempatan untuk menyembuhkan emosional tubuh kita, pikiran emosional kita, dan menghentikan penderitaan ini. Tanpa kesadaran, tidak ada yang bisa kita lakukan. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah terus menderita dalam berinteraksi dengan manusia lain, tetapi tidak hanya dengan manusia lain, interaksi dengan diri kita sendiri, karena kita juga menyentuh luka yang ada di dalam diri kita sendiri hanya untuk menerima penghukuman.

Bersambung

(Visited 26 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.