Oleh : Imam Abdullah El- Rashied

Meski kini jarak sudah tak berarti, tetap saja masih ada sekat yang menghalangi, memenjarakan kita dalam nanti.

Hanya mengeja ilusi, meratapi sesak di hati, yang berdetak tanpa henti.

Waktu bergulir melewati, menjejakkan langkah-langkah sunyi, membiarkan sepasang kekasih merana dalam sepi.

Dinding bisu tak bertepi, sepetak ruang yang penuh coretan puisi, berupaya memperdengar asa yang sudah tuli.

Kita dituntun aksara buta ke dalam kotak misteri, menuju relief kenangan yang menuntut untuk dipahami, bahwa tatapan kita terikat oleh janji, pada rasa yang telah ditelanjangi.

Peternak Rindu.
Mukalla, 7 Oktober 2021.

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.