Oleh: Imam Abdullah El-Rashied

Bagian 6 dari 10

Sebuah Cerita Tentang Mimpi, Perjalanan dan Perjodohan-

Dilengkapi dengan ulasan sejarah, topografi, dan tempat-tempat penting serta tokoh berpengaruh di Yaman. Dipadu dengan kajian hukum Islam dalam perspektif Fiqih Madzhab Syafi’i, Al-Qur’an dan Hadits.

Lepas bertawassul kepada Al-Faqih Al-Muqoddam, kami berjalan 10 langkah ke arah kanan dan berdiri di samping makam Syeikh Abdurrahman As-Seggaf untuk membaca Fatihah dan bertawassul kepada beliau. Setelah itu kami berjalan ke arah kanan sekitar 20 langkah dan berhenti di depan makam Syeikh Umar Al-Muhdhor untuk membaca Fatihah dan bertawassul kepada beliau. Keluar dari atap kami masuk ke sebuah bangunan berkubah tepat di tengah-tengah Zanbal. Yah, di situlah bersemayam Al-Habib Abdullah Al-Aidrus Bin Abu Bakar As-Sakran. Makam beliau ditutupi dengan Tabut (kotak kayu) yang diukir dengan Kaligrafi Arab. Lepas membaca Fatihah dan Tawassul, kamipun keluar dari bangunan dan disambut oleh Makam Imam Abdullah Bin Alawi Al-Haddad, tokoh pembaharu Thoriqoh Alawiyah sekaligus Mujaddid abad ke-11 H.

Di area makam Imam Haddad lampu dan kipas belum dinyalakan. Aku berlalu ke bagian kiri atap lantas menyalakan lampu dan kipas yang tepat berada di hadapan makam Sang Imam. Di situ kami kembali membaca Yasin, lantas bertawassul kepada beliau seraya memanjatkan do’a-do’a. Setelah itu aku mengambil buku qashidah Ad-Durrul Mandzum Li Dzawil ‘Uqul Wal Fuhum yang berisi kumpulan qashidah-qashidah gubahan Imam Haddad dan terkenal dengan sebutan Diwan Al-Imam Al-Haddad. Kubuka sebuah qashidah yang berakhiran Huruf Nun. Kubaca salah satu Qashidah Imam Haddad yang sering dibaca, yaitu ‘Alaika Bitaqwallah yang berisi petuah tentang takwa dalam 10 bait.

Selesai menyenenandungkan Qashidah Imam Haddad dengan suara lirih, aku mematikan lampu dan kipas lantas mengajak Abdul untuk melangkah melalui jalan ke arah kanan makam Sang Imam menuju Kubah Al-Habib Abdullah Bin Syeikh Al-Aidrus untuk membaca Fatihah dan Tawassul. Keluar dari Kubah, kami terus berjalan ke arah kembali ke pintu utama. Kami tak mengambil jalan utama pemakaman, tapi masuk ke area makam-makam yang kesemuanya disemen dengan campuran kapur dan tanah dan dicat berwarna putih. Kami pun terhenti di kapling pemakaman keluarga Al-Kaff di Zanbal, di situlah salah satu sahabat terbaikku bersemayam. Abdullah Bin Jakfar Al-Jailani, ibunya dari Fam Al-Kaff. Tepat 2 tahun silam di awal rajab 1437 H, ia dimakamkan di Zanbal.

Keluarga Abdullah berasal dari Kota Hajrain, Lembah Dou’an. Hanya saja ia dan keluarganya merantau ke Jeddah bersama dengan banyak keluarga Habaib lainnya dari Hadhramaut. Saat di Tarim kami tinggal satu kamar, bahkan kasurnya bersebelahan dengan

kasurku. Sejak awal aku mengenalnya 3.5 tahun silam, aku suka sharing bersamanya, dia teman yang enak diajak ngobrol. Beberapa hari terakhir sebelum wafatnya ia mencoba untuk menghafal silsilah nasabnya hingga ke Sultonul Awliya’, Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani.

Saat itu malam jum’at tanggal 1 Rajab 1437 H di Rahbah – Tarim. Lepas Shalat Isya’ teman-teman satu asrama berkumpul di kamar yang paling besar untuk memperingati kelahiran salah satu teman kami yang juga merupakan Presiden BEM Univ. Imam Syafi’i, Ahmad Mumtaz Ats-Tsaqofi. Setelah selesai membaca Surat Al-Waqi’ah dan do’a, MC mempersilahkan beberapa anak untuk berdiri menyampaikan sepatah dua patah kata. Biasanya anak yang berdiri akan menyampaikan kisah-kisah lucu yang pernah dialami sang pemilik acara yang sedang ulang tahun. Barulah sebagai penutup acara, yang ulang tahun berdiri untuk menyampaikan pesan dan kesannya. Setelah itu tiba pada acara inti makan-makan. Biasa dalam acara ulang tahun anak-anak akan memasak Fried Chiken ala KCF dengan satu nampan ½ ayam untuk 5 anak.

Setelah sahabat kami Mumtaz berdiri untuk menyampaikan pesan dan kesannya, Abdullah Al-Jailani mengucapkan 2 kata yang membuat gaduh satu ruangan. Dia mengatakan “Mumtaz ganteng” sambil tersenyum kepada Mumtaz, teman-teman lantas menyorakinya. Akhir-akhir ini Abdullah banyak mempelajari kosa kata – kosa kata singkat yang sering digunakan di Indonesia. Lepas mengudarakan 2 kata itu Abdullah keluar karena merasa malu. Dan, ternyata itu adalah senyum terakhir yang bisa kami rekam dari Abdullah. Di malam itu juga ia begadang semalaman tak bisa tidur, entah kenapa kami tak tahu sebabnya. Ia baru bisa tidur setelah jarum jam melewati angka 1.

Saat Qiyamullail, seperti biasa Kang Mubarrid membangunkan anak-anak untuk Tahajjud. Malam itu aku sedang tidur di Musholla bukan di kamar. Di kamar hanya ada 2-3 anak yang salah satunya adalah Abdullah. Kang Mubarrid saat ini susah sekali membangunkan Abdullah, hingga dia nyeletuk “Ini anak tidur apa mati sih, Dibangunin koq susah?”. Karena Abdullah tak bangun-bangun atau lebih tepatnya tak sadarkan diri dan tak ada reaksi sama sekali saat dibangunkan, akhirnya teman-teman memeriksa nafas dan detak jantungnya. Saat itulah mereka benar-benar yakin bahwa Abdullah telah menghempaskan nafas terakhirnya di atas kasurnya itu.

Abdullah Bin Jakfar Al-Jailani, selamat jalan sahabatku. Sayyidi Syeikh Muhammad Ba’athiyah jauh-jauh datang dari Jeddah untuk sekedar memandikan jasadmu dan mengantarkanmu ke liang lahat. Bahkan Habib Umar Bin Hafidz dan beberapa Ulama besar Tarim turut mengantarkanmu ke persemayaman terakhirmu di dunia. Sayyidi Syeikh berkata tentang dirimu saat kami bertakziyah kepada keluargamu di Kota Hajrain: “Abdullah adalah permisalan bagi santri yang tekun dalam belajar. Dia mati syahid sebagai penuntut ilmu, syahid lantaran meninggal terasingkan jauh dari keluarga dan mati di malam jum’at. Alangkah mulianya akhir hayat anak didik kami yang satu ini”.

Ada satu kisah menarik mengenai perjuangan belajar Abdullah yang ia mulai sejak kelas 5 SD. Saat itu ia mendapatkan peringkat ke-40 dari 60 siswa. Kakaknya Abdul Aziz

menasehatinya bahwa kalau ia tidak serius belajar, ia akan selamanya tertinggal di urutan belakang. Sejak saat itu ia mulai giat belajar hingga mencapai peringkat ke-6, bakan nilai pelajarannya mencapai rata-rata 9. Di asrama aku sering melihatnya belajar hingga larut malam, hingga jam 2 dini hari kadang. Beberapa kali kulihat ia mengikat kepalanya lantaran sakit kepala kurang istirahat, dan sesekali aku temukan dia nyaris pingsan dan tak kuat berdiri lantas dibopong oleh teman-teman. Penyebab kematiannyapun tak ada yang tahu. Sebab selama ini dia tak pernah mengalami sakit serius, hanya sekedar pusing saja. Asumsiku mengatakan dia terkena serangan mendadak pada saraf di otaknya yang disebabkan oleh sedikit istirahat dan memaksa otak terus bekerja hingga larut malam.

Sungguh kami sangat iri kepadamu Abdullah. Bagaimana tidak? Sedangkang Syeikh mengakui ketekunanmu dalam belajar, dan sangat membagakanmu dalam kesyahidanmu hingga dia rela jauh-jauh datang dari Jeddah – Arab Saudi ke Tarim – Yaman yang pada waktu itu hanya ada jalur transportasi darat saja. Sebelum meninggalkan makam Abdullah, aku berkata di hadapan kuburnya:

“هَنِيْئًا لَكَ يَا اْبَن جَعْفَرَ, لَقَدْ عِشْتَ كَرِيْمًا وَطَلَبْتَ الْعِلْمَ مُجْتَهِدًا ثُمَّ مُتَّ شَهِيْدًا وَدُفِنْتَ فِيْ أَحْسَنِ الْبِقَعِ فِي الْأَرْضِ بَعْدَ الْحَرَمَيْنِ وَبَيْتِ الْمَقْدِسِ. رَجَائِيْ يَا صَدِيْقِيْ, أَنْ يَجْمَعَنَا اللهُ فِيْ فِرْدَوْسِهِ الْأَعْلَى مَعَ جَدِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, آمين… آمين… “.

“Selamat wahai Putera Jakfar. Sungguh engkau telah hidup mulia, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, mati dalam keadaan Syahid lantas kau dimakamkan di tempat terbaik di bumi setelah Haramain dan Baitul Maqdis. Harapanku sahabatku… Semoga Allah mengumpulkan kita di Surga Firdausnya yang tinggi bersama kakekmu Muhammad saw, Aamiin, Aamiin…”

Bersambung ke Mendadak Ke Tarim Bagian 7


(Visited 141 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.