Sumber: https://finance.detik.com/Sumber: https://finance.detik.com/

Di balik larangan mudik lebaran tahun ini, banyak sekali kisah pilu orang-orang yang berjuang untuk kembali ke kampung halaman. Sebelum berbicara tentang rasa takut akan penyebaran COVID-19, ada baiknya kita berbicara tentang rasa kemanusiaan.

Seorang perempuan muda yang ingin mudik ke kampung halaman menangis saat diminta putar balik oleh petugas karena tidak memiliki surat keterangan bebas COVID-19. Diketahui, perempuan tersebut hendak mudik ke Lampung menggunakan sepeda motor namun dihadang petugas di pos penyekatan kawasan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Banteng, Selasa (4/5/2021).

Perempuan itu mengaku sudah tidak punya pekerjaan karena terkena PHK. Hal itu membuat dirinya sudah tidak memiliki penghasilan sehingga memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Pada akhirnya, pengendara motor wanita tersebut diizinkan untuk melintas dan melanjutkan perjalanan ke kampung halaman oleh petugas.

Seorang pemudik di Bali, Muhamad Alfan (29), sempat menangis merindukan sang anak di kampung halaman. Dia pun nekat menumpang dan bersembunyi di bak truk untuk bisa kembali ke tempat asalnya di Jember, Jawa Timur, Kamis (6/5/2021). Muhamad Alfan mengaku baru menerima gaji dan ingin pulang bertemu anaknya yang sakit.

“Anak saya sakit dan saya baru dapat gaji. Setahun ini pun saya belum pulang,” kata Alfan, seperti dilansir Tribun Bali. “Tadi saya sudah di pelabuhan, tetapi disuruh pulang. Saat putus ada dan harus kembali, saya berpapasan dengan truk yang mengarah ke Jember kemudian saya ikut,” ungkapnya.

Sementara sang sopir truk, Rahman, mengaku dirinya melihat pemudik itu menangis ketika berada di Denpasar. Hal itu membuatnya kasihan dan mengizinkan pemudik itu beserta sepeda motornya naik ke truknya. “Saya murni kasihan. Saya tidak pungut biaya apa pun,” katanya.

Satu keluarga dari Gombong, Jawa Tengah, nekat mudik dengan berjalan kaki ke Soreang, Kabupaten Bandung. Setelah berjalan enam hari, keluarga yang membawa dua anak ini telah sampai di Ciamis, Jumat (7/5/2021).

Saat ditemui di sekitar Jalan Ahmad Yani, Dani (39) dan istrinya Masitoh Ainun Lubis (36) membawa kedua anaknya Manta (3 tahun) dan Hanum (1,5 tahun). Mereka terlihat tengah berbicara seorang pria yang menawarkan tumpangan.

Dani mengaku berangkat dari Gombong pada Minggu sore. Berbekal tas ransel hitam dan uang Rp 120 ribu, dia nekat membawa istri dan kedua anaknya untuk pulang ke kampungnya lantaran sudah tidak memiliki lagi pekerjaan. Sebelumnya, dia bekerja di sebuah perusahaan konveksi dan kini sudah berhenti.

“Di sana sudah tidak ada lagi pekerjaan, tidak punya apa-apa. Jadi memutuskan untuk pulang ke Soreang. Tidak akan ke sana lagi, mau menetap di Soreang,” ujar Dani.

Dalam perjalanannya, Dani sekeluarga biasa beristirahat di SPBU atau masjid yang ada di sepanjang jalan. Dalam sehari, mereka bisa berjalan sejauh 25-30 kilometer. Berhenti pada malam hari untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan setelah subuh.

“Alhamdulillah selama perjalanan berjalan lancar, tidak ada hambatan. Banyak juga orang-orang baik yang memberi bekal dan makanan saat di jalan,” ungkapnya.

Dani mengaku terpaksa berjalan kaki karena tidak memiliki ongkos untuk naik angkutan umum. Terlebih saat ini angkutan pun dihentikan karena larangan mudik.

Dani pun mengaku tidak meminta bantuan ke pemerintah karena trauma. Ia memiliki pengalaman tahun sebelumnya saat berjalan kaki pulang kampung tapi dianggap modus. Kini pun ia akan menghindar saat ada petugas pengamanan mudik. Jika tidak ada kendala, Dani memperkirakan akan sampai ke Soreang Bandung pada hari kedua lebaran.

Sahabat narasi, larangan mudik adalah aturan yang perlu ditegakkan dalam rangka mengurangi risiko penyebaran COVID-19. Namun, ada baiknya jika kita menghadapi fenemona orang-orang mudik dengan sedikit rasa kemanusiaan.

Sejumlah netizen mengatakan, “Daripada melarang dan selalu melarang orang-orang untuk mudik, kan bisa membantu mereka menjalani rapid test antigen atau GeNose atau apapun lah. Toh mereka juga belum tentu membawa virus COVID-19. Aturan perlu ditegakkan, tetapi pemudik itu manusia. Karena itu, manusiakanlah mereka.” []

(Visited 68 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Larangan Mudik dan Rasa Kemanusiaan yang Terusik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.