Siang itu aku duduk selonjoran di pelataran masjid. Lumayan, masih ada waktu 30 menit sebelum “kembali ke laptop”. Tiba-tiba seorang laki-laki seumuran denganku duduk sekitar 1,5 m di samping kananku.
“Mudik, Bang?” tanyaku. Ia tampak sibuk dengan tas dan dua dus yang dibawanya.
“Iya nih… Mumpung belum kena larangan mudik,” jawabnya sambil tersenyum.
“Oh iya betul… Mudik ke mana, Bang?” tanyaku.
“Riau, Mas…” jawabnya.
“Tahun lalu mudik?” Aku penasaran. Aku sih nggak mengenal mudik karena keluargaku memang berada di Jabodetabek.
“Nggak Mas… Makanya tahun ini harus pulang. Masa mau jadi Bang Toyib nggak pulang-pulang?” Kami pun tertawa.
“Kok bisa mudik lebih awal? Ambil cuti atau gemana?” Jiwa jurnalisku tertantang untuk menggali lebih banyak informasi.
“Nggak cuti. Saya kan kerja administrasi keuangan di toko bangunan. Kebetulan Si Koko baik orangnya. Saya dikasih izin mudik lebih awal dan nanti balik setelah masa larangan mudik berakhir,” jelasnya.
“syukurlah!” jawabku. “Emang mudik itu harus banget ya, Bang?” Aku ingin tahu apa yang ada di pikirannya.
“Oh, harus lah… Ini kan tradisi ritual para perantau. Bukan hanya untuk melepas rindu, kadang sebagian orang ingin menunjukkan bahwa mereka telah berhasil di rantau, tapi bukan pamer, ya?” ia berusaha menjelaskan.
“Beda tipis itu,” jawabku dengan nada bercanda.
“Mungkin juga, hehe… Gemana ya? Kita kan menyisihkan rupiah demi rupiah untuk mudik setiap tahunnya. Di daerah asal saya, perantau itu dianggap punya strata sosial lebih tinggi di kampung halaman. Seperti challenge gitu, Mas… Kalau belum berani mudik, kadang dianggap belum berhasil di rantau atau udah nggak mau lagi kembali karena udah tidak ada sanak saudara.” Penjelasannya membuatku mengangguk-angguk.
“Oke deh Bang Toyib, semoga selamat dalam perjalanan sampai ke kampung halaman. Saya duluan, ya?” Aku pun pamit. []


Suka…. Suka… Aku jg tunggu Bang Thoyib pulang ……😍😍😍