Oleh: Sumardi
Kisah nyata ini memang benar-benar nyata. Tokoh dan deskripsi ini sengaja disamarkan untuk keperluan penulisan ini saja. Substansi atas kisah ini benar adanya. Konon ada Aparatur Sipil Negara bernama Sontoloyo. Dia lahir dan besar di bilangan Kalioso, Jawa Tengah. Si Sontoloyo kecil ini sebagaimana anak desa lainnya selain sekolah juga bekerja membantu orang tuanya. Pekerjaan menggembala kambing, sapi dan mencari rumput adalah ritual kesehariannya. Sesekali dia juga membantu ayahnya mencangkul, mencabut bibit padi dan menanamnya serta meyiangi rumput yang tumbuh di sekitar tanaman padi. Tidak lupa di masa panen padi, Si Sontoloyo remaja membantu ayahnya memanen padi dan mengantarkan gabah kering untuk dibawa ke mesin penggilingan di dekat rumahnya. Bapak dan Ibunya bukanlah petani kaya yang mempunyai sawah berhektar-hektar sebagaimana petani lain. Orang tua hanyalah petani penggarap yang hanya memiliki beberapa petak saja, itupun bukanlah sawah miliknya.
Untuk masalah sekolah Sontoloyo kecil ini memang mempunyai semangat luar biasa. Pendidikan dasar dan tingkat pertamanya diselesaikan di sekitar kota kecamatannya. Lalu dengan prestasi yang diraihnya dia berhasil menembus SMA Negeri di Kota Solo, sebuah keberhasilan sekaligus kebanggaan remaja desa di kala itu. Ternyata selepas SMA prestasi demi prestasi diraihnya. Tak heran kalau teman-teman sepermainnya berdecak kagum dan tidak pernah membayangkan mengapa Si Sontoloyo begitu cemerlang dan melesat bagaikan meteor. Sekolah Tinggi di lingkungan Kementerian Keuangan kedinasan dilibasnya hingga mengantarkan dia sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kota Semarang. Dia semakin membuat teman-temannya melongo kagum. “Anak orang miskin dan orang desa kok bisa kuliah kedinasan gratis di Jakarta dan sekarang menjadi PNS di Lembaga bergengsi. Sontoloyo hebat ya….”, begitu gumam masyarakat desa kala itu. Tidak heran kalau banyak orang tua di desa ingin mengambil si Sontoloyo sebagai anak mantunya untuk dijodohkan dengan anak gadisnya.
Si Sontoloyo mulailah menikmati keberhasilan sebagai orang desa yang bekerja sebagai PNS di Lembaga penting di Kota Semarang. Dia sering melakukan perjalanan dinas dari satu kota ke kota lain, dari satu kantor ke kantor lain. Sebuah pekerjaan mulia karena melakukan pengawasan atas penyimpangan yang terjadi di berbagai instansi. Sanjungan demi sanjungan sering ia terima dari teman-teman mainnya dan teman sekolah di kala kecil. Namun demikian sanjungan tersebut tidaklah membuatnya mabuk kepayang sehingga terlena. Setelah nikah dan mempunyai satu anak laki-laki dia melanjutkan jenjang Pendidikan Strata-1 di Universitas Diponegoro Semarang sambil tetap bekerja sebagai PNS hingga lulus. Setelah mempunyai anak kedua, si Sontoloyo ini tetap tidak puas dengan prestasi yang diraihnya, lalu melanjutkan kuliah lagi di Program Pascasarjanan di Undip juga sampai mendapatkan gelar Magister Sains di bidang Akuntansi.
Si Sontoloyo anak desa ini memang lain dari yang lain. Selalu bersemangat dan mengutamakan pendidikan untuk menopang kesuksesan hidupnya. Pikirannya selalu berkecamuk untuk meningkatkan kemampuannya. Dalam pekerjaan sehari-hari di kantorpun juga disenangi oleh kolega dan atasannya karena terkenal rajin, sopan, dan pantang menyerah. “Kinerjanya bagus, baik, jujur dan banyak Ketua Tim yang mau bekerja dengan dia”, kata seorang atasannya pada suatu saat. Si Sontoloyo mudah bergaul dengan rekan kerja dan atasannya, menerima apa adanya dan selalu mengutamakan kedisiplinan dalam bekerja. Tidak aneh jika Sontoloyo ini termasuk pegawai muda yang menjadi andalan bagi timnya.
Oleh karena kinerjanya yang bagus pantaslah karirnya bagus juga. Tidak lama setelah menjadi Anggota Tim, dia dipromosikan sebagai Ketua Tim. Tak lama kemudian dia dipindahkan ke Kota lain dan naik posisi menjadi Pejabat Eselon IV sebagai Kepala Subbagian. Tidak butuh waktu lama kemudian naik lagi dalam jabatan Kepala Bagian (Eselon III) di Kantor Pusat Jakarta. Lagi-lagi tidak perlu waktu lama Si Sontoloyo sudah bertengger di posisi setara dengan Direktur/Kepala Biro atau Eselon II di Lembaga independen bergengsi. Semua karir yang dilalui oleh Sontoloyo diperoleh tanpa harus melakukan kasak-kusuk dengan penggede penentu keputusan, membawa buah tangan kepada pejabat penting dan memberikan sejumlah uang sebagai gratifikasi untuk membeli jabatan atau harus melakukan lobby-lobby khusus kepada pejabat penting. Semua jabatan yang dilaluinya tanpa membayar sepeserpun. Apalagi menggunakan koneksi tertentu untuk mendapatkan jabatan tidak dilakukannya, karena memang tidak mempunyai koneksi seorang pejabat penting satupun.
Terlepas dari semua itu Sontoloyo merupakan manusia biasa, tentu saja banyak kelemahannya. Sontoloyo muda ini sering emosional dalam menanggapi suatu permasalahan. Semua pekerjaan kantor ingin segera diselesaikan sehingga seringkali terkesan terburu-buru di mata para stafnya. Cenderung keras dengan nada galak gaya bicaranya terhadap para bawahannya maupun terhadap koleganya, jika terdapat suatu yang menyimpang dari kelaziman atau ketentuan. Walaupun sebenarnya hal itu hanya sekedar gaya bicaranya saja. Substansinya Sontoloyo adalah pribadi yang baik dan selalu mengutamakan konsistensi terhadap peraturan, integritas dalam bersikap dan berperilaku. Tidak aneh jika Sontoloyo muda ini kadangkala juga tidak disukai oleh rekan-rekan sejawatnya bahkan atasannya. Bahkan pernah suatu ketika Sontoloyo bersitegang dengan atasannya karena melihat adanya praktik di kantor yang tidak sesuai dengan praktik yang lazim dan peraturan perundang-undangan. Tentu saja Sontoloyo faham sekali konsekuensi yang bakal diterimanya sebagai dampak dari “konflik” dengan atasannya.
Sontoloyo sesungguhnya merupakan pribadi yang baik. Dia selalu mengutamakan kebersamaan para stafnya. Kekompakan tim adalah menjadi value pribadinya termasuk punctuality. Dia bersedia berkorban untuk membela para staf jika memang posisinya benar. Hal lain lagi yang tidak dilupakan adalah selalu memotivasi dan menginspirasi para bawahannya untuk terus meningkatkan kapasitas kompetensi dan kualifikasinya. Sikap professional dan obyektif juga selalu menjadi referensinya. Itulah ASN bernama Sontoloyo ….dari Sontoloyo kita semua bisa belajar yang baik dan tidak baik. Oh Sontoloyo……………..
Penulis : Pegawai BPKP dala m Penugasan sebagai Asisten Komisioner KASN RI

Sangat menarik… Banyak himah yang bisa petik. Judulnya bikin penasaran.