Oleh: Sumardi

Pagi itu hari Rabu awal Juni 2021 penulis bersama anggota tim berangkat untuk melakukan perjalanan dinas  ke Kota Salatiga. Hari itu memang sengaja saya tidak menggunakan moda transportasi udara dengan alasan ingin menikmati pemandangan indah di kanan kiri jalur rel kereta api Jakarta-Semarang. Hamparan sawah yang menghijau, ritual gegap gempitanya rakyat kecil memanen padi yang telah menguning serta deretan perkampungan yang menampakkan keaslian dan sebagian lagi telah diintervensi  oleh kemajuan zaman seolah-olah lebih menarik pilihanku hari ini bersama moda kereta api alias si ular besi.

Penulis sering naik kereta untuk sebuah perjalanan dinas atau perjalan bersama dengan keluarga untuk alasan refreshing. Namun perjalananku kali ini berbeda sekali dari biasanya. Begitu melihat stasiun kereta api Gambir dengan segala asesorisnya serta rel kereta api yang tidur membujur keras dan congkak, memoriku melayang jauh sekali ke masa tiga belas tahun yang lalu. Pada masa itu penulis merupakan salah satu pelanggan jasa transportasi kereta api. Pertimbangannya hanya satu murah dan lebih cepat sampai di kota tujuan. Pada saat itu penulis bermukim di Jakarta sedangkan keluarga berada di Semarang karena suatu alasan.  Maaf jangan tanya kenyamanan karena hal itu menjadi barang langka ketika naik kereta api kelas bisnis apalagi kelas ekonomi pada saat itu.

Pada zamannya PT KAI merupakan sarang kolusi. Pada level di bawah saya termasuk pelaku yang berperan sebagai penumpang yang ikut menyuburkan praktik jahat kolusi antara penumpang dengan kondektur kereta api. Penulis tidak perlu membeli tiket namun tetap bisa masuk gerbong kereta api. Ketika dilakukan pengecekan oleh kondektur penulis cukup membayar dua puluh lima ribu pada pos satu. Berikutnya lagi pada Pos Dua membayar dengan jumlah uang yang sama tentu dengan kondektur yang berbeda. Cara yang dilakukan adalah dengan menempel kondektur di sambungan gerbong atau bordes agar mereka tidak malu hati dengan penumpang lain. Kondektur untung sayapun juga untung membayar di bawah tarif tiket resmi sebesar serratus ribu rupiah sekali jalan. Mengapa hal itu dilakukan penulis karena dengan membeli tiketpun sering tidak mendapatkan tempat duduk. Jadi kebijakan KAI pada saat itu jumlah tiket dijual melebihi dari ketersediaan jumlah kursi pada setiap gerbong.     

Pemandangan miris terjadi pada saat itu. Banyak penumpang yang memenuhi koridor tempat yang seharusnya digunakan untuk lalu Lalang penumpang ke kamar kecil. Bahkan di sambungan gerbong dan di sekitar toiletpun penuh dengan penumpang yang berkolusi tadi. Belum lagi para pedagang asongan hilir- mudik menjajakan dagangannya ikut menambah kesemrawutan di dalam gerbong. Tidak hanya itu saja pengamen dan pengemis dengan sedikit memaksa ikut meramaikan riuhnya gerbong kereta api. Lengkap sudah penderitaan, kejorokan, kebrobrokan kereta api tiga belas tahun yang lalu. Tidak aneh kemudian timbul anekdot KAI sebagai perusahaan silahkan rugi tapi oknum pegawainya tetap subur makmur. Bisa dibayangkan berapa jumlah uang sogokan yang diterima kondektur saat itu. Kemana saja aliran uang sogokan itu, kita tidak tahu pasti.

Pemandangan di atas berbalik 360 derajat dengan kondisi saat ini. Di bawah kepemimpinan Pak Ignasius Jonan PT KAI mengalami transformasi yang luar biasa. Stasiun menjadi bersih dan tertib. Pedagang asongan, pengamen dan pengemis tidak bisa lagi masuk ke area stasiun dan gerbong kereta api. Pemberlakuan chek-in dengan nama yang sesuai dengan kartu identitas. Penjualan tiket sesuai dengan ketersediaan jumlah kursi sehingga tidak ada lagi penumpang duduk atau tidur di koridor. Penjualan tiket secara on line di berbagai  aplikasi. Semua memudahkan pelanggan untuk dapat mengakses jasa kereta api. Disamping cepat, real time juga memangkas antrian calon penumpang kereta api. Tidak kalah menariknya adalah semua kereta api dilengkapi dengan pendingin udara sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman. Ketepatan waktu juga menjadi prioritas yang dilakukan oleh Pak Jonan.         

Jonan memulai langkah perbaikan KAI dengan meningkatkan gaji pegawai agar kinerja mereka semakin meningkat. Dengan konsekuensi, tak ada lagi yang melakukan pekerjaan sampingan di KAI. Sehingga tidak ada kebocoran dana. Hal itu tentu berdampak pada kenaikan biaya perusahaan. Namun langsung dicover karena adanya kenaikan efisiensi. Peningkatan efisiensi yang terjadi lebih tinggi daripada peningkatan biaya kenaikan gaji. Selain itu, Jonan juga melakukan perbaikan kinerja. Reward and punishment benar-benar diterapkan bagi seluruh pegawai KAI. Hal ini meningkatkan kepercayaan stakeholder. Citranya yang murah senyum dan senang turun ke lapangan, namun ia keras dalam menjalankan disiplin. Tahun 2014, tercatat 200 karyawan PT KAI dipecat atau pensiun dini karena dianggap malas. Ia juga tidak mengenal kompromi saat menertibkan stasiun dari pedagang dan bangunan liar, dengan menggunakan bantuan aparat TNI. Tidak heran jika Jonan mampu membalikkan kerugian PT KAI sebesar 83,5 miliar di tahun 2008 menjadi keuntungan sejumlah 154,8 milyar Rupiah di tahun 2009. Bahkan di tahun 2013 PT KAI mampu mengambil untung sebesar 560,4 milyar Rupiah.   

Wajah kereta api di bawah Pak Jonan berubah total saat ini dari sebelumnya jorok dan semrawut menjadi bersih dan tertib. Hampir semua orang pengin naik kereta api karena nyaman,  tepat waktu dan relative aman. Tidaklah berlebihan jika penulis katakan Jonan telah menuliskan sejarah, Jonan melakukan transformasi dengan strong leadership-nya di PT KAI. Jonan membuat legacy untuk bangsa ini. Ternyata bangsa Indonesia bisa berubah,  bisa tertib dan bisa disiplin. Tanpa terasa perjalananku telah sampai stasiun Tegal. Untuk itu sampaikan Salam Hormat Tanpa Ralat untuk Pak Jonan. Terimakasih Pak Jonan….Semoga lahir Jonan Jonan yang lain yang siap berbakti untuk bumi pertiwi.

 

Argo Bromo Anggrek, 2 Juni 2021

Penulis : Mahasiswa S3 Ilmu Manajemen SDM Universitas Negeri Jakarta

(Visited 19 times, 1 visits today)

By Sumardi

One thought on “Hormat Tanpa Ralat Untuk Pak Jonan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *