Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau, mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu
kahlil Gibran
(Goresan buat putriku tersayang: Ravika Ressova Sastra Raihanuun).

Selepas naik Kelas 2 di SMPN 17 Makassar, banyak ukiran prestasi yang membanggakan orang tuamu, mewakili sekolah juara lomba story telling, terpilih sebagai pengibar bendera di sekolah yang mengantarmu masuk tim paskibraka SMPN. 17 Makassar.
Terpilih sebagai Sekretaris OSIS, kesemuanya itu harapan dan keinginanku yang ingin ada regenerasi organisatoris, aktivis.
Kegiatan sekolah selama pandemi membuatmu boring dengan belajar daring di rumah, saya paham dan tahu kamu sangat reaktif lincah, percaya diri, yang selalu bertanya dan berdiskusi dengan ayah, apabila ada sesuatu hal yang ingin kamu ketahui, terkadang sangat cerewet.
Suatu pagi di hari senin, sebuah permintaanmu yang membuat hatiku dilema, Ayah bosan kah tugas- tugas sekolah, saya mau masuk pesantren penghafal Al Qur’an.
Waduh, kamunya baru Kelas 2 nak sedikit lagi tamat SMP, muh nanti SMA sy kasih masuk pesantren. Ternyata keinginanmu itu tidak bisa lagi di tahan. Kalau itu pilihan mu saya hanya YES.
Dan, Sabtu besok, 6 Agustus 2021 adalah hari di mana untuk pertama kalinya saya harus mengantar mu masuk pondok. Sedih iya sebagai ayah saya akan tegar demi masa depan mu. Memang benar, ayah adalah cinta pertama anak perempuan yang ditemui nya pertamakali dalam hidupnya dan akan selalu jadi cinta pertama dan terakhir.
Tak terasa kamu bertumbuh jadi gadis remaja.
Ingat pesan nenekmu nak
Malai bukurupa ricaué, mappalimbang ri majé ripanganroé
Artinya: “memalukan kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan”.
Dikalahkan dalam perjuangan hidup karena keadaan memaksa memang memalukan.
Sedangkan takluk, sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tak memiliki harga diri sama halnya mati.. Ingat pesan leluhur,
engka tu petti ulaweng murenge.
Untuk menengkah jiwaku yang tak sanggup apabila melewati kamarmu, akan ku eja dan baca ulang puisi ini, nama kakakmu terinspirasi dari Gibran,
Raihan Ilmi Sastra Gibran.
Teringat goresan tulisan puisi Kahlil Gibran,
Anakmu Bukanlah Milikmu
(Kahlil Gibran)
Anak adalah kehidupan,
Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal Darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan Pikiranmu
karena mereka Dikaruniai pikiranya sendiri
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
Karena jiwanya milik masa mendatang
Yang tak bisa kau datangi
Bahkan dalam mimpi sekalipun
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan Tidak tengelam di masa lampau.
Kaulah busur,
Dan anak – anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya,
hingga anak panah itu meleset,
jauh serta cepat.
Meliuklah dengan sukacita
Dalam rentangan Sang Pemanah,sebab Dia
Mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat,
Sebaimana pula dikasihiNya busur yang mantap
(the prophet).
Ravika Ressova Sastra Raihanuun,
Kupasrahkan arah anak panahku, sudah kubidik sasaran yang tepat buatmu, bersama ikhtiar dan doa doaku, biarlah sedih ini sebagai pengingat kecintaanku padamu Ravika Ressova SASTRA Raihanuun.
Komp. Unhas, 6 Agustus 2021.
Busur

