Oleh Rismawati

Sejak muncul beberapa tulisan teman-teman di media online www.bengkelnarasi.com, terasa ada energi mengalir dalam jiwaku yang mengusik kesadaranku. Salah satu tulisan yang paling sering membuatku bangun dari mimpi adalah goresan penanya sahabatku ibu Besse Risma yang banyak mengisahkan perjuangan dan ketegaran hatinya menghadapi gelombang kehidupan.

Terlebih setelah membaca buku “21 Hukum Kesuksesan Sejati” karya sang inspirator bapak Ruslan Ismail Mage. Dijelaskan sebuah kalimat inspiratif yang membuatku merasa berada didalamnya bahwa, “Pemenang adalah orang yang berpikir dan berjuang, sementara pecundang adalah orang yang bermimpi dan diam tanpa gerak”. Seketika dadaku berdegup kencang, merasa dirikulah pecundang itu. Sekian lama aku hanya berdiam dalam ribuan rasa tanpa gerak.

Kini rasanya aku terbangun dari mimpiku untuk segera bergerak meraih bintang di atas sana. Aku berusaha meninggalkan khayalan itu lalu kemudian terus berpikir mendesain peta dalam meraih mimpiku.

Kutulis mimpiku bait demi bait tentang kisah penantian panjangku datangnya malaikat kecil dalam kehidupanku. Sambil mengikuti gerak penaku, tidak terasa butiran-butiran bening sudah mulai berbaris di sudut mataku, hingga tak kuasa menahan jatuh satu-satu membasahi kertas putih seputih harapanku.

Sambil memegang pena, tiba-tiba melintas dalam pikiran kalimat hinaan yang sering dilempar kepadaku disebut mandul. Satu kata ini benar-benar menyayat hati. Walaupun sangat menyakitkan, tetapi aku masih bisa membalasnya dengan senyuman manis.

Hinaan seperti itu tidak pernah akan membuat harapanku surut. Saya yakin dengan Tuhanku bahwa inilah jalan takdirku yang harus kulewati. Bukankah di ujung air mata pasti ada senyum bahagia. Bahasa alam mengajarkan “selalu ada pelangi setelah datangnya hujan”.

Sungguh keyakinanku takkan bergeser bahwa sang penciptaku telah menyiapkan kado terindah di dalam hidupku. Jadi saya tidak perlu lagi meratapi apa yang belum kumiliki saat ini, tetapi mensyukuri dengan doa-doaku telah banyak dikabulkan-Nya.

Jika bertemu dengan orang yang tega menghakimi dengan kata hinaan yang merendahkan, saya tinggal mengurut dada dan langsung mengingat pesan dalam buku “21 Hukum Kesuksesan Sejati” yang mengatakan “Jadilah emas jangan menjadi debu, dan kemurniaan emas sangat ditentukan oleh suhu api yang membakarnya. Semakin tinggi suhu apinya semakin murni emas itu”.

Menurut buku itu, hinaan, ejekan, direndahkan, dilecehkan, di pandang sebelah mata, diabaikan, dimarahi, adalah api-api yang setiap saat mengelilingi kita. Kalau memilih menjadi emas, jadikan orang yang menghinamu sebagai api yang membakar semangatmu menjadi sukses.

Setelah membaca buku itu, saya tidak akan pernah ragu akan datangnya kebahagiaan itu. itulah pengharapan sebagai penyemangat diri. Torehan luka di kalbuku ini terkadang membuatku terbangun dalam lelapnya tidurku. Dalam sujudku terus memohon Ridho-Nya, ya Allah ya Robb, kabulkanlah harapan hamba-Mu. Kirimkanlah malaikat atau bidadari kecil ke dalam pangkuanku, menyanyikan lagu cinta dan kasih sayang dalam rumah tangga kami. Aminnn

(Visited 167 times, 1 visits today)
3 thoughts on “Terbangun dari Mimpi”
  1. Ada trik u mendapat momongan silahkan
    Menjadi pendonor Darah dan memberi makan 40 anak yatim dg niat yg ikhlash anggap sebagai ikhtiyar .Doa Terbaik u ibu Risma semoga Allah memberikan Bidadari kecil yg menjadi impiyannya selama ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.