Tradisi lisan, budaya lisan dan adat lisan adalah pesan atau kesaksian yang disampaikan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pesan atau kesaksian itu disampaikan melalui ucapan, pidato, nyanyian, dan dapat berbentuk pantun, cerita rakyat, nasihat, balada, atau lagu. Wikipedia

wikipedia

John Foley, menyebut bahwa tradisi lisan telah menjadi tradisi manusia zaman dahulu yang ditemukan di “seluruh penjuru dunia”. Arkeologi modern telah mengungkap bukti upaya manusia untuk melestarikan dan menyebarkan seni dan pengetahuan yang bergantung sepenuhnya atau sebagian pada tradisi lisan, di berbagai budaya.

Di Indonesia terdapat sekitar 4.521 tradisi lisan yang memerlukan perlindungan.( kompas.id. 2020-07-17)
Hal itu dikarenakan arus globalisasi yang berdampak pada ditinggalkannya tradisi lisan.Di Asia penyebaran cerita rakyat, mitologi serta kitab suci di India kuno, dalam agama India yang berbeda, dilakukan dengan tradisi lisan, yang dipelihara dengan tepat.

Tradisi Lisan Masyarakat  Bugis

Memory kita flash back masa kecil, ketika diayunan sang ibu melantunkan nyanyian yang kurang lebih judulnya adalah “iya be lale atinrono ana”, lantunan ini mengisyaratkan bahwa seorang ibu dapat menidurkan anaknya dengan nyenyak.

Sebait lantunan pujian sang ibu yang bermakna, bahwa kasih sayang tidaklah mesti diukur dengan materi, tetapi kasih sayang bisa dengan dekapan nyanyian.

Tradisi ini kemudian mulai tergerus, kita tak lagi dapat mendengar syair dari sosok ibu yang duduk dibalai depan rumah (lego-lego, rumah bugis). Lego-lego adalah bagian terdepan dari rumah bugis makassar, yang biasanya disitu keluarga bisa beristirahat, bersenda gurau, kadang diantara mereka saling membalas pantun. Tradisi lisan menjadi petanda hubungan kekerabatan diantara masyarakat.

Tradisi lisan memang tak banyak dibincangkan ditengah kemajuan sains dan teknologi. *Jan Vansina* pun sebagai budayawan dan sejarahwan dari Belgia, yang hasil risetnya mendunia pun banyak mengalami kritik dari beberapa tokoh ketika ia mengatakan bahwa tradisi lisan itu adalah sebagai sejarah.

Bukan tanpa alasan bagi Vansina, sebab ia katakan dari tradisi lisan itu lahir satu peradaban dimana masyarakat bercocok tanam, saling berinterakai, berkembang biak, mereka juga membangun pranata sosial sebagai anutan bersama.

Oleh sebab itu, perjalanan generasi yang terus begerak dari generasi milenial menuju generasi Z, akan sangat memungkinkan terjadinya patahan sejarah ketika tradisi masa lalu, termasuk tradisi lisan “hilang”.

Asumsi ini sangat diakibatkan oleh karena generasi milineal dengan bersandar pada kehidupan tehnologi, dari perkara style atau gaya hidup sampai pada pola perilaku dan kecerdasan, tidak menutup kemungkinan (mungkin saja), melahirkan karakter individualistik, bahkan memper-Tuhan-kan alat komunikasi dibanding al qur’an, al kitab dan catatan sejarah lainnya.

Nah, tentu menjadi perhatian bersama, bahwa kemajuan tehnologi tak akan mungkin tertolak, zaman terus bergerak menemui puncak misterinya. Guru, orang tua, telah tergantikan posisinya dengan smartphone, gadget, dengan berbagai macam aplikasi yang dimilikinya.

Anak-anak kemudian sepi dari pesan-pesan moral dari sang orangtua, tergsnti oleh pesan pesan lewat medsos yang menembus dinding dinding rumah kita, seharusnya benteng pertahanan terakhir kita adalah rumah didalamnya ada keluarga namun fungsi itu jebol oleh keras dan kencangnya serbuan teknologi.

Fenomena tradisi lisan memang menjadi hal yang perlu dibumikan, mengingat kemajuan tehnologi dan jumlah ummat manusia yang semakin banyak, justru menjadikan dunia ini semakin sepi dan sunyi.

Bukankah sebuah proses pengetahuan dimulai dari tradisi lisan ? yah, Socrates ke muridnya Plato dan Xenophone semuanya dimulai dari tradisi lisan.

Rasulullah Muhammad SAW pun menerima wahyu dengan *Iqra* bacalah, juga dimulai dari tradisi lisan, dari malaikat Jibril termasuk para nabi-nabi yang lainnya.

Karenanya, dalam kehidupan yang serba kompleks ini, tradisi lisan sebagai bagian dari transformasi pengetahuan teruslah di sosialisasikan dan disebarkan di share lewat medsos dan media lainnya, sebab tanpa tradisi lisan maka kata-kata pun tak bermakna.

Makassar 25 Agustus 2021

Koleksi sdm

Sudirman muhammadiyah

(Visited 58 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.