#penguasaancinta #themasteryoflove

Ini juga berlaku untuk suatu hubungan yang sederhana antara seorang pria dan seorang wanita. Wanita itu memiliki kepribadian luar untuk ia tampilkan ke orang lain. Tetapi ketika dia sendirian, dia memiliki kepribadian lain dari dirinya. Pria itu juga memiliki kepribadian luar dan kepribadian dalam. Pada saat mereka dewasa, kepribadian dalam dan kepribadian luar begitu berbeda sehingga kedua kepribadian itu tidak ada kecocokan lagi.

Dalam suatu hubungan antara seorang pria dan wanita, setidaknya ada empat kepribadian. Bagaimana mereka bisa benar-benar mengenal satu sama lain? Tentu saja mereka tidak saling mengenali satu sama lain. Mereka hanya bisa mencoba untuk saling memahami kepribadiannya. Tetapi lebih banyak kepribadian yang harus dipertimbangkan.

Ketika seorang pria bertemu seorang wanita, pria itu membuat citra wanita itu menurut sudut pandangnya, dan begitu juga wanita itu membuat citra pria itu menurut sudut pandangnya. Kemudian pria itu berusaha membuat wanita itu sesuai dengan citra yang dia harapkan dari wanita itu, dan wanita berusaha membuat pria itu sesuai dengan citra yang dia buat untuk pria itu.

Don Miguel Ruiz

Sekarang ada enam citra di antara mereka. Tentu saja, mereka berbohong satu sama lain, walau mereka tidak tahu mereka berbohong. Hubungan mereka didasarkan pada ketakutan; berdasarkan pada kebohongan. Hal ini tidak didasarkan pada kebenaran. Mereka tidak dapat melihatnya karena terhalang oleh semua kabut kebohongan.

Dalam periode ketika kita masih anak-anak, tidak ada konflik dengan kepribadian keberpura-puraan. Citra kita tidak benar-benar ditantang sampai kita mulai berinteraksi dengan dunia luar dan tidak lagi memiliki perlindungan dari  orang tua kita. Itulah sebabnya mengapa menjadi seorang remaja sangat sulit. Walaupun kita sudah berusaha mendukung dan membela citra diri kita, segera setelah kita mencoba menunjukkan citra diri kita ke dunia luar, dunia mulai melawan kembali. Dunia luar mulai membuktikan kepada diri kita, bukan hanya secara pribadi, tetapi secara umum, bahwa diri kita bukanlah yang sesungguhnya.

Mari kita ambil contoh seorang remaja yang berpura-pura menjadi seseorang yang sangat cerdas. Dia pergi ke dalam suatu perdebatan atau diskusi di sekolahnya. Dalam perdebatan itu, ada seseorang yang lebih cerdas dan lebih siap sehingga dia memenangkan perdebatan. Itu membuat dia terlihat konyol di depan semua teman-temannya.

Dia berusaha menjelaskan dan meminta maaf serta membela citra dirinya di depan teman-temannya. Dia bersikap baik kepada semua orang dan mencoba menyelamatkan citra dirinya di depan mereka, tapi dia tahu dia berbohong. Tentu saja, ia mencoba yang terbaik untuk tidak menjatuhkan citra dirinya di depan teman-temannya, tapi begitu dia sendirian dan melihat kepada dirinya di cermin, dia mencaci-maki dan memecahkan cermin itu. Dia membenci dirinya sendiri; Ia merasa bahwa ia begitu bodoh, bahwa ia adalah yang terburuk. Ada perbedaan besar antara citra dalam dirinya dan citra yang ingin ia tunjukkan ke dunia luar. Semakin besar perbedaan, semakin sulit untuk beradaptasi dengan mimpi masyarakat, dan semakin sedikit rasa cinta yang ia miliki untuk dirinya sendiri.

Antara citra keberpura-puraan dan citra dalam dirinya ketika dia sendirian merupakan suatu kebohongan dan lebih banyak kebohongan lagi. Kedua citra itu benar-benar tak tersentuh oleh realitas. Itulah kesalahan, tetapi dia tidak merasakan itu. Mungkin orang lain bisa melihat itu, tetapi ia benar-benar buta. Sistem penolakan mencoba untuk melindungi luka itu. Namun, luka itu nyata dan dia terluka karena dia berusaha keras untuk mempertahankan citra dirinya.

Ketika kita masih anak-anak, kita belajar bahwa pendapat orang lain itu penting, dan kita menjalankan hidup kita sesuai dengan pendapat-pendapat itu. Pendapat yang sederhana saja dari seseorang dapat menempatkan diri kita jauh lebih dalam masuk ke dalam neraka, pendapat yang bahkan tidak benar. “Anda terlihat jelek, Anda salah, Anda bodoh..”

Pendapat itu memiliki banyak kekuatan terhadap perilaku omong kosong seseorang yang tinggal di dalam neraka. Itulah alasan bagaimana dan mengapa kita perlu mendengar bahwa kita orang yang baik, kita melakukan pekerjaan dengan baik, bahwa kita pantas. “Bagaimana penampilanku? Bagaimana dengan apa yang aku katakan? Bagaimana dengan yang aku lakukan?”

kita perlu mendengar pendapat orang lain karena kita telah ditundukkan dan kita dapat dimanipulasi oleh pendapat orang tersebut. Itulah sebabnya kita mencari pengakuan dari orang lain; kita membutuhkan dukungan emosional dari orang lain; kita merasa butuh diterima oleh mimpi masyarakat luar, yaitu melalui orang lain. Itulah sebabnya remaja minum alkohol, menggunakan narkoba, atau mulai merokok. Hanya untuk bisa merasa diterima oleh orang lain yang memberikan pendapat tersebut; dan hanya untuk mendengar bahwa diri kita “menyenangkan”.

Begitu banyak manusia menderita karena menampilkan semua citra kepalsuan yang coba mereka tampilkan. Manusia berpura-pura menjadikan dirinya menjadi seseorang yang sangat penting, tetapi pada saat yang sama kita percaya bahwa kita bukanlah apa-apa.

Kita bekerja keras untuk menjadi seseorang dalam mimpi masyarakat, untuk diakui dan disetujui oleh orang lain. Kita berusaha keras untuk menjadi orang penting, untuk menjadi seorang pemenang, menjadi orang yang tangguh, menjadi kaya, merasa terkenal, untuk menunjukkan impian pribadi kita, dan untuk memaksakan impian kita kepada orang lain di sekitar kita. Mengapa? Karena manusia percaya bahwa mimpi itu nyata, dan kita menanggapinya secara serius. []

(Visited 21 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Pikiran yang Terluka #5”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.