Oleh : Imam Abdullah El- Rashied

Sejauh apapun jarak menghakimi, setahuku rumahmu adalah hati ini.

Sejauh apapun khayalan berkelana, engkau adalah ujung dari tujuannya.

Sebanyak apapun asa dan do’a yang dieja, engkau adalah yang terpenting untuk dipinta.

Kau, puncak pengharapan, inti segala permintaan, dan ujung dari jauhnya pengelanaan.

Kau, bagiku adalah arah pulang, gubuk mencari tenang, dan akhir dari segala bimbang.

Kau, aku, dan harapan yang tertusuk pilu, hati yang merindu, dan jarak yang enggan dirayu.

Kita, sebuah kisah dalam roman cinta, entah tentang tercapainya sebuah asa, atau perjalanan dari sekumpulan nestapa.

Kita, pengetuk pintu pengkabulan, dengan do’a-do’a yang dirajut dari sejuta pengharapan, mendekap segala keresahan, dan menghirup sesaknya perpisahan.

Kita, sebuah asa yang selalu terucap, sebuah do’a dalam setumpuk harap, dan sebuah rindu yang hendak mendekap.

Peternak Rindu
Tarim, 1 Oktober 2021.

(Visited 43 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.