Oleh: Tammasse Balla
Lebih seperempat abad lalu, jarak waktu yang tak pendek. Hari itu ada acara penting. Tanggal 9 September 1996, sebanyak 77 Dokter Baru Unhas sedang diyudisium dan diambil sumpahnya.
Selesai acara, semua Dokter Baru yang baru saja diambil sumpahnya berfoto bersama keluarganya. Di panggung utama acara Penyumpahan Dokter, hadir pula seorang “gadis kecil” berumur 1 tahun. Ia digendong ayahnya untuk menyaksikan ibunya berselempang Atribut Dokter Umum. Anak kecil itu ikut larut merasakan nuansa gembira waktu itu. Mungkin saja ia belum mengerti apa-apa yang sedang terjadi. Ia selalu senyum-senyum kecil dengan mata jelalatan memandang sekelilingnya. Hampir semua teman ibunya mencubit manja pipinya karena gemas melihatnya.
Anak kecil itu seperti ikut merasakan “udara merdeka” karena selalu ditinggal ibunya. Sang ibu sibuk menjalankan Co-Ass di berbagai rumah sakit di Makassar. Kesehariannya hanya berteman Ayah, Indo Sang (nenek buyut), dan Tante Uci yang masih bersekolah di SD. Matanya berbinar-binar menatap tiap orang lewat. Tangannya selalu awas. Rangkulannya tak sekali pun mau lepas dari gendongan. Baju warna pink agak tipis pas di badannya yang ceking. Matanya melotot menyaksikan Baruga Andi Pangerang Pettarani diselimuti manusia. Jika ada orang lain mau menggendongnya, tangannya tak mau lepas dari leher ayahnya.
Setahun usianya, setahun pula selalu ditinggal ibunya karena tugas Co-Ass. Umurnya baru 7 hari, ibunya masuk kembali menjalankan keseharian sebagai mahasiswa Co-Ass. Belum sempat menikmati indahnya pelangi dengan ASI. Belum ingin rasanya melepas kehangatan suhu badan ibunya. Apa boleh buat, hanya Allah yang tahu kondisi waktu itu.
Ayahnya tidak tinggal diam melihat kondisi itu. Prinsipnya bahwa tugas Co-Ass tetap berproses, si kecil juga tetap minum ASI. “Silakan masuk kembali Co-Ass. Jangan pikir si kecil. Hanya ada dua hal yang tidak bisa kutanggung, yaitu ASI-nya dan nyawanya,” demikian ketegasan ayah muda itu.
Sangat dijaga agar si kecil tidak minum dulu susu formula. ASI masih lebih baik daripada susu formula. Apalagi kolostrum lebih bermanfaat untuk daya tahan tubuhnya. Ada sedikit pengetahuan betapa pentingnya ASI bagi bayi, apalagi kolostrum pertama.
Harapan keluarga muda itu agar anaknya tetap minum ASI. Sangat didambakan agar genetik kecerdasan ibunya akan menurun kepada anaknya. Tiap hari tetap minum ASI walaupun ibunya tugas di rumah sakit. 2-3 kali sang ayah bertugas sebagai “Kurir ASI”. Ada waktu-waktu tertentu datang mengambil “perasan ASI” itu di rumah sakit tempat istrinya bertugas.
Si kecil sangat dimanjakan di rumah. Kesehatannya sangat dijaga. Setiap hari dimandikan, dininabobokkan, selalu dinyanyikan’ “Yabelale, atinrono, masitta’ malloppo, mancaji dottoro’to pappada indo’mu.” Dendang lagu sekaligus doa suci.
Hampir 3 dasawarsa berlalu. Zaman beralih, musim bertukar. Si kecil yang digendong pada waktu pengambilan sumpah dokter ibunya, beberapa waktu lalu, giliran ia pula diyudisium sebagai Dokter Umum. Anak kecil yang tidak mau lepas tangannya dari gendongan ayahnya, alhamdulillah mengikuti pula jejak tapak ibunya sesuai doa alunan lagu-lagu pengantar tidurnya dulu.
Anak kecil yang kini menjelma menjadi Dokter, yang dulu membuat ayahnya bolak-balik ke rumah sakit mengambil ASI. Ibunya sedang mengikuti pendidikan Co-Ass. Waktu itu belum ada HP. Hanya perjanjian saja diatur untuk bertemu.
Air susu cerdas sang Bunda Dokter Jumraini ternyata telah menjadi vitamin otak bagi bayi yang kini menjelma menjadi dokter muda dengan setumpuk prestasi yang prestisius.
Makkassar, 6 Januari 2022.
