Oleh: Gusnawati Lukman

Ungkapan perasaan atau bahasa kalbu seseorang akan rindu, cinta,  dan kasih sayang sungguh amazing untuk kita telisik bersama. Kadang rasa itu dapat memporak-porandakan hati dan jiwa. Rasa kehilangan karena jarak yang membentang tak bisa terhindarkan. Rindu pada sibuah hati yang lagi menuntut ilmu di negeri seberang, rindu keluarga yang sudah sekian lama tak bersua, dan rindu orang-orang terkasih yang terpisahkan oleh jarak, ruang dan waktu.

Ketika rasa rindu, cinta dan kasih sayang itu menyeruak di lubuk hati yang terdalam, reaksi dan penerimaan setiap  orang berbeda-beda. Ada yang bisa bertahan dengan kesabaran tingkat tinggi, ada yang selalu galau, meneteskan air mata, tak berdaya. Namun, ada juga yang kuat, tangguh, menahan hantaman rasa itu. 

Kalau aku sih…. sebagai guru Bahasa Inggris, kalau lagi rindu, aku bicara pada senja“ I miss you so much dear,….then I cry.

Ketika Jarak dan waktu memeras jiwaku, hanya rindu yang bisa kupupuk,” begitu Bang Ruslan Ismail Mage mengekspresikan rasa rindunya. Kerinduan pada keluarga tercinta serta sahabat-sahabat terkasih yang selalu beliau pupuk agar hati dan jiwanya selalu terhubung walaupun terpisah jarak dan waktu. 

Iyan Apt, seorang Writerpreneur,Book publisher, selalu menggebu-gebu dalam setiap narasi cintanya. Rasa cinta dan rindu dia ekspresikan dengan begitu indah. 

Cinta itu aneh. Ia tak selalu datang pada orang terdekat. Namun, bisa kepadamu yang jauh di sana”. 

Kasihan nih yang lagi LDR-an. Yang sabar yaa….LDR-an itu asyik loh. Punya cita rasa seni yang luar biasa. He..he..he

“Nasi sudah jadi bubur, tak mungkin menjadi beras. Hati ini sudah telanjur mencintaimu tanpa batas”. 

Bersyukurlah apabila ada seorang laki-laki yang begitu memuliakan seorang perempuan dengan rasa cintanya yang begitu luar biasa, tanpa batas.

Jangan lupa sarapan. Karena menahan rindu ketika tak bisa bertemu perlu tenaga ekstra”.

Harus kuat yaa sahabat. Menahan rindu itu butuh kekuatan. Kalau nggak kuat,nanti bisa sakit loh…..wkwkwk.

“ Hai rindu, bersahabatlah denganku. Tak ada  penawar selain kehadiranmu. Kau telah membawa separuh jiwaku berkelana melintasi samudra biru. Monologku hanya akan sempurna dengan kehadiranmu”.

 Ketika seseorang merindu, hanya sualah yang menjadi obat pelepas rasa itu. Mendamba sua dengan orang yang begitu istimewa. Saling berdekap raga adalah impian malamnya.

Ketika seorang Imam Abdullah El Rashid yang digelari Sang Peternak Rindu berbicara tentang kerinduan yang begitu dalam, maka jangan heran ketika membaca bait-bait puisinya yang seperti ayat-ayat cinta, bak buluh perindu. Terkesima, terlena, kagum akan diksi-diksi dan narasi cinta yang begitu luar biasa. Membawa segala rasa, mengembara entah sampai negeri antah berantah.

Sahabat, yuk simak lagi celoteh anak-anak zaman milenial tentang cinta dan rindu yang pasti membuat kita tersenyum. Ini obat stress juga loh…hiburan supaya tidak terlalu larut dalam kerinduan yang tak berkesudahan.

“Saya anak Ekonomi, hanya bisa menghitung untung ruginya merawat rindu yang tak pasti”.

“Maaf, aku cuma anak Kimia, yang tau caranya mencampurkan cinta dan rindu, biar jadi kangen terindah”.

“Saya hanya anak Ilkom, cuma hafal Algoritma cinta yang rumit, soal persekongkolan waktu dan rindu dan probabilitas hubungan, tetap saja tergantung sama kamu”.

“Saya hanya anak Fisika, yang hanya dapat mengukur jarak yang membentang di antara kita, tanpa tahu menentukan konkrit waktu, kapan kita bisa bersatu selamanya”.

“Saya anak Seni, di mana perpaduan warna jika dipadukan biar selaras dengan warna lain menjadi hal indah, begitupun cinta ini selalu mengkondisikan dengan penyatuan pikiran,jiwa serta hati yang selalu menyesuaikan agar berdamai dalam keadaan agar bisa beriringan berjalan”.

“Saya hanya anak Senja yang hanya bisa melihat jingganya sekejap mata lalu hilang ditelan sandyakala, begitupun denganmu yang hanya bisa kupandang dengan jauh lalu menghilang tanpa saling sapa”.

“Saya adalah anak Sastra, yang selalu menulis aksara lara jika telah terkhianati”.

“Aku adalah anak Bahasa yang hanya dapat menuangkan kerinduan ini lewat coretan kecil di dinding kamar”.

“Aku hanya anak pengangguran yang cuma tetap setia bermimpi bisa bersamamu selamanya”.

“Saya hanya anak Pertanian. Yang kutahu hanya merawat rindu tapi dipetik orang lain”. 

“Saya hanya anak Teknik, yang cuma tau tentang mencintaimu, bukan menyakitimu”.

“Saya  hanya anak Sastra yang menikmati puisi rindu seperti silet di celah gigi”.

“Aku cuma orang dapur yang hanya tahu cara mencampur luka dan cinta dimasak dalam wadah kesabaran lalu disimpan di hati hingga tanak sampai wujud bahagia”.

“Saya anak Administrasi yang cuma tahu mencatat rinduku yang sudah hampir berjilid-jilid”.

“Saya anak Otomotif, hanya bisa memperbaiki goresan-goresan luka”.

“Saya anak Bahasa yang hanya mampu meramumu dalam wujud aksara, tanpa bisa kuraba atau kusentuh wujudnya”.

“Saya hanya anak Otomotif, yang hanya bisa membenahi cinta yang berantakan, agar kamu bahagia merasakannya bersama dia”.

“Aku hanyalah anak Tata Boga yang hanya tahu masak rasa cinta dengan bumbu rindu”.

“Saya hanya Tukang Setrikaan, yang tahunya menggosok helai-helai kusut di celah-celah rindumu”.

“Saya hanya Silent reader yang hanya tahu menafsirkan gerak cintamu tapi tak bisa memastikan”.

“Saya anak Bahasa Indonesia yang hanya mengerti makna denotasi cinta daripada makna konotasinya”.

“Aku hanya anak gembala yang selalu riang gembira ketika jatuh cinta”.

Bagaimana Sahabat…? Kreatif-kreatif loh… Auto ngakak plus juga kan…? Hahaha…wkwkwkwk..

Itulah bahasa cinta. Bahasa rindu,bahasa kalbu. Rasa rindu, cinta, dan kasih sayang adalah milik semua orang. So, don’t worry, always be happy.

Sumber:

  • Sajak Sastra
  • Diolah dari berbagai sumber

Watansoppeng, 28 Februari 2022

(Visited 571 times, 1 visits today)
One thought on “Bahasa Rindu, Bahasa Kalbu”
  1. Waoooo bener” bahasa rindu yg di ekspresikan lewat bahasa kalbu,terangkai dgn manisnya membuat hati jdi hidup ,
    Mekar di antara bait” syair .
    Suka banget dgn tulisan bunda,dpt menginspirasi tentang rindu yg tak pernah lelah,hinggap di antara jiwa” yg selalu setia memupuk rindu ,diahir penantian berbuah manis ……..good,
    Jangan pernah lelah memupuk rasa rindu di hati,insyaallah satu saat rasa itu akan bernuara & bertahta di pelaminan rindu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.