Setelah bersuka ria di Hari Kemenangan dan cuti Lebaran, hari ini kita kembali bekerja. Sebagian orang mungkin masih otewe balik ke kota. Namun, insan kepenulisan dan penerbitan buku seperti saya harus sudah standby di meja kerja.
Meskipun dilema ISBN masih membuat saya galau, tetap saja hari ini harus submit pengajuan ISBN buku “Analisis employee retention di kalangan auditor pemerintah” karya Mas Sumardi, Asisten Komisioner KASN RI, anggota komunitas Bengkel Narasi yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri.
Apakah ada permohonan ISBN di akun saya yang belum diproses oleh Perpusnas? Ya, ada dua buku. Yang pertama memang judul buku titipan dari rekan penerbit lain karena akunnya di-suspend oleh Perpurnas. Apa pasal? Karena tidak setor hasil karya cetak. Menurut pengakuannya, ada ISBN yang sudah terbit tetapi bukunya batal cetak, hehehe…
Yang kedua, permohonan ISBN untuk buku “Satu narasi : kumpulan tulisan terbaik sahabat literasi dalam satu tahun milad komunitas Bengkel Narasi Indonesia.” Untuk yang kedua ini, saya sudah pasrah sih. Buku ini memang antologi, kumpulan tulisan anggota Bengkel Narasi yang belum bisa muncul sebagai penulis solo. Motifnya lebih ke arah menyenangkan hati anggota dalam momen satu tahun berdirinya komunitas Bengkel Narasi. Yo wis, tidak ada ISBN-nya juga rapopo.
Lalu, apakah akun penerbit saya suspended? Ah, saya pikir tidak. Buktinya, pagi ini saya masih bisa submit permohonan ISBN untuk buku Mas sumardi. Meskipun banyak permohonan ISBN yang tidak diproses oleh Perpusnas, saya tetap optimis buku Mas Sumardi ini akan lolos. Mengapa? Karena ini bukan buku antologi atau buku abal-abal. Ini adalah buku referensi yang diturunkan dari hasil penelitian disertasinya. Harapannya, buku ini menjadi “kado” bagi para promotornya di momen sidang terbuka akhir Mei atau Awal Juni nanti. Semoga lancar ya, Kangmas?
Saya pikir, tidak ada niat buruk Perpusnas terkait pembatasan ISBN. Faktanya, kuota digit (nomor) ISBN Indonesia memang hampir habis.
Iyan Apt
Di satu sisi, euforia literasi menulis cukup menggembirakan. Di sisi lain, kalau semua buku antologi (apalagi hasil kelas menulis) di-ISBN-kan, dipastikan kuota ISBN Indonesia akan cepat habis.
Ini kembali ke sikap mental kita. Ada pihak-pihak yang melihat euforia literasi menulis ini sebagai ladang cuan yang menggiurkan. Mulai dari kelas-kelas menulis (terutama daring), pelatihan dan sertifikasi, hingga job percetakan.
saya menemukan fakta tentang naskah buku yang dibuat hanya dalam format MS Word, langsung diberi kover, dan diajukan ISBN oleh penerbit. Simsalabim, terbit deh!
Bulan lalu, saya dihubungi oleh seorang pengusaha percetakan yang mendapat job penerbitan 15 judul buku dosen di salah satu institut kenamaan. Apa yang terjadi? Dia hanya minta dibuatkan kover dan permohonan ISBN. Perkara isinya langsung “hajar bleh” cetak dari file MS Word dan/atau PDF yang ada.
Jika saya hanya berorientasi pada uang, lumayan dong? Hanya desain kover dan pengajuan ISBN dapat cuan? Namun, saya menolak tawaran tersebut. Mengapa?
Bagi saya, isi buku (terutama editing, layout, dan ilustrasi) adalah ranahnya penerbit. Jika ini diambil alih oleh percetakan dan penerbit hanya membuat kover dan mengajukan ISBN, apa jadinya kualitas buku itu nanti?
Bagi saya, orang akan menilai kualitas buku bukan hanya dari siapa penulisnya, juga siapa penerbitnya. Jika orang membeli buku dan mendapati isinya sekelas makalah MS Word, siapa yang malu? Bukan hanya penulisnya, penerbitnya pun akan dianggap “kacangan”. Lalu, bagaimana pihak percetakannya? Nggak ngaruh tuh, kan isi di luar tanggung jawab percetakan?
Sampai di sini, ngerti ora, Son? []

Sudahlah Aa tak perlu tunggu ISBN kalau menghambat kreativitas penulismah, lanjuuuuut!