Oleh: Yusriani Nuruse

Siang itu, aku sedang ada urusan. Dengan menaiki sepeda motor kubawa serta anak semata wayangku yang baru berumur 8 tahun. Entah kenapa tiba-tiba ia berceloteh padaku dengan bicaranya yang cadel. Ia berandai-andai tentang papanya.

“Ma, andai papa bisa kembali, aku ingin bisa melihat papa duduk di dalam rumah, di samping pak Ustadz biasa duduk memberi tauziah pada malam-malam tahlilan papa. Aku akan memandang wajah papa walau dari jauh agar papa tidak terusik.
Kubiarkan ia berceloteh mengeluarkan semua perasaan, walau mataku mulai basah menahan bulir-bulir bening yang sudah menggantung di pelupuk mataku.

Tenggorokanku seakan tercekat, tak kuasa untuk membalas celoteh anakku. Ku tahu dia merindukan papanya. Aku berusaha untuk tidak terisak agar tidak menambah kesedihannya. Setelah aku berhasil menguasai perasaanku yang tadi bergemuruh menahan haru, kucoba membalas celoteh anakku dengan suara bercanda.“ Rindu ya sama papa? Tiba-tiba ia menimpaliku,“ Kalau mama ?Aku menjawab,” Iya”.
Tiba-tiba ia pun menjawabnya dengan polos,” Rindulah, masa tidak. Aku tersenyum tipis, walau sebenarnya hatiku pun sedang menangis.

Kulanjutkan menasehatinya ,“ Bila rindu pada papa, kirimlah berkah Al Fatihah, papa pasti gembira di surga bila dapat doa dari kita,” imbuhku.
Keesokan harinya, anakku minta dibelikan mainan, kuturuti apa maunya. Aku tidak ingin ia sedih mengenang papanya yang dulu selalu menuruti permintaannya bila minta dibelikan mainan. Maka aku memboncengnya ke pasar. Lagi-lagi ia berceloteh tentang papanya.
“Ma, aku tidak bisa lagi melihat wajah papa yang sekarang. Aku menjawabnya,” kan bisa melihat foto papa? Ia pun menjawab itu wajah papa yang lama, yang sekarang aku tidak bisa melihatnya lagi.

Begitu juga tadi pagi saat ia bangun tidur, kuliat air matanya. Ia menarik tanganku memeluknya, meminta agar hari ini tidak masuk sekolah. Ia ingin menemaniku ke kantor. Sebenarnya, aku tidak setuju kalau ia tidak masuk sekolah, namun, aku tahu jiwanya sedang ingin bersamaku. Aku tak ingin menoreh luka di hatinya yang masih polos.
“Nak, jangan berhenti di tengah badai, teruslah melangkah hingga engkau mampu melewati badai itu. Yakinkan diri badai pasti berlalu, bahwa di depan sana kepastian dan kesuksesan ada untuk kita.
Hidup ini tak selamanya mulus, butuh batu kerikil supaya kita berhati-hati.
Butuh semak berduri agar kita waspada.
Butuh persimpangan supaya kita bijaksana dalam memilih.
Butuh petunjuk jalan supaya kita punya harapan tentang arah masa depan.
Hidup Butuh masalah supaya kita tahu kita punya kekuatan.
Butuh Pengorbanan supaya kita tahu cara kerja keras.
Butuh air mata supaya kita tahu merendahkan hati.
Butuh dicela supaya kita tahu bagaimana cara menghargai.
Butuh tertawa dan tersenyum supaya kita tahu mengucapkan syukur.

Saat tidak ada lagi dada dan bahu papa untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud.
Perbuatan baik yang paling sempurna adalah perbuatan baik yang tidak terlihat, namun, dapat dirasakan hingga jauh ke dalam relung hati.Tidak selamanya kata-kata yang indah itu benar, juga tidak selamanya kata-kata yang menyakitkan itu salah.

Hidup ini terlalu singkat, lepaskan mereka yang menyakitimu, sayangi mereka yang peduli padamu.
Yang sabar anakku, rajin salat,mengaji, berbuat yang baik dan berdoa buat papa, papa pasti senang dan tenang di alam sana.

Entahlah, sejak 100 hari kepergian papanya, ia sering kali berceloteh tidak bisa liat wajah papanya lagi. Yang sabar anakku, semoga aku bisa mendidikmu di jalan yang diridhoi-Nya.
Aamiin ya rabbal alamin.

Watansoppeng, 25 Mei 2022

(Visited 121 times, 1 visits today)
One thought on “Celoteh Anakku dan Pesan Moral Mama”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: