Oleh: Gusnawati Lukman

Rabu menggebu, iseng-iseng buka media sosial facebook. Scroll beberapa lama sampai aku menemukan sebuah reel seorang perempuan cantik yang lagi bernarasi panjang tentang kekuatan burung elang. Sungguh dahsyat narasi yang dipaparkannya. Pikiranku menerawang, mencari pembenaran pada sebuah sosok yang selama ini selalu menjadi panutan, penggerak jiwa, inspirasi diri bagi pecintanya, utamanya kaum literat sejati, Bapak Ruslan Ismail Mage. Aku juga langsung teringat semua foto-foto yang aku simpan di album ‘ All About RIM”. Di situ beliau banyak mengambil gambar/foto dengan burung elang di tangannya, burung elang yang lagi bertengger di pundaknya, beliau lagi melepaskan burung elang itu terbang tinggi, serta burung elang yang menjadi latar quotesnya. Entah mengapa pula, semua narasi tentang kekuatan dan ketangguhan Sang Burung Elang, yang dihubungkan dengan filosofi hidup dan kehidupan, sering aku temukan dalam quotes Bang RIM. Nalar kritisku memaksa untuk mencari jawaban dari semua pertanyaan yang muncul di benak.  Apa sih keistimewaan burung elang itu? Apakah beliau punya pengalaman hidup yang dihubungkan dengan filosofi hidup burung elang? Serta masih banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk. Selama ini aku cuma meraba-raba saja, menghubungkannya dengan masa kecil beliau yang aku baca dari tulisan-tulisan tentang dirinya. 

Menelisik semua hal yang berhubungan dengan sosok Bang RIM adalah suatu hal yang sangat menarik. Sosok yang selama badai pandemi ini bersemedi panjang di ruang literasinya yang nyaman, berkarya dalam sunyi hingga menerbitkan 11 buku, sosok yang  begitu fenomenal di kalangan pegiat literasi, sosok yang selalu disanjung, tapi tetap merunduk dan rendah hati, ternyata menyimpan kisah hidup yang begitu inspiratif. 

Ketika seorang anak dilahirkan, orang tua selalu memberi nama anaknya tentu dengan pertimbangan masing-masing. Hal ini menjadi penting karena menurut orang bijak nama itu adalah doa, atau nama itu adalah irama paling merdu bagi pemiliknya.

Entah orang tua Bang RIM dulu apakah penggemar burung elang, atau pengusaha tembakau yang berfilosofi burung elang yang berani menembus hutan belantara Sulawesi atau berlayar antar pulau membawa dagangan tembakau Bugis di era tahun 60-an. Namun, yang pasti ia menamai anak balita lelaki tunggalnya, “Elang” hingga seluruh kerabat dan orang kampung mengenal dan memanggilnya Elang. Nama yang begitu indah, penuh makna, dan pengharapan. 

Harapan agar kelak sang anak menjadi sosok kebanggaan keluarga. Anak yang kuat, tangguh, dan siap bertarung mengarungi kehidupan yang penuh riak. Mandiri, berjaya, tanpa mengandalkan kekayaan, ataupun warisan orang tua. Filosofi hidup burung elang terasa begitu kental.

Orang tua Bang RIM sudah mendidiknya dengan penuh cinta, kasih sayang, dan kedisiplinan tinggi. Sebagai seorang anak tunggal, Bang RIM adalah kesayangan mereka. Semua cinta dan kasih sayang hanya tertumpah untuk dia seorang. Namun, itu tidak serta merta membuatnya manja. Terbukti karena Bang RIM lambat dalam hal membaca dan menulis, ia sampai dihukum, dikurung dalam kamar selama seminggu, tanpa sepotong pakaian membalut tubuh mungilnya. Bisa dibayangkan bagaimana ia dikerumuni dan digigit nyamuk-nyamuk di dalam kamarnya. Fakta itu terungkap dalam tulisan apik Bapak Haji Tammasse Balla, keluarga, sahabat terdekat, Akademisi Senior Universitas Hasanuddin yang berjudul “ Terapi Nyamuk Melahirkan Penulis Andal”.

“Akademisi ilmu politik, inspirator, motivator, penulis kawakan, penyetrum semangat, raja mimbar, mata pena dari Timur, dan sederet predikat lainnya sudah melabeli namanya. Deretan predikat itu membuat kita tercengang. Mengapa kita tercengang? Ia berasal dari lingkungan pebisnis. Kakek dan ayahnya pebisnis kelas kakap pada masanya. Biasanya anak yang lahir dari lingkungan “keuangan mentereng”, acuh tak acuh bersekolah. Namun, RIM mengubah mitos itu. Anak pedagang juga mampu menjadi ilmuwan sejati dan penulis andal.” (HTB)

Nah, kita kembali lagi pada filosofi burung elang. Ada beberapa filosofi burung elang yang melekat pada diri seorang RIM. Yang pasti Bang RIM selalu fokus pada tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya . Beliau mengerahkan segenap usaha dan kemampuannya untuk mencapai mimpinya. Mengurus hidup dan kehidupan. Menulis sambil memeluk kemanusiaan. Menulis sambil berbagi dan menginspirasi. Terbang tinggi, melintasi batas-batas kota, negara dan benua, untuk menginspirasi, menebar kebaikan, menemui anak-anak negeri di seluruh pelosok negeri. Di universitas kehidupan yang maha luas, hadirnya selalu dinantikan. Sekali mengangkasa dengan ide dan gagasan-gagasan inspiratifnya, beliau mampu menciptakan manusia-manusia literat yang rendah hati, cendekia, cerdas, dan penuh potensi diri. Melalui rumah karya, rumah jiwa di angkasa, Bengkel Narasi, yang dibangunnya dengan pondasi yang kokoh, beliau mengangkasa bersama gagasan-gagasan spektakuler penghuninya. Rumah jiwa yang dipenuhi dengan ide-ide kreatif di bidang literasi, menyatukan gagasan keilmuan, dan pengembangan potensi diri. 

Bang RIM dalam kapasitasnya sekarang sebagai seorang akademisi ilmu politik, inspirator, motivator, penulis kawakan, penyetrum semangat, tak henti-hentinya berkarya untuk pengembangan potensi dirinya. 

Elang selalu terbang tinggi. Elang yang tak takut akan ketinggian ini bisa dimaknai sebagai proses perkembangan diri dalam kehidupan. Tidak takut untuk selalu memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. 

Elang berkawan dengan badai. Tidak pernah takut dengan masalah yang akan dihadapinya. Begitu pula Bang RIM dalam setiap quotesnya selalu mengajarkan untuk menjadi pribadi yang kuat, kokoh, tangguh, dan bijaksana dalam menghadapi setiap permasalahan hidup dan kehidupan. Bahwa kebahagiaan adalah berasal dari dalam diri kita sendiri. Bahwa kebahagiaan itu kita sendiri yang harus menciptakannya. Jangan pernah berharap kebahagiaan dari orang lain. Jangan takut dengan setiap persoalan yang muncul. Dalam hidup, seharusnya kita mampu berkawan dengan masalah yang bisa kita ibaratkan dengan badai yang harus ditaklukkan oleh elang. Bukan hanya bersikap tenang dalam menghadapi masalah, tapi juga menggali potensi positif di balik suatu masalah.

Elang adalah burung yang selalu mandiri, berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri.Elang cenderung suka terbang sendiri. Kesendirian elang dalam terbang ini mengajarkan kita untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang mandiri. Baik dalam kondisi senang ataupun susah. Bukan dalam artian menjadi pribadi anti sosial. Sendiri disini dalam arti mandiri dan mampu menjalani kehidupan dengan kemandirian. 

Di sudut-sudut ruang literasinya yang nyaman, Bang RIM” The Eagle Literasi”, berkarya dalam sunyi hingga menghasilkan karya-karya yang berkualitas, inspiratif, tanpa pamer diri. Prinsipnya, tetap berkarya, dan biarkan orang lain yang akan menuliskan dan menceritakan setiap pencapaian dan kapasitas kita.

Dalam hidup, Bang RIM mengajarkan kemandirian dalam berkarya. Semangat beliau menggelorakan dan memperjuangkan literasi membaca dan menulis, laksana burung elang mengangkasa dan terkadang menukik menemui sasaran di sudut-sudut kampung menginspirasi anak-anak negeri. RIM “The Eagle Literasi “, ini kemudian membawa kami juga terbang bersama, mengangkasa di rumah literasinya di angkasa bernama Bengkel Narasi. Sampai tulisan ini dipublish, sudah ratusan sahabat literasi BN, manusia-manusia literat  sejati mengangkasa tiap hari gagasan dan pikirannya.

RIM” The Great  Eagle Literasi”. We Always love you.

Watansoppeng, 3 Agustus 2022

(Visited 366 times, 1 visits today)
2 thoughts on “RIM “THE EAGLE” LITERASI”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: