Oleh *Doddi Arya Kusuma

Sebelum kita bercerita tentang lorong waktu kehidupan, alangkah baiknya kita singgung sedikit tentang manusia sebagai makhluk sosial. Seperti kita ketahui bersama, manusia memiliki sifat antara lain keinginan untuk berinteraksi satu sama lain, baik itu sebagai individu maupun sebagai kelompok. Artinya, sebagai makhluk sosial tidak seorang pun yang bisa hidup sendiri.

Seseorang pasti butuh bantuan orang lain dalam menjalani kehidupannya, terlebih dalam mencapai tujuan. Dalam proses memenuhi kebutuhan, manusia tidak bisa lepas dari tiga dimensi waktu. Karena itu harus memahami dan ingat tentang target waktu dalam segala aktivitasnya. Sebagai contoh, bagaimana seseorang harus segera menyelesaikan pekerjaannya dalam satu hari lagi, kalau tidak terpenuhi waktu yang telah ditetapkan maka akan menjadi masalah.

Tidak jarang kita menemui orang berburu waktu di menit terakhir, karena di awal cenderung mengabaikan waktu. Akibatnya ditinggal waktu, karena waktu tidak pernah akan berkompromi kepada siapa saja yang tidak menghargainya. Sang waktu akan menggilasnya tanpa ampun.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “waktu” adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi pada waktu yang akan datang. Karena itu, wajib selalu menghargai waktu agar waktu tidak meninggalkan kita.

Manusia tentu memiliki sudut pandang berbeda-beda dalam memahami dan menyikapi waktu. Namun, yang pasti menurut orang bijak, “Pecundang berpikir bagaimana membuang waktu, si bodoh berpikir bagaimana menghabiskan waktu, sementara pemenang berpikir bagaimana memanfaatkan waktu”.

Sungguh pendapat bijak ini perlu diresapi, karena satu-satunya yang tidak bisa didaur ulang di dunia adalah waktu. Artinya tidak ada manusia mampu mengembalikan waktu masa lampau. Manusia hanya akan bisa merencanakan dan memanfaatkan waktu yang akan datang dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara “lorong” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah jalan kecil dalam suatu kawasan pemukiman yang di samping kiri kanannya ada pemukiman. Sesungguhnya tulisan ini ingin menyampaikan bahwa bagaimana manusia secara individu ataupun kelompok lebih bisa menghargai waktu yang kadang terasa sempit atau sedikit seperti lorong dalam kehidupan sehari-hari.

*Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Unes Padang

(Visited 112 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.