Oleh: Juharman Muliadi
Raga masih terasa lelah, tubuh masih terasa letih, setelah mengadakan perkemahan Sabtu-minggu (PERSAMI) di SMPs Haji Agussalim Katoi yang kemudian lanjut lagi dengan kegiatan Assessment Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Namun, panggilan jiwa langsung hadir ketika menerima pesan dari ketua gerakan kepanduan Hizbul Wathan Pununtun R.H Hadjid Universitas Muhammadiyah Palopo. Panggilan yang tak mungkin saya abaikan, karena Hizbul Wathan bagi saya bukan sekedar organisasi melainkan rumah tempat di mana saya tidur, makan, dan belajar dengan orang-orang hebat dari berbagai jurusan.
Pagi Jum’at, saya mencari solusi bagaimana caranya dengan uang yang pas-pasan bisa bergabung dalam kegiatan Diklat pandu angkatan ke-13 bersama teman-teman dan adik-adik yang lain dari berbagai suku. Di tengah-tengah menyerupuk kopi yang menjadi rutinitas pagi, saya teringat dengan perkataan salah satu senior kala mengikuti ospek MABA di tahun 2016. “The Power Of Orang Dalam.” Akhirnya saya merasa lega karena bisa berangkat untuk berbaur bersama kawan dan kembali ke rumah yang telah 2 tahun saya tinggalkan setelah pencabutan hak saya sebagai mahasiswa. (Yudisium_2020)
Di tengah Teluk Bone dengan goyangan kapal dan gulungan ombak yang menjadi ciri khas dari teluk Bone. Handphone saya kembali berdering yang berisi pesan masuk dari sang ketua Hizbul Wathan. “Reivaldo”. Adapun yang menjadi isi pesan dari ketua adalah penyampaian amanah dari ketua kwarda Hizbul Wathan kota Palopo untuk menggantikan beliau membuka kegiatan Diklat pandu berhubung beliau tak dapat hadir karena bertepatan dengan kegiatan LKM dari salah satu kampus jurusan tempat beliau mengajar.
Saya tak ingin melewatkan momen yang sangat berharga ini. Tanpa berpikir panjang sesuai apa yang disampaikan saat mengikuti pengkaderan “Samii na’ waatakna,’ saya langsung membalas chat itu dengan kata “SIAP” kemudian saya mulai berpikir dan menyiapkan segala yang ingin disampaikan pada saat memberikan amanat di hadapan puluhan peserta Diklat. Dengan menaiki kapal fery dari Katoi-Siwa kemudian lanjut Siwa-Palopo beberapa jam berlalu, akhirnya saya sampai tepat waktu dalam kegiatan yang dimaksud oleh ketua di atas.
Apa yang sudah saya persiapkan untuk disampaikan di hadapan puluhan peserta Diklat, seketika itu hilang begitu saja. Kata-kata yang sudah tersusun rapi, kalimat-kalimat yang telah kurangkai dengan begitu indah, dan artikulasi yang sudah terencana dengan matang semua tergantikan dengan air mata di hadapan peserta. Air mata yang menjadi bukti kerinduan dari sahabat seperjuangan yang dulu masih satu barisan peserta. Namun, kini dia hanya tinggal kenangan. Kenangan akan sosok kader militan, loyal dan berintegritas tinggi. Sungguh, ini menjadi kerinduan akan sosok dari Rakanda Sukardi yang telah wafat pada bulan Agustus 2020 beberapa tahun yang lalu.
Tenanglah di sana sahabatku. Tak usah khawatir kawanku. Perjuanganmu tak akan pernah sia-sia.
Baktimu akan terus aku lanjutkan kawanku.
Karyamu akan terus abadi.
Namamu akan terus kukenang.
Tenanglah di sana kawan. Hari ini di antara puluhan peserta Diklat, semoga ada di antara mereka yang bisa mewakili semangat dan perjuanganmu. Husnul khatimah sahabatku.
Panjang umur perjuangan. Semoga apa yang kamu lakukan bisa menjadikan kamu sebagai syuhada di hadapan Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal Alaamiin.
