*Halim Safar
Benar-benar kuliah yang hanya ada di luar kelas. Rutinitas kelas selalu membelenggu. Perbincangan yang sebenarnya itu sejalan bahkan harus juga diberikan materinya di kelas oleh pendidik. Kenyataannya, di ruang-ruang kelas selalu saja sama, bobot sks, materi kuliah, teori-teori klasik hingga kontemporer dan nyanyian-nyanyian lawas.
Sore itu muncul sebuah pesan ajakan, “Dik, ayo main ke rumah saya”. Tepat jam 21.15 akhirnya sampai juga di rumah dosen. Nasi kucing dengan romansa kenangan memulai perbincangan tentang Jogja sebagai kota perjuangan yang berlabuh di dermaga keci bernama keluarga.
Ngalor-ngidul dari yang menggembel di Malioboro, jual nasi kucing di Pakualaman, tidur sejam dua jam sambil menyiapkan bekal kuliah di pagi hari, kuliah pascasarjana, tidur di meja-meja dagang, di kursi angkringan, dan bermandi air di toilet musholla terdekat. Begitulah kisah singkat perjuangan Bapak Dosen.
Larut dini hari, berbagai kisah telah digelar dan digulung. Hingga tiba mengenai sang pendamping yang diharapkan. Muncul sebuah pertanyaan “Lalu pak, Jodoh itu apa? Atau kapan kita bisa mengetahui bahwa dialah Jodoh kita? Apakah ketika ijab qabul? Atau ketika para saksi berkata serentak (sah), kenapa ada yang tidak utuh? Pertengkaran berujung perceraian?” celetuk salah seorang anak. Baru kali ini pula mendapatkan jawaban tanpa ruang bantah di dalamnya.
“Jodoh itu: Dirawat dan Saling Merawat.”
Seketika menjawab kegelisahan selama ini. Banyaknya cerita-cerita tentang konflik rumah tangga yang selalu mencari kambing hitam untuk menjadi biang kerok permasalahan seperti ekonomi, kerukunan, bahkan cara mendidik. Padahal itu semua hanyalah alasan. Jika kata ‘saling’ selalu didahulukan, mungkin tidak akan terjadi perceraian.
Saling mengerti, saling berjuang, saling sabar, saling menjaga, dan saling merawat. Begitulah katanya tentang jodoh.
*Alumni Pascasarjana UGM, tinggal di Kota Duri Riau
