Oleh: Juharman Muliadi
“Lebih Baik Tersiksa Dilanda Rindu Daripada Harus Pulang Menjadi Baduk Kehidupan”
Perjalanan luka, duka, dan tangis kini berubah menjadi haru. Suka dan bangga akan cerita sebuah perjalanan panjang dari kisah yang hampir membuat menyesal seumur hidup, andai saat itu tak menemukan sosok inspiratif yang membuat sadar akan kerugian bagi orang yang lalai akan tanggungjawab.
Kala itu, September 2016, saya memasuki pintu pagar dari perguruan tinggi yang akan menjadi gerbang penuh makna dengan warna yang berbeda. Berbagai cerita untuk bisa sampai ke gerbang ini, mulai dari kebingungan dengan pilihan keluarga dan pilihan sendiri sampai kisah asmara pada putih abu-abu semua menjadi penyebab dari perjalanan kisah masa lalu.
Beberapa bulan di awal, rasa penasaran tentang dunia baru, dunia yang disebut kebanyakan orang sebagai miniatur dari negara membuat saya harus menjajaki berbagai organisasi, mulai dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Hizbul Wathan (HW) sampai dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani (HMPS-PENJAS).
Hari berlalu bulan berganti, 16 Mei 2017, saya memberanikan diri untuk menerima amanah dari teman-teman yang ada di jurusan Penjas. Setelah melewati pemungutan suara atau sistem demokrasi yang menjadi ciri khas dari negara tercinta. Ini menjadi salah satu bukti bahwa kampuskan adalah miniatur dari sebuah negara.
Keberanian mencalonkan diri sebagai ketua di sebuah organisasi bukan tanpa alasan pribadi kala itu. Tapi, saya melihat kesempatan untuk dikenal oleh banyak orang, akan lebih besar ketika menjadi pemimpin organisasi. Karena prinsip saya ” walaupun saya tidak memiliki kenalan untuk dunia yang baru tapi minimal setelah selesai nama saya dikenal oleh banyak orang”.
Sebelumnya, saya berangkat dari rumah untuk mendaftar di perguruan tinggi ini tanpa mengenal siapa-siapa di kota yang akan saya tuju. Hanya bermodalkan tekad dan semangat. Namun, saya telah memikirkan tempat yang istimewa untuk menginap setelah tiba di kota nanti, (Masjid). Tapi, sebelumnya saya terus berusaha untuk menghubungi semua teman-teman, menanyakan siapa yang memiliki kerabat di kota yang bisa tawarkan tempat tinggal sementara.Tak ada jawaban yang memuaskan dari pertanyaanku. Akhirnya, ini menjadi awal dari planning B yang harus aku jalankan.
Setelah resmi menyandang gelar sebagai mahasiswa, hari berlalu bulan berganti . Pada tanggal 16 Mei 2017, awal dari kepercayaan yang diberikan oleh teman-teman mahasiswa untuk memimpin lembaga yang ada di kampus. Kegiatan demi kegiatan kami lakukan, sampai membuat saya jarang pulang kampung dan hanya pulang setelah satu setengah tahun meninggalkan kampung halaman. Kemudian saya kembali melepas rindu sanak saudara dan orang tua tapi itu pun cuma 2 hari karena harus kembali lagi pada rutinitas sebagai bentuk komitmen dalam berlembaga.
Tiba suatu hari kami melakukan kegiatan yang menjadi awal dari kegalauan kami semua. Mengapa tidak. Kegiatan yang kami lakukan menyisakan utang di mana mana sampai ketua panitia kami harus menggadai motornya. Puncak kegalauan menjadi meningkat saat bapak dari ketua panitia kami menanyakan motor itu. Saya selaku orang yang dituakan dalam organisasi harus bertanggungjawab terkait masalah itu. Saya dengan terpaksa harus menelpon ke rumah meminta uang dengan alasan pembayaran kuliah.
Betul tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Masalah itu kami selesaikan bersama sebagai bentuk dari loyalitas kami dan berpatokan pada azas yang kami jalankan dalam berlembaga (kekeluargaan).
Melalui masalah yang kami hadapi ada hikmah di belakangnya. Tahun berikutnya karena adanya kegiatan yang mengisahkan duka, luka, dan tangis. Akhirnya, pendaftar khusus di jurusan kami semakin meningkat.
Dan ini merupakan suatu kebanggaan sampai kami semua meneteskan air mata. Air mata luka yang kemarin kini menjadi air mata haru bahagia, apa lagi setelah mendengar sambutan dari dekan fakultas kami yang membuka acara pada saat kegiatan pendemisioneran kami selaku pengurus pada tanggal 21 November 2019. Kata beliau “Harapan saya, pengganti ketua demisioner tahun ini harus melampaui ketua kemarin atau minimal menyamai”. Kata menyamai membuat kami memiliki rasa kebanggaan akan kepuasan birokrasi di masa kepemimpinan kami.
Kini, saya hadir kembali dalam ruang duka lama tapi bukan untuk mengulang luka yang sembuh. Semua hanya untuk mengenang tangis yang kini menjadi haru bangga karena melihat mereka yang telah menikmati berbagai penderitaan kami di masa lalu dan mereka semua mampu menjadi kader-kader yang inovatif sebagai pelanjut dari pemikiran visioner kami kemarin.
Terima kasih untuk semua yang masih tetap menghargai dan merawat perjuangan kami. Jangan pernah berpuas diri dan angkuh terhadap semua pencapaian kalian. Teruslah rendah hati sampai tak ada yang bisa merendahkanmu lagi. Teruslah membentuk kader unggul dan visioner, putuskan seluruh rantai keraguan dalam diri mereka. Sampaikan pada mereka semua, ini adalah dunia baru. ” Anda semua tak perlu minder, asalnya dari kampung karena yang terpenting pikiran anda tidak kampungan”.
#Panjang umur perjuangan
