Sepak bola merupakan olah raga yang paling populer di Indonesia dan juga dunia. Maka dari itu tak heran jika banyak siswa yang memiliki minat untuk ikut dalam setiap seleksi bahkan orang tua rela mengeluarkan cuan untuk anak mereka agar bisa berlatih di akademi sepak bola ternama. Namun, apa jadinya jika bakat-bakat dari pada generasi muda dipatahkan sebelum bertunas hanya karena pengadil yang kadang blunder dalam kepemimpinannya di atas lapangan hijau.
Kali ini, hadir kembali tragedi sepak bola di depan para pembaca yang bijak dan para pengadil yang agung. Tapi bukan tentang tragedi Kanjuruhan Malang yang menewaskan 131 jiwa. Kali ini, bukan tentang kehilangan nyawa melainkan kehilangan harapan bagi anak seusia mereka (U-12) yang tidak mendapatkan keadilan di atas lapangan, yang tidak mendapatkan kebijaksanaan dari para pendahulu mereka. Lalu, ke mana mereka akan membawah impian mereka? Haruskah mereka mengubur sendiri impian mereka hanya karena kita yang tidak membiarkan mereka berkembang.
Peristiwa langka ini terjadi setelah salah satu tim mengundurkan diri dari pertandingan sebelum peluit panjang babak kedua ditiup. Salah satu yang menjadi alasan pelatih menarik semua pemainnya, karena pemimpin pertandingan (wasit) dianggap tidak lagi menjalankan tugasnya sebagai pengadil dalam pertandingan dengan baik. Hal ini dilihat pelatih ketika salah satu pemainnya dianggap melakukan pelangaran dan terpaksa wasit meniup peluitnya. Wasit kemudian memilih untuk melakukan fair play. Namun, pemain yang dilanggar belum dalam posisi siap untuk bermain. (Berdiri). Bola telah diberikan lawan yang bukannya dioper kepada lawan sebagai bola fair play malah didribling berkali-kali kemudian mengoper ke rekannya yang dalam posisi off side tapi hakim garis tidak melihat hal itu, kemudian pemain yang dalam posisi off side sempat mengalami benturan dengan kiper sebelum melakukan shooting yang mengakibatkan lutut sang kiper cidera. Namun, lagi-lagi wasit belum meniup peluit sebagai pelangaran. Striker lawan pun melakukan shooting. Namun, sebelum bola masuk ke gawang sempat mengenai tangan dari seorang libero, wasit pun meniup peluitnya Namun, bunyi dari peluit wasit sebagai pelanggaran,tapi pernyataannya adalah Goooll. Ini membuat pelatih dari tim yang dirugikan marah.
Pertandingan sempat tertunda beberapa menit dan diadakan breafing antara panitia, wasit dan pelatih dari ke dua tim. Namun, hasilnya tidak memuaskan dari tim yang merasa dirugikan. Pelatih pun memilih untuk meninggalkan pertandingan dan langsung pulang. Beberapa suporter dengan iringan tepuk tangan sempat mengantarkan para pemain dan pelatih ke mobil.
Satu kata dari pelatih, tak apa-apa kalah yang terpenting itu “Sportivitas”. Salah satu suporter pun melanjutkan dengan kata betul “Mending kalah terhormat dari pada menang hina”.
