lfl1

Diera digital sekarang ini, kemudahan akses informasi lewat gawai (gadget) membuat orang tidak perlu kemana mana kalau mau membaca buku. Namun ternyata, tidak semua informasi buku ada di web atau di digital library. Kalaupun ada, belum tentu juga orang baca, karena pada dasarnya, orang tetap lebih nyaman membaca buku cetak daripada buku elektronik. Mata cepat lelah Ketika membaca informasi lewat gawai dalam waktu yang lama. Untuk meminjam buku cetak di perpustakaan juga memerlukan usaha tersendiri. Harus menjadi anggota, belum lagi kadang jarak dari tempat tinggal ke Perpustakaan yang cukup jauh.

Sejak beberapa tahun terakhir, di banyak kota di berbagai negara berdiri suatu gerakan literasi bernama Perpustakaan Kecil Gratis (Little Free Library). Little Free Library (LFL) ini sebenarnya suatu organisasi nirlaba yang mempromosikan pertukaran buku dalam suatu lingkungan atau dalam suatu komunitas. Sebuah kotak kayu atau rak buku kecil disiapkan untuk menyimpan buku buku didalamnya dan dapat dipinjam secara gratis oleh anggota masyarakat (komunitas). Selain meminjam, anggota komunitas juga dapat menyimpan buku untuk dipinjam oleh orang lain.

Little Free Library berkantor pusat di St. Paul, Minnesota, Amerika Serikat. Awal berdirinya diprakarsai oleh Todd Bol di Hudson, Wisconsin, AS pada tahun 2009. Todd Bol membuat sebuah kotak kecil depan halaman rumahnya dan mengisinya dengan buku buku peninggalan ibunya, yang seorang guru dan pecinta buku. Kotak kecil berisi buku itu disebutnya Bookhouse (rumah buku). Todd kemudian membagi idenya dengan temannya yang Bernama Rick Brooks. Keduanya kemudian membangun banyak kotak kotak buku di beberapa kota di Amerika. Idenya ini yang kemudian menyebar ke beberapa kota.

Misi utama organisasi LFL ini adalah membangun komunitas, menginspirasi pembaca dan mempermudah akses (mendapatkan) bahan bacaan buku lewat jaringan di seluruh dunia. Sementara itu visinya adalah satu Perpustakaan Kecil Gratis di setiap komunitas dan satu buku untuk setiap pembaca. Organisasi ini percaya bahwa setiap orang akan berdaya jika diberi kesempatan mendapatkan buku buku yang relevan (sesuai) untuk dibaca tanpa sekat ruang dan waktu.

Untuk mencapai visi dan misi itu, maka organisasi LFL menyiapkan kotak buku setiap waktu 24 jam sehari 7 hari sepekan dan gratis untuk semua orang. Organisasi ini juga memberikan Pendidikan dan pelatihan bagi relawan yang akan mengelola LFL dilingkungannya. Organisasi ini juga bekerja sama dengan sekolah, perpustakaan umum, perusahaan swasta, dan organisasi lainnya untuk membangun di LFL ditempat lainnya.

Sampai tahun 2022 ini sudah tersebar 150.000 organisasi LFL di lebih dari 100 negara dengan jumlah kunjungan per organisasi 465 kunjungan dengan jumlah buku yang beredar sekitar 70 juta eksemplar pertahun.

Kotak penyimpanan buku terdapat beberapa bentuk, ada yang berbentuk rumah, kotak, ada yang menggunakan bekas drum anggur, bekas kotak telepon umum, ada juga bekas pohon yang telah ditebang lalu dilubangi, dan lain lain. Ada yang berbentuk sederhana, ada pula yang penuh hiasan yang indah.

(diolah dari : media sosial FB LFL dan littlefreelibrary.org)

(Sumber foto: media sosial FB LFL)

tt
(Visited 68 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Suharman Musa

Suharman Musa, seorang Pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.