Oleh: Elvira Pereira Ximemes
Seorang murid bernama Joni kelas 1 SD di salah satu sekolah di desa. Sudah beberapa minggu Joni masuk sekolah tapi belum bisa beradaptasi dan bersahabat dengan lingkungan sekolah. Dia sering menangis jika tidak melihat mamanya menunggu di depan sekolah. Terkadang dia mendapat pukulan dari temannya.
Kehidupan kedua orang tuanya sangat kekurangan. Ayahnya bertani dan memelihara beberapa ternak. Mamanya jualan di pasar. Setelah beberapa bulan, Joni mulai berjalan sendiri tanpa diantar mama karena harus jualan sayur dan rempah-rempah hasil tanam dari ayahnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Joni tidak pernah beli makanan apa pun di sekolah pada saat istirahat, karena mamanya tidak pernah memberi uang jajan. Teman-temannya sering makan aneh-aneh di depan sambil mengejek dia. Joni hanya bisa menangis.
Beberapa bulan kemudian mamanya merasa sakit-sakitan, tidak bisa lagi berjualan. Sepulang sekolah dia tetap rajin belajar sambil menemani mamanya yang sakit. Kini giliran ayahnya sendiri berjualan di pasar. Seiring berjalannya waktu, Joni tamat SD. Dia sangat rajin ke gereja pada hari Minggu. Sering menangis sambil berdoa di dalam gereja persis di depan salib Yesus yang di sampingnya ada patung Bunda Maria. Tiba-tiba datanglah seorang suster dari belakang mengamati dia dan menghampirinya sambil merangkul dan bertanya, Ade siapa namamu? dan di mana orang tuamu?
Dia langsung menangis dan berteriak habis-habisan sambil menjawab,” Namaku Joni. Mamaku sakit di rumah, ayahku ke kebun. Pada saat itu juga suster langsung berjalan bersamanya menuju rumah Joni. Setelah tiba di rumah mama nya terbaring tak berdaya di kamar. Melihat kondisi mama Joni yang menjerit kesakitan, maka suster langsung kontak ke beberapa team doa dari gereja yang sering melayani orang sakit untuk mengantar mama Joni ke rumah sakit. Akhirnya, mama Joni diopname di rumah sakit, hingga beberapa hari lamanya baru pulang ke rumah. Joni merasa lega.
Dengan berjalannya waktu, Joni semakin kuat berdoa, belajar dan selalu mengawali hari barunya dengan membaca Firman Tuhan. Setiap malam sebelum tidur selalu menulis pengalaman yang dia hadapi baik di sekolah maupun di rumah bersama kedua orang tuanya sepanjang hari di salah satu buku harian yang diberikan oleh seorang pastor saat dia menjawab pertanyaan yang diajukan saat homili.
Buku ini isinya berupa curhat kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Dia sangat berharap suatu saat nanti ingin menjadi seorang dokter untuk merawat dan mengobati mamanya serta mengubah ekonomi keluarga.
Tahun berganti tahun, mamanya tidak bertahan lama. Akhirnya, Joni kehilangan nyawa mamanya setelah tamat SMA. Semua tulisan Joni terkumpul jadi satu gepokan. Halaman depannya tertulis: Bunda Maria walaupun mama kandungku telah tiada tapi Engkau selalu ada untukku setiap saat. Tuhan Yesus aku bersyukur dan berterima kasih karena aku belajar menanggung salib kehidupan dari Engkau.

Parabens Elvira.