Oleh: Hamsah*

Perkembangan era industri mengantarkan kita pada keterbukaan akses informasi. Dunia internet sebagai anak kandung dari era industri 4.0 yang kian hari semakin menjadi teman dekat bagi manusia dan melebihi kedekatan manusia dengan saudara kandungnya sendiri. Bahkan bisa dikatakan internet tidak berjarak lagi dengan manusia karena ia telah berada dalam genggaman.

Melalui internet kita mampu untuk melipat dunia bahkan melampaui batas kebudayaan sebagaimana yang dikatakan Yasraf Amir Piliang. Melipat dalam arti kita dapat menjelajahi dunia dan menggenggamnya melalui tangan kita sendiri. Hampir semua informasi mampu kita ketahui dan bahkan tak perlu kita mengunjungi suatu negara dan kita dapat mengetahui bagaimana keadaan dan perkembangan negara tersebut.

Dunia internet mampu melahirkan dua sisi wajah yang berbeda, melahirkan kecerdasan di satu sisi dan melahirkan kebodohan di sisi yang lain. Diakui bahwa setiap orang mampu mengakses dunia internet dan mendapatkan informasi kemudian menjadi bahan pembanding dalam proses pengembangan ilmu. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa, ada pula yang memanfaatkan dunia internet sekadar untuk berselancar dalam mendapatkan berbagai macam informasi yang pada akhirnya akan melahirkan orang pintar secara instan.

Internet sebagai gudang ilmu pengetahuan tanpa pembatas mampu mengantarkan para pengunjung untuk berkeliaran berdasarkan minatnya masing-masing. Beragam sarana yang ditawarkan, sebutlah misalnya tentang kiat-kiat menjadi kaya, menjadi sukses dan menjadi pribadi yang dicintai serta kiat-kiat yang lainnya. Bahkan dengan kecanggihannya, internet mampu mengetahui dan menawarkan apa yang menjadi kebutuhan dan kegelisahan manusia.

Di balik tak terbatasnya informasi yang bisa diakses, ada hal yang mesti kita waspadai dan tidak serta merta kita bisa terima begitu saja. Sebagai pengguna, kita mesti sadar bahwa tidak semua informasi dan pengetahuan yang terdapat dalam dunia internet itu telah terverifikasi secara ilmiah. Meski pada kenyataannya kita telah kenyang dengan berbagai informasi yang dikonsumsi tanpa pernah berpikir apakah itu ilmiah, terpercaya, dan teruji atau tidak. Kita hanya terkadang berpikir bahwa informasi itu lezat untuk dikonsumsi. Parahnya jika semua yang telah kita konsumsi dan menjadikan itu sebagai satu-satunya referensi dalam berargumentasi.

Mengkonsumsi pengetahuan dan makanan bisa dikatakan serupa namun tidak sama. Dikatakan serupa karena sama-sama memasukkan objek ke dalam diri kita. Dikatakan tidak sama karena meskipun sama-sama mengkonsumsi namun ruang masuk dan tempatnya berbeda.

Pengetahuan masuk dan tersimpan di akal, sedangkan makanan akan tersimpan di perut, misalnya. Logika sederhana kemudian akan muncul jika itu sesuatu yang dikonsumsi. Pada akhirnya akan terjadi proses metabolisme. Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh akan berubah menjadi energi bilamana makanan dan minuman itu cocok untuk tubuh. Begitupun dengan pengetahuan yang masuk dalam akal manusia. Ia akan menjadi energi, membentuk kecerdasan bilamana itu cocok dengan diri manusia dengan ukuran ia adalah pengetahuan dan informasi yang terpercaya.

(Visited 46 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Hamsah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.