Oleh: Gugun Gunardi*
Di dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, tercatat bahwa para dosen memiliki kewajiban untuk melaksanakan; pendidikan, penelitian, dan pengabdian kapada masyarakat. Di antara ketiga tugas tersebut, mungkin yang setiap saat dilaksanakan oleh dosen adalah pendidikan, dengan latar belakang bidang ilmu pengetahuan yang dikuasainya (hard skill).
Bidang penelitian, meskipun pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan pendidikan sudah meluncurkan dana untuk pelaksanaannya, di beberapa lembaga pendidikan tinggi belum terlaksana dengan baik. Hal tersebut terkendala dengan pembuatan proposal penelitian yang cukup jelimet, apalagi para dosen sejak menempuh studi S1 belum banyak yang mendapatkan pembelajaran membuat proposal. Kalaupun ada, diperoleh melalui kegiatan kemahasiswaan, bagi mereka yang aktif dalam dunia kemahasiswaan melalui berbagai pelatihan bagi mahasiswa aktivis.

Pengabdian Kepada Masyarakat pun, setali tiga uang dengan penelitian, sehingga untuk memenuhi tugas tersebut dibuatlah bentuk-bentuk kegiatan studi lapangan yang berbasis pengabdian masyarakat. Seperti menjadi Dosen Pembina Lapangan (DPL) untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan Kuliah Kerja Lapangan (KKL), serta berbagai kegiatan yang bersifat memberi pencerahan kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti menjadi pemateri dalam berbagai ceramah hard skill dan soft skill. Bisa juga memberikan pelatihan tertentu, yang sangat berguna bagi masyarakat, atau membimbing kegiatan masyarakat dalam bidang Keluarga Berencana (KB), kepemimpinan, atau berbagai soft skill praktis yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Saat ini, sebelum melaksanakan proses belajar mengajar, yang awal harus dilakukan adalah membuat RPS (Rencana Pembelajaran Semester). Tentu saja RPS tersebut harus memberikan informasi yang lengkap mengenai pembelajaran kelas yang akan diberikan selama 14 atau 12 kali pertemuan dan berisi materi yang menarik, mencerahkan, dan mengundang peserta ajar menjadi penasaran, sehingga mereka bertanya, serta tentu saja ada nuansa menghibur peserta ajar. Bagi seorang pengajar atau pemateri, pertanyaan dari peserta ajar atau audience mensikapi materi yang disampaikan adalah suatu kehormatan, berarti materi yang disampaikan tersebut menarik minat peserta ajar atau audience. Sehingga melalui tanya jawab tersebut dapat membuka cakrawala wawasan baik presenter maupun para peserta.

Jadikan pertemuan dengan para mahasiswa sebagai hiburan. Agar kita selalu memiliki energi positif, ketika kita akan bertemu dengan para mahasiswa untuk menyampaikan materi kuliah. Penulis, pada bulan September 2021 memasuki masa purnabakti, akan tetapi dua bulan sebelumnya, yaitu pada bulan Juli 2021 Rektor Univ. Al Ghifari; Prof. Dr. H. Didin Muhafidin, M.Si., mengajak penulis untuk bergabung di lembaga yang Beliau pimpin. Tentu saja, kesempatan itu tidak penulis sia-siakan, karena bagi penulis bertemu mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan mengajar adalah hiburan yang tak ternilai. Penulis bisa mencurahkan berbagai gagasan penulis lewat tanya jawab dan diskusi dengan para mahasiswa.
Penelitian dapat dilaksanakan murah, meriah, dan menghibur. Penelitian tidak harus dilakukan dengan terlebih dahulu membuat proposal untuk diajukan ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi ( DIRJEN DIKTI). Sekadar contoh, pada bulan Oktober 2022, penulis ditugaskan untuk berpidato pada pembukaan kompetisi lagu dangdut karya Rhoma Irama mewakili Rektor Univ. Al Ghifari yang dilaksanakan oleh FORKABAN. Ketua panitia, Kang Didin Satria, S.E., mempersilakan kepada penulis untuk berbicara banyak mengenai musik dangdut dan Bang Rhoma Irama yang penulis ketahui. Tentu saja penulis menyambut dengan senang hati. Sepulang dari kegiatan tersebut, terpikir untuk mengkaji lagu gubahan Bang Haji Rhoma. Maka, terpilihlah lagu “Kehilangan, dan Syahdu”, untuk dianalisis dari aspek wacana konstektualnya, yaitu prinsip penafsiran personal, prinsip penafsiran temporal, prinsip penafsiran lokasional, dan prinsip penafsiran analogi. Jadi, penelitian tersebut tidak harus menggunakan biaya besar dan hasilnya ditunggu oleh pecinta lagu dangdut karya Bang Rhoma. Tentu akan sangat menghibur ketika didiskusikan dengan para anggota FORKABAN.
Pada bulan Februari 2023, penulis diundang untuk menghadiri pelantikan anggota baru LANTIF (Lansia Aktif Produktif), di rumah Komjen (Pur) Dr. Ito Sumardi, S.H., M.H, di Jl. Setia Budi. Yang menarik dalam pertemuan tersebut, berkumpul para lansia mulai dari yang berusia 65 tahun sampai yang berusia 89 tahun. Umumnya secara fisik beliau-beliau sehat. Malah, justru penulis yang harus berjalan menggunakan kruk. Semangat dan keinginan mereka luar biasa untuk mengabdikan dirinya demi kemaslahatan umat. Keinginan berbagi dan bersedekah terurai dalam pidato para senior. Mengabdi kepada masyarakat, bisa dengan menjaga kesehatan kita, dan memperhatikan masyarakat dalam hal-hal kecil; kata Ir. Hardi Pramono M.Sc., Ketua LANTIF Jawa Barat.
Di daerah perumahan yang berdekatan dengan penduduk setempat, masih banyak penduduk belum paham mengenai hard skill dan soft skill. Jika ada kesempatan, tanpa harus menggunakan surat-surat resmi, berdiskusilah dengan mereka dalam suasana santai, sambil berseloroh, dan ditemani goreng singkong dan goreng ubi jalar, dengan minuman bandrek yang dibikin sendiri. Murah, meriah, menyenangkan, menimbulkan keakraban. Atau, bisa juga kita berceramah di RW atau RT setempat. Jadi Tri Dharma yang harus kita laksanakan menjadi hiburan buat kita.
*Dr. Gugun Gunardi, M.Hum., Dosen Tetap Univ. AL Ghifari.
