Oleh : Ruslan Ismail Mage*
Dalam pengembaraan literatur, ditemukan hanya dua kata yang menentukan langkah sang pemenang, yaitu “berpikir” dan “berjuang”. Disebut berpikir, karena hanya orang berpikir yang bisa merumuskan jalan menuju kemenangannya. Sementara sang penghayal akan berakhir langkahnya sebagai pecundang. Disebut berjuang, karena di depan sana banyak tantangan yang melambai menunggu, dan hanya orang bermental pejuang yang bisa menaklukkan gelombang kehidupan.
Berani hidup berarti berani menerjang gelombang kehidupan. Teori harapan mengajarkan, “Sebesar apa pun ketidakberdayaan melanda hidupmu jangan pernah kehilangan harapan, karena harapan adalah identitas kemanusiaan”. Kalau teori harapan ini dipakai untuk memaknai perjalanan Anies Rasyid Baswedan menuju gelanggang demokrasi Indonesia, dapat dikatakan, “Sekuat apa pun tekanan akan menjegal, sebesar apa pun hinaan menerjang, Anies dan seluruh rakyat yang menginginkan perobahan, jangan pernah kehilangan harapan dengan terus memupuk semangat untuk berjuang menaklukkan puncak Pilpres 2024.
Dalam sebuah acara di depan simpatisannya, Anies mengatakan, jika ingin jalan yang nyaman dan enak, pilih jalan yang datar dan menurun, tetapi jalan itu tidak akan mengantar mencapai puncak manapun. Namun jika kita memilih jalan yang mendaki, walaupun suasana gelap bagi semua orang yang pernah melakukan pendakian gunung di malam hari, pada saat mendaki naik belum tentu ujungnya di mana, tetapi kita sadar hanya dengan jalan mendaki yang bisa mengantarkan kita sampai ke puncak.
Saya mendapatkan kehormatan untuk bisa berjalan bersama, dalam perjalanan mendaki yang mungkin terjal, belum ada peta rutenya. Namun perjalanan ini adalah perjalanan yang akan dicatat dalam sejarah Indonesia, jelas Anies meyakinkan pilihannya mendaki kepada para pendukungnya. Diksi mendaki yang dipilih mengandung energi penggerak sangat dahsyat dalam mewakili jiwa kaum muda yang menyenangi tantangan.
Anies telah memilih jalan mendaki untuk seluruh rakyat Indonesia yang menginginkan perobahan. Tugas kita sekarang memupuk perasaan “kolektivitas sosial” yang sama, sejenis perasaan memiliki nasib dan tanggungjawab, serta nilai-nilai moral yang sama untuk mengusung perubahan. Rapatkan barisan, bersatu dalam perbedaan, bersama dalam keberagaman untuk menemani Anies mendaki sampai puncak.
Pendakian ini tidak gampang, penuh tantangan, rintangan di mana-mana, butuh kekuatan ekstra, energi berlebih, strategi cerdas menghindari batu cadas yang terjal, duri, dan mungkin binatang buas. Sedikit lengah bisa terpeleset dan jatuh. Karena itu, mari bergandengan tangan semua, lintas daerah, lintas suku, dan lintas agama. Menjadi bagian dari pendakian bersejarah ini, agar bisa menjadi saksi pemandangan terbaik datang setelah pendakian tersulit.
*Inspirator dan penggerak, penulis buku-buku motivasi dan politik
