Oleh: Abdul Kholid*

Sesaat setelah melaksanakan salat Ashar, terdengar bunyi ada pesan masuk lewat aplikasi WhatsApp. Sebuah foto masuk yang memperlihatkan namaku dan tulisanku bersanding dengan para penulis senior yang sudah punya nama di komunitas literasi nasional Bengkel Narasi Indonesia. Aku membisu melihatnya. Apakah aku mimpi namaku bisa bersanding dengan penulis nasional? Ya Allah ya Rabb, terima kasih atas berkahmu yang selalu menuntun langkahku ke jalan yang benar.

Minggu kemarin aku masih setia merawat mimpiku ingin menjadi penulis. Hari ini, Sabtu 1 Oktober 2023 aku sudah bisa menulis, bahkan namaku dan tulisanku langsung bisa terpampang bersama para penulis kawakan nasional.

Memaknai semua itu, aku langsung mengirim pesan WhatsApp ke mentorku sekaligus dosenku Bapak Ruslan Ismail Mage. “Pak, tidak pantas rasanya aku berada di deretan para penulis nasional di Bengkel Narasi. Semoga aku mampu memberikan tulisan terbaik.”

Dengan mengirim pesan seperti itu, aku berharap founder Bengkel Narasi tersebut bisa memahami perasaanku masih minder bersama penulis besar. Namun, dugaanku meleset. Pak Ruslan justru memarahiku membalas pesanku, “Hai, jangan gunakan lagi kata tidak pantas, tidak bisa, tidak tahu, tidak sanggup kalau sudah bersama seorang inspirator tangguh, ya? Merendahkan dirimu sekali, maka orang lain akan merendahkanmu berkali-kali.”

Membaca pesan itu, aku kembali membisu untuk kedua kalinya. Dalam hatiku langsung membenarkan pesan itu. Bukankah Pak Ruslan seorang akademisi sekaligus inspirator dan penggerak jiwa mahasiswa selama ini? “Bismillah, siap mengikuti arahan,” bisikku. Aku membulatkan tekad untuk tidak pernah lagi meragukan diriku, tetapi tetap merendahkan hatiku, sebagaimana pesan Pak Ruslan selalu kepada mahasiswa.

Namun, samapai detik ini aku masih seperti dalam mimpi yang sangat panjang. Takut terjaga dan tersadar ternyata semua fiktif belaka. Aku mulai menampar tanganku dan mencubit pipiku, “Bangun, woy! Jangan terlalu lelap!”

Waduh, terasa tamparanku. Aku tersadar ternyata sudah terdaftar menjadi anggota komunitas literasi nasional Bengkel Narasi Indonesia, sebuah komunitas literasi tempat berkumpulnya penulis-penulis besar Indonesia.

Perjuanganku bukan hanya sampai di sini, tetapi masih banyak yang harus aku kejar untuk menjadi seorang penulis profesional. Pintu yang sudah dibuka oleh founder Bengkel Narasi, Bapak Ruslan Ismail Mage  tidak akan aku sia-siakan. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak bisa menjadi seorang jurnalis.

Mimpi itu kini sudah menjadi nyata. Doa yang kulangitkan telah diijabah Allah Swt dengan mempertemukanku dengan orang-orang hebat di Bengkel Narasi. Terima kasih Bengkel Narasi. Terima kasih para mentor telah menerimaku sebagai salah satu mahasiswa magang di Universitas Kehidupan Bengkel Narasi. []

*Mahasiswa FIKOM Universitas Ekasakti.

(Visited 45 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: