Oleh: Gugun Gunardi*

Pada awal kuliah ini, Galih dan Kiki datang untuk mengikutinya. Kuliah disampaikan oleh dosen muda, tetapi sudah Doktor, yaitu Dr. Noval Ramadhan namanya. Beliau memperkenalkan diri sebagai pengampu Mata Kuliah (Manajemen Pemasaran). Sedangkan penyampaian materi kuliah kali ini, merupakan tugas dari Dekan Fakultas Ekonomi, agar mahasiswa mendapatkan materi yang berhubungan dengan karakter (sopan santun), di dalam pergaulan baik dengan sesama mahasiswa maupun dengan para dosen. Maklumlah, bersangkut dengan akhlak, Universitas Biru ini sangat memperhatikan.

Mahasiswa peserta kuliah sangat antusias mengikuti kuliah. Mata kuliah yang disampaikan terhitung masih baru. Mereka baru mengenal apa itu Soft Skill, dan apa itu Hard Skill, sehingga mahasiswa merasakan mendapatkan materi baru yang sangat penting untuk bekal bagi pergaulan mereka, baik untuk di kampus maupun di luar kampus. Apalagi yang menyampaikannya adalah seorang dosen muda yang sudah menyandang gelar Doktor. Ditambah lagi dosen tersebut, orangnya tampan dan sangat menarik ketika bertutur serta murah senyum. Jadi, mahasiswa sangat betah mengikuti kuliah tersebut. Apalagi mahasiswi, kayanya tidak ingin mengerdipkan mata, melihat Sang Dosen yang ganteng dan pandai membuat ilusterasi lewat penguasaan bahasa dan seloroh yang sifatnya mendidik.

Sepertinya mengikuti 60 menit materi kuliah dari Dr. Noval, tidak terasa, rasanya baru 15 menit saja. Sang Dosen menyampaikan soft skill, mulai dari AKU (ambisi, kenyataan, usaha), kemudian TOP (teacheable, observan, persisten), kemudian FUNI (focus, unique, networking, inovatif), dan MANDIRI (manajemen diri), ditambah dengan Persepsi.

Pada saat membahas mengenai persepsi, Sang dosem menjelaskan, bahwa persepsi setiap orang itu, meski bagaimanapun tidak akan sama. Sebab sudut pandang seseorang itu, sering dilakukan dari sudut yang berbeda. Sehingga ketika melihat sesuatu benda itu, tidak mungkin sama. Sehingga menurut Sang dosen, sangat tidak mungkin persepsi itu disamakan, paling juga bisa dikurangi perbedaannya. Sangat berbeda dengan interpretasi, yang dilakukan dari sudut pandang yang sama. Sehingga bukan tidak mungkin, bahwa interpretasi itu hasilnya bisa sama.

Waktu bertanya jawab, seorang mahasiswa menanyakan;

“Pak apa yang melatarbelakangi perbedaan persepsi..?”

Sang dosen;

“Perbedaan persepsi dapat terjadi karena berbagai hal. Karena latar belakang pendidikan, sosial, budaya, etnis, bahasa dan sebagainya.”

“Mohon contohnya Pak.”

“Contohnya, umpamanya karena perbedaan bahasa di antara orang Sunda dan orang Jawa. Kata cokot dalam bahasa Sunda artinya ambil, sementara di dalam bahasa Jawa artinya gigit. Orang Sunda meminta tolong kepada temannya yang orang jawa, Mas cokot emberna, maka dijawab atos.”

“Sebab jika diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, kira-kira terjemahannya demikian, Mas gigit embernya, maka dijawab keras. Sedangkan di dalam bahasa Sunda atos itu artinya sudah.”

“Maka di antara kedua orang tersebut, komunikasinya tidak bersambung, alias saling tidak mengerti.” Karena persepsi bahasa yang berbeda.

Begitu penjelasan Sang Dosen.

Dengan penjelasan lewat perbedaan bahasa tersebut, mahasiswa pada tersenyum, dan memahami apa itu yang dimaksud dengan persepsi. Penjelasan yang sederhana tetapi dapat dipahami oleh mahasiswa.

Tanpa terasa, kuliah selama 100 menit telah selesai. Para mahasiswa kelihatannya masih ingin mendengarkan Sang Dosen mengupas materi lainnya, namun waktu kuliah sudah berakhir. Tentu saja suasana seperti itu, membuat para mahasiswa penasaran untuk bertemu kembali di ruang kelas, mendengarkan Sang Dosen Dr. Noval berceloteh, minggu depan.

*Dosen Tetap Fasa Unfari.

(Visited 63 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.