Oleh : Haris Raimundus*

Awal pertemuan dengan dosenku yang satu ini, agak sedikit canggung dan takut, karena orangnya sangat tegas, disiplin, dan tidak bisa berkompromi dengan mahasiswa yang tidak fokus mendengarkan penjelasannya. Bahkan ia mengatakan, kalau sedang masuk jam mengajarnya, punya hak otonomi untuk mengatur segala jalannya lalu lintas pikiran dalam kelas. Lebih serem lagi ketika ia mengatakan, “Saat saya bicara maka hak kalian untuk bicara saya cabut”. Ngeri kali dengarnya.

Namun setelah perkuliahan berjalan, ternyata bapaknya seorang yang hangat, yang memberi motivasi kepada mahsiswanya. Pada sela-sela memberi penjelasan perkuliahan juga sering memberi lelucon yang membuat mahasiswanya tidak bosan. Tegas memang iya, tetapi tidak membuat mahasiswanya takut atau ngeri jika berbicara dengannya.

Pada akhir perkuliahan di pertemuan pertama, ia menjelaskan maksudnya mencabut hak kami mahasiswa berbicara ketika sang dosen inspiratif ini menjelaskan materi perkuliahan. Katanya kunci kesuksesan paling utama yang harus dipahami dan dimiliki mahasiswa adalah “kecerdasan mendengar”. Tanpa kecerdasan dan kemampuan mendengar pasti mengalami kendala besar dalam menata masa depannya.

Menurutnya, kecerdasan mendengar adalah “tidak berbicara ketika orang lain berbicara”. Kalau bersamaan bicara maka pasti terjadi benturan. Ia kemudian memberikan contoh yang gampang dipahami, “Peguasa yang tidak mau mendengar penderitaan rakyatnya, akan turun di tengah jalan. Pengusaha yang abai mendengar keluhan konsumennya, akan gulung tikar. Mahasiswa yang tidak fokus mendengarkan dosennya menerangkan mata kuliah, akan dapat nilai rendah karena tidak memahami materi kuliah”.

Sang dosen ini kembali menegaskan, “Orang yang abai, malas, bahkan tidak mau mendengar, pasti orangnya cenderung sombong, angkuh, dan cuek. Sementara orang yang mau mendengar adalah pasti orang bijak. Lalu siapa yang paling berpeluang menata masa depannya lebih baik? Orang sombong atau orang bijak?” Kami mahasiswa hanya diam terkesima membenarkan penjelasannya alasan kenapa mencabut hak kami berbicara ketika ia sedang mengajar.

Dengan narasi dan kondisi kelas yang selalu hidup itu, membuatku jujur jika masuk kelasnya tidak pernah merasakan bosan. Menurutku dosen yang satu ini lain daripada lain. Dari menit awal semangatnya tidak pernah menurun, ilmunya terus mengalir bagaikan sumber mata air yang tidak pernah kering. Paling sering memberikan pengalaman berharga dalam kehidupanya untuk menjadi pembelajaran bagi mahasiswanya, sangat banyak pembelajaran hidup dan pengalaman hidup dari bapak yang menjadi motivasi buat kami mahasiswanya.

Bapak Ruslan Ismail Mage, terima kasih tidak pernah jenuh menginspirasi kami. Teruslah memberi energi positif terhadap kami mahasiswanya pak,. Teruslah menjadi cahaya bagi mahasiswanya pak. Teruslah menjadi dosen yang sederhana dan mudah bergaul dengan mahasiswa, karena hal itu yang membuat kami nyaman jika berada di kelas bersama bapak. Doaku semoga bapak diberikan kesehatan, keberkahan umur dan diberi pahala yang banyak atas ilmu yang diberikan kepada kami. Aamiin.

*Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unes

(Visited 40 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Inspirasi Daerah

Inspirasi Daerah memuat narasi pemerintahan daerah seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.