Oleh: Muhammad Sadar*

Output proses budidaya padi adalah beras, hingga saat ini beras masih merupakan komoditas pangan primer yang menjadi bahan konsumsi penghasil energi dan penyedia kalori bagi sebagian masyarakat dunia, terutama Benua Asia dan Indonesia pada umumnya. Pengerahan segala sumber daya dan upaya yang dilakukan dalam rangka ketersediaan, stabilisasi pasokan, maupun distribusinya untuk memenuhi kebutuhan lebih 270 juta penduduk di negeri ini.

BPS (2023) mencatat dalam Aram I-II bahwa luas panen padi diperkirakan sekitar 10,20 juta hektare mengalami penurunan sebanyak 255,79 ribu hektare atau 2,45 persen dibandingkan luas panen pada tahun 2022 seluas 10,45 juta hektare. Produksi padi pada 2023 diperkirakan sebesar 53,63 juta ton GKG,
mengalami penurunan sebanyak 1,12 juta ton GKG atau 2,05 persen dibandingkan dengan produksi padi pada 2022 sebanyak 54,75 juta ton GKG. Sementara produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan sekitar 30,90 juta ton, mengalami penurunan sebanyak 645,09 ribu ton atau 2,05 persen dibandingkan produksi beras pada 2022 sebesar 31,54 juta ton.

Pada hari Senin (20/11/2023), ada dua event rapat koordinasi biasa disebut rakoor terkait pangan. Rakoor pertama berlangsung di Aula Kantor Bappelitbangda Kabupaten Barru. Pertemuan yang bertema “Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Pengendali Inflasi” diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru. Hadir dalam acara tersebut antara lain pimpinan Muspida Barru, Asisten II, Staf Ahli, Kepala OPD terkait, Bulog, para Camat, Petugas Pertanian BPP/Mantri Tani, PPL, Pengelola Pasar dan Pabrikan/Para pedagang beras. Dalam sambutan dan arahannya, Sekretaris Daerah Barru Bapak Dr. Ir. Abustan, M.Si. mengatakan,”Pentingnya status pangan dijaga stabilitas dan produksinya maupun harganya tetap terjangkau oleh masyarakat agar tidak menimbulkan gejolak tidak wajar yang berakibat pada inflasi.”

Demikian sangat urgennya urusan pangan ini harus ditangani dengan baik, oleh Badan Standarisasi dan Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian dibawah pimpinan Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si melakukan rapat koordinasi di jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru di Barru.

Kepala BSIP didampingi tim dan jajaran BSIP yang ada di daerah antara lain BSIP Sulsel (ex BPTP Makassar), BSIP Serealia Maros, BSIP Padi Sukamandi, BSIP Umbi-Umbian Sidrap, BB Pelatihan Batangkaluku, Polbangtan Gowa, dan Koordinator Penyuluh Pertanian Sulawesi Selatan dan Perhiptani.

Sebagaimana ketika program Upaya Khusus (Upsus) Kementan 2014-2019, Kepala BSIP bertindak selaku penanggung jawab akselerasi padi/jagung di Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam sambutan dan arahannya beliau mengungkapkan, “Kementan saat ini fokus pada pengembangan padi/jagung di mana pihaknya akan memberikan bantuan benih gratis, alsintan, dan kemudahan dalam urusan pupuk subsidi bagi petani. Saat ini, atas petunjuk Presiden dan persetujuan DPR, Kementan memperoleh anggaran belanja tambahan sebesar 5,8 triliun untuk menggenjot produksi padi melalui perluasan areal tanam, pemanfaatan lahan rawa dan percepatan tanam walau kita masih dibawah cekaman el Nino yang berkepanjangan.”

Prof. Fadjry melanjutkan,”Cadangan beras nasional yang ada di Bulog saat ini sekitar 600 ribu ton yang mampu bertahan beberapa bulan ke depan, sementara Bulog agak kesulitan menyerap hasil panen padi petani karena di atas HPP. Atas kondisi tersebut, pemerintah berencana melakukan importasi 3,5 juta ton sebagai cadangan pasokan dan pengamanan pangan dalam negeri, sementara negara-negara penghasil beras seperti India, Cina,Thailand, dan Vietnam menahan stoknya untuk kebutuhan cadangan nasionalnya.

Kepala BSIP tersebut menegaskan, “Penting kita kerja sama semua pihak untuk mendukung program-program Kementan dengan mengulang success story over stock 2 juta ton di Sulawesi Selatan dan daerah kita ini merupakan penyangga pangan keempat nasional di luar pulau Jawa. Keberhasilan Upsus dalam swasembada beras antara 2015-2019 kita ulangi kembali dibawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian. Beliau mendorong program percepatan tanam bersama peran semua PPL, KTNA, dan petani di daerah ini.”

Bravo sang Professor, semoga amanah menjadi suksesor di sektor pertanian dan kembali berjaya pada UPSUS jilid II. Aku bangga pernah menjadi mahasiswa bimbingannya pada pendidikan magister pertanian ketika sang Professor sebagai leader BPTP Sulawesi Selatan satu dekade silam.

Barru, 21 November 2023

*Penguji Perbenihan/Perbibitan TPHBun Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru

(Visited 70 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.