By Dev Seixas’1125
Suatu ketika ada yang berkata, kamu gagal mempertahankan rumah tanggamu. Aku justru tersenyum dan menjawab jika tangga sebuah bangunan yang menjulang tinggi roboh, ketika terjadi musibah masih mampu digantikan dengan tangga yang lain bahkan lebih modern, mengapa aku harus takut jika aku gagal?
Di kamusku tidak ada kata gagal, karena aku tidak dilahirkan untuk gagal. Tahu mengapa seperti halnya tanggal bangunan yang aku bahas. Jika rumah memiliki tangga maka pasti akan ada kegagalan begitu juga sebuah hubungan harus memiliki fondasi yakni cinta.
Siapa bilang cinta itu abadi, dan karena keabadian juga tidak ada yang abadi, maka tentu fondasi sebuah rumah juga bisa roboh, apabila pada masanya, begitu pula sebuah hubungan.
Terkadang aku justru berpikir mengapa aku terlalu berani dalam menghadapi semua kendala, kareka aku masih ingat jelas keringat seorang ayah yang bercucuran, dikala harus banting tulang buat tujuan anaknya dimana saat itu, tak memiliki pekerjaan lagi.
Semua orang menertawakan, semua orang menyalahkannya,semua orang mencemoohnya, bahkan ada yang sampai panjang tangan dan memberi tamparan di pipi ayahnya, selalu teringat jelas di benaknya.
Sejak hari itu aku sadar bahwa aku tidak menulis kata gagal, sebagai sebuah label penting dalam kamus kehidupanku karena segala yang orang perbuat pada orang tua yang luar biasa, tidak akan membawa kegagalan bagi putra dan putrinya.
Kesadaran jiwa membuatku semakin legah untuk bernafas. Aku bebas menghirup udara, aku bebas bernafas, aku bebas berimajinasi bahkan aku bebas berharap tanpa mengharapkan apa-apa dari orang lain.
Jadi jika aku gagal dalam rumah tangga, itu tidak berarti aku gagal, tapi aku sedang belajar mencari sebuah kesimpulan dalam sebuah relasi antara seorang pria dan wanita bukan gagal.
Kenapa aku bilang itu bukan sebuah kegagalan, karena dengan membentuk sebuah fondasi rumah karena komitmen, maka merombak fondasi itu bukan lagi memiliki komitmen akan ditetapkan tetapi beralasan, jadi kalau alasannya jelas, itu bertanda bukan aku yang gagal, tapi aku sudah berkesimpulan untuk sebuah pilihan hidup yang tepat.
Jadi dalam kamus pribadiku tidak ada kata gagal yang tertulis, melainkan semua yang aku lewati adalah sebuah proses dan setiap proses memiliki tujuan awal dan akhir. Jadi jangan pernah berpikir bahwa wanita tidak ada keberanian untuk mengambil keputusan, karena keputusan tidak mengenal jenis kelamin tapi memiliki kemampuan.
Kamu tahu mengapa aku tidak merasa ada kegagalan dalam hidup, setiap hubungan ada konsep. Jadi aku berhasil dari banyak konsep, hanya meninggalkan satu konsep agar siapa yang pernah mengenalku, bisa memiliki konsep kehidupanku.
Mungkin janji suci saling memiliki hingga maut memisahkan hanya terjadi satu kali aku bisa, tidak bisa lakukan ribuan kali karena emang aturannya hanya sekali. Akan tetapi berdiri selama bertahun-tahun meneteskan air mata bersamaan dengan keringat adik-adikku bisa memperoleh ijazah SMA, adalah sebuah titik perjuangan serta konsep kehidupan yang aku punya.
Aku tidak butuh apa-apa selain bisa membuat adik-adikku memperoleh ijasah SMA, karena fase itu adalah fase terberat, akan tetapi memiliki amal baik bagi diriku sebagai seorang kakak.
Entah mengapa aku tidak merasa di kamusku tidak tertulis label kegagalan, mungkin karena aku pernah bahkan hampir gagal, tapi aku hidup dengan rumus ayah, bahwa Dev apapun keputusan kamu dalam hidupmu aku hanya ingin kamu tamat SMA, itu saja. Jika sampai kamu tidak memiliki Ijasah SMA, maka pintu rumah akan tertutup bagimu untuk selamanya.
Jadi di benakku gimana adik-adikku bisa makan nasi atau bubur sepiring, pada siang hingga malam hari tanpa peduli ada sayuran atau tidak, agar mereka bisa seperti diriku, agar jangan pernah meneteskan air mata demi sepiring nasi, itu yang aku upayakan dan terjadi, maka yang lain itu bukan kegagalan tapi keputusan terindah.
Jadi di kamusku tidak ada kata gagal. Karena setiap derap langkahku akan tetap berkelanjutan dan tidak akan berhenti karena konsep kegagalan rumah tangga.
Ingat di luar sana banyak wanita-wanita yang gagal karena terbentur masalah yang sama halnya dengan masalahku, bahkan mereka memilih tetap bertahan, hingga pada akhirnya nereka tidak pernah merasakan kebebasan dalam hidup, karena tidak bisa mengambil keputusan bagi diri mereka sampai pada akhirnya ada yang harus stres, depresi, gila hingga bunuh diri.
Aku bukan wanita seperti itu karena aku menyadari uang dan harta bisa di cari kapan saja, tapi kehidupanku mahal, jika aku berbelok arah ke masa lalu, masa-masa yang penuh kebahagiaan dengan orang tuaku, sanak saudaraku juga teman-temanku. Maka bagiku meninggalkan satu orang itu bukan gagal melainkan keputusan yang paling tepat yang aku ambil untuk diriku.
Aku merasa ikatan batinku jauh lebih kuat dari kasih sayang dan cinta yang menbuatku lahir, tumbuh dan berkembang di dunia ini. Jadi yang aku tinggalkan itu hanya titik kecil tak berarti buat hidupku ke depannya.
Siapakah mereka yang terpenting buat aku? Aku sudah ribuan kali berkata bahwa ayah, ibu sanak saudaraku bersama dengan anak-anakku, adalah mereka yang pertama dan tidak mampu tergantikan oleh siapapun juga.
Jadi bagiku keutuhan demi menjaga hati orang tua dan sanak saudara itu nomor satu (1) daripada orang asing yang aku jadikan label suami, karena label permanen beda dengan label PLU, layaknya barang dagangan atau kode sebuah buku ada ISBN asli, dan ada juga ISBN yang sengaja kita pakai karena negara kita belum memiliki kode ISBN itu sendiri.
Jadi jangan beranggapan jika mengakhiri sebuah hubungan bertanda kita telah gagal dalam kehidupan kita.
