Oleh: Ruslan Ismail Mage*
Tidak bisa dipungkiri bahwa sistem pendidikan Jepang dan Cina sering disebut sebagai yang terbaik di dunia dalam melahirkan sumber daya manusia unggul. Faktanya, kedua negara itu memang unggul dalam penguasaan ilmu dan teknologi.
Pepatah klasik, “kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil”, relevan digunakan untuk menganalisis dua sistem pendidikan tersebut, terutama bagaimana mereka membangun fondasi pendidikan dasar yang kokoh menghadapi segala musim dan zaman.
- Jepang
Data dan fakta menunjukkan bahwa di sekolah-sekolah Jepang tidak mengenal istilah ujian hingga siswa duduk di kelas empat. Jepang memahami bahwa usia tersebut waktunya menanamkan karakter, bukan sekadar materi ujian.
Pelajaran etika, rasa hormat, sikap jujur, kebersamaan, komunikasi sopan, dan menghargai waktu adalah “benih” yang ditabur dalam jiwa siswa. Sejak dini, mereka diajarkan kemandirian dan kerja sama dalam memelihara lingkungan. Makanya, di sekolah Jepang tidak ada petugas kebersihan—siswa bertanggung jawab membersihkan sekolah sebelum pulang.
Filosofi Jepang menempatkan “cinta ilmu” di atas tekanan nilai ujian. Akibatnya, siswa memasuki kelas penuh antusiasme tanpa terbebani nilai. Guru pun menyambut mereka dengan metode pengajaran yang persuasif.
- Cina
Negeri Tiongkok mengedepankan prinsip mens sana in corpore sano—dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Prinsip ini diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan dasar yang tahan banting.
Kini, di Cina siswa diwajibkan melakukan olahraga pagi sebelum belajar, bahkan beberapa sekolah menerapkan latihan bela diri. Hasilnya, anak-anak sekolah dasar tumbuh sehat secara fisik dan mental—jiwa tangguh dan semangat belajar tanpa beban.
Indonesia: Pionir Pendidikan Berkarakter
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Dari sejarah, apa yang dilakukan Jepang dan Cina sudah lebih dulu dilakukan Indonesia—sekitar 30 tahun silam pada masa Orde Baru.
- Karakter melalui Pancasila
Sistem pendidikan saat itu berlandaskan Pancasila. Moral dan etika siswa ditegakkan lewat 36 butir Pancasila yang wajib diterapkan dalam perilaku sehari-hari. - Senam pagi dan kebersamaan
Senam kesegaran jasmani menjadi rutinitas di setiap sekolah. Seragam sekolah diseragamkan agar tidak ada kesenjangan sosial, menumbuhkan rasa kolektivitas.
Lomba Pramuka setiap minggu memupuk kemandirian dan kerja sama. Upacara bendera setiap Senin menanamkan semangat cinta tanah air dan nasionalisme. Semua itu membentuk siswa yang disiplin dan menghargai waktu.
Memang, sistem ini menjadi fondasi kuat bagi generasi masa itu. Namun kemudian, sistem ini lenyap akibat kebijakan “kilometer nol” di era reformasi, yang gonta-ganti kurikulum demi kekuasaan. Sejak kemerdekaan hingga kini, Indonesia telah menerapkan lebih dari 10 kurikulum—terlalu banyak untuk hanya mengadopsi perubahan global.
Kondisi ini memperlihatkan risiko besar apabila pendidikan dikendalikan politik. Konsistensi dan keberlanjutan justru yang paling dibutuhkan. Ironisnya, pendanaan publik untuk agenda pendidikan sering habis dipakai program instan. Kasus pengadaan laptop digitalisasi di Kemendikbudristek (2019–2022) senilai Rp 9,9 triliun adalah contoh bagaimana uang publik bisa tersedot tanpa perbaikan sistem substansial.
Menilik kurikulum nasional 2025, kita seharusnya bertanya: apakah ini benar-benar inovasi atau sekadar ganti baju? Sosiopendidik John Dewey (tidak Duwei) pernah mengatakan, “If we teach today’s students as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow.” Artinya, kurikulum harus relevan dan progresif—bukan sekadar tukar nama.
Sayang, realitasnya kurikulum masih terjebak orientasi nilai ujian. Guru dibebani evaluasi administratif, siswa diarahkan mencari jawaban cepat dari Google, bukan berpikir kritis.
Jika Jepang dan Cina berhasil karena mereka konsisten membangun sistem pendidikan berkarakter sejak dasar, maka Indonesia justru sudah memiliki fondasinya—hanya gagal merawatnya. Kolapsnya konsistensi dan integritas karena korupsi dan intervensi politik telah mengubur sistem yang seharusnya terus berkembang.
Kita tidak kekurangan intelektual atau tenaga pendidik untuk melakukan perumusan kurikulum unggul. Namun yang paling langka adalah konsistensi berjalan di atas nilai-nilai ilmiah. Tanpa itu, pendidikan kita akan terus menjadi proyek coba-coba yang menghabiskan uang dan meninggalkan rakyat. []
*Akademisi, penulis buku-buku inspiratif.

memang betul….karena generasi sekarang adalah generasi mie instan tidak ada usaha sama sekali, hanya mengandalkan jawaban dari AI googel, akhirnya tidak bisa berpikir kritis….coba kalau kita pertahankan kurikulum lama dan direvisi sedikit saja maka hasilnya akan mksimal….