Cinta tak menua seperti wajah,
Tak keriput oleh waktu yang melaju,
Ia tumbuh dari dalam yang ramah,
Dalam jiwa yang tulus, tak pernah jemu.

Tak peduli uban di kepala,
Atau langkah yang kini perlahan,
Cinta tetap menyala menyala,
Bagaikan bintang di langit malam.

Ia hadir bukan karena muda,
Tapi karena hati saling mendengar,
Dalam tawa, dalam air mata,
Cinta bertahan, tak mudah pudar.

Ada yang jatuh cinta di usia belia,
Dan ada pula saat senja tiba,
Namun tak satupun lebih berharga,
Semua cinta murni pada waktunya.

Pegangan tangan tak perlu kuat,
Asal ada kehangatan yang menuntun,
Cinta sejati tak cepat lewat,
Ia tinggal, bahkan saat dunia redup.

Rasa tak mengenal hitungan tahun,
Tak lekang oleh musim dan jarak,
Karena cinta hanya tahu satu hal:
Setia, meski dunia berubah.

Wajah boleh memudar lembut,
Tapi mata yang saling memandang,
Masih nyalakan bara yang lembut,
Seperti pertama kali jatuh sayang.

Cinta tak butuh syarat muda,
Ia butuh jiwa yang bersedia,
Menyatu dalam suka dan duka,
Menemani hingga senja mereda.

Jangan tanya usia saat hati bicara,
Karena cinta sejati tak pakai angka,
Ia hadir di waktu yang tak terduga,
Mengisi ruang jiwa dengan cahaya.

Cinta adalah anugerah Tuhan,
Yang datang saat hati terbuka,
Dan saat itu, apa artinya usia?
Jika yang mencinta adalah jiwa.

by profa.Elvira P.Xim’25

(Visited 10 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Elvira P. Ximenes

Elemen KPKers Dili TL, telah menyumbangkan puluhan tulisan berupa, artikel, cerpen, dan puisi ke BN, dengan motonya, "Mengukir makna dalam setiap kalimat, menghidupkan dunia dalam setiap paragraf", pingin jadi penulis mengikuti jejak para penulis senior lainnya di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.