Oleh: Muhammad Sadar*
Menjelang dua pekan melewatkan masa euforia dan viralisasi lagu tabola bale menggoyang Istana Merdeka Jakarta pada peringatan 80 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2025 hingga trending topik diberbagai kanal platform digital dan podcast figur dalam negeri hingga manca negara, kini komoditas pertanian unggulan nasional, tanaman padi kembali juga bolak balik untuk diusahakan para petani setelah melalui musim tanam pertama dan kedua sampai sukses diakhir musim panen. Beras yang merupakan hasil proses pabrikasi tanaman padi adalah bahan pangan vital dan menjadi salah satu program utama di dalam rumusan asta cita swasembada pangan nasional yang harus dicapai Presiden Prabowo Subianto pada masa pemerintahannya.
Kebijakan pembangunan pertanian untuk mensukseskan swasembada pangan nasional dilakukan berbagai program dan kegiatan antara lain perangkat intensifikasi tanaman padi baik dari perluasan areal tanam baru, bantuan benih unggul bersertifikat dan pupuk subsidi, perlindungan tanaman, perbaikan lahan dan jaringan irigasi, hingga riset pengurangan kehilangan hasil melalui alat-mesin pra panen dan pasca panen modern. Stimulan pemerintah berupa insentif harga gabah tinggi tanpa rafaksi juga menjadi daya dorong bagi petani untuk meningkatkan produksi dan sebagai jaminan harga pasar produk pertanian.
Melalui terobosan perbaikan harga gabah di tingkat lapang oleh kebijakan harga pembelian pemerintah disertai dengan pengawasan melekat oleh aparat TNI sehingga garansi produksi memiliki nilai yang wajar dan pendapatan layak diperoleh petani. Kondisi ideal musim panen padi yang lalu menciptakan peluang besar keberlanjutan usaha tani padi untuk musim tanam ketiga. Penyesuaian MT. III tahun 2025 kembali akan dilakoni oleh salah satu tokoh petani yang juga seorang ASN Pertanian di Kabupaten Barru untuk menjajal sistem penanaman padi off season atau diluar musim sebagaimana yang tidak biasa dilakukan petani dewasa ini.

Di medan laga musim tanam ketiga atau MT. III tahun 2025, tersebutlah seorang tokoh petani dengan predikat ketua kelompok tani Abbekkae di kampung Batubessi Kelurahan SepeE, namanya Abd Jabbar yang telah mulai merintis pertanaman padi MT. III secara mandiri sejak tahun 2020 dengan luas 3,0 hektare walaupun di tengah masa pandemi Covid-19. Tahun berikutnya bertambah menjadi 6,0 hektare hingga puncaknya MT. III tahun 2022 seluas 17,0 hektare pada program Optimalisasi Peningkatan Indeks Pertanaman (OPIP) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.
Pada tahun 2023, Abd Jabbar kembali melanjutkan pertanaman padi musim ketiga walau dibawah tekanan El Nino ketika itu. Setelah jeda pada tahun 2024 dengan berbagai pertimbangan dan evaluasi, kini sang pendekar MT. III kembali beraksi dengan mengajak segenap petani bersama dengan kelompok tani di hamparan sawah kampungnya untuk mensukseskan gelaran musim tanam ketiga sebagaimana amanah yang tengah digalakkan pemerintah pusat saat ini. Dengan mengusung varietas Cakrabuana Agritan yang berbasis genjah dan meluaskan hamparan tanam MT. III di Kelurahan SepeE telah mencapai 42,0 hektare dan pelibatan petani sebanyak 32 orang.
Jika mengamati realisasi luas tanam MT. III pertama tahun 2020 seluas 3,0 hektare baik di tingkat kelompok tani maupun pada tingkat kampung atau kelurahan, peningkatannya sangat signifikan hingga mencapai 42,0 hektare atau prosentase kenaikan sebesar 1.200 persen. Pelibatan kelompok tani hingga empat grup yang bersinergi dan jumlah partisipasi petani juga bertambah dari 4 orang menjadi 32 orang. Hal ini berarti bahwa sikap petani menjadi penentu didalam kolaborasi pelaksanaan MT. III di setiap wilayah.

Salah satu bentuk kependekaran Abd Jabbar (terbiasa dipanggil Om Jab), adalah kemampuan analisisnya untuk memperbaiki kelemahan dalam penggunaan sumber daya. Hasil evaluasi Om Jab selama jeda satu musim tanam tahun 2024 lalu yaitu ketika para anggotanya masih menggunakan beragam varietas umur dalam, sehingga mengalami keterlambatan menyongsong musim tanam berikutnya. Kemudian penggunaan bahan bakar mesin pompanisasi tergolong boros lagi mahal dan birokratif yang terkadang penyediaan BBM solar di SPBU terbilang langka maupun antrian lama. Namun dari sisi produktivitas padi yang dihasilkan masih termasuk dalam kategori sedang antara 6-7 ton per hektare.
Melalui namanya yang sudah menyandang gelar pendekar MT. III, sehingga kepakaran Om Jab memberikan pilihan solusi strategis dalam metode antisipasi musim tanam ketiga antara lain waktu tanam yang dipercepat yaitu setelah selesainya panen musim kedua pada awal hingga pertengahan bulan
agustus, maka petani diharapkan bergegas dalam melakukan pengolahan tanah sempurna sampai tuntas, kemudian penggunaan varietas umur pendek sifatnya wajib untuk mengejar waktu panen cepat, paling lambat awal bulan desember sebelum musim hujan melanda. Sedangkan penggunaan BBM solar ditiadakan dengan memanfaatkan energi listrik masuk sawah sehingga memungkinkan penghematan pembiayaan BBM hingga 60-70 persen.
Peran nyata pendekar MT. III, saudara Abd Jabbar sangat memberi pengaruh kepada para sahabat petani untuk menggiatkan program pemerintah dalam penambahan LTT padi pada musim tanam ketiga. Sambutan dan antusiasme petani yang telah memperoleh jalan hidayah dalam mensukseskan MT. III tahun 2025 karena disokong dengan ketersediaan benih padi genjah dan pengawalan program oleh PPL setempat.

Tidak berlebihan, jika Om Jab dilabeli pendekar MT. III padi di kampung Batubessi karena kejawaraannya membuat petani di kawasannya terjerat oleh demam musim tanam ketiga. Pekerjaan fisik sekalipun dalam operasional olah tanah menggunakan traktor roda dua hingga proses tanam ia lakukan. Bahkan menjalankan pompanisasi air dan mengambil cuti sebagai ASN untuk melayani anggotanya dalam menerapkan MT. III tahun 2025. Apresiasi dan penghargaan yang tinggi untuk Abd Jabbar yang bertitel pendekar MT. III sangat layak disematkan.
Penyematan simbol pendekar MT. III kepada Om Jab yang kembali turun gunung untuk ngegas musim tanam yang diluar kebiasaan petani adalah suatu bentuk perhatian yang sangat serius hingga menjadi bagian motivasi kepada petani di wilayah kerja lain untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan sawah pada sisa musim tanam periode Agustus- September 2025. Semoga sistem pertanaman yang dijalani Abd Jabbar di MT. III tahun 2025 berhasil dan menciptakan pendekar-pendekar musim tanam ketiga di Kabupaten Barru pada masa yang akan datang.
Barru, 27 Agustus 2025
*Pemerhati Varietas Padi Nasional.
