Oleh: Muhammad Sadar*
Sejarah komoditas padi yang berasal dari kawasan Tiongkok pada ribuan tahun yang silam, hingga penyebarannya meluas ke seluruh penjuru dunia dan menjadikannya sebagai bahan kebutuhan pangan pokok strategis bagi masyarakat global mulai dari benua Afrika, Timur Tengah dan Timur Jauh, Amerika Latin, daratan Asia pada umumnya dan Asia Tenggara. Hikayat lain mengisahkan bahwa, tanaman padi berawal turun dari langit menuju bumi dengan identitas Sang Hyang Seri yang menyebabkan berdirinya pusat-pusat penelitian padi di berbagai negara. Komoditas ini diproyeksikan dikerjakan oleh sebagian besar warga dunia dan menciptakan iklim investasi domestik serta memajukan siklus ekonomi global maupun memberi pengaruh terhadap stabilitas nasional pemerintahan pada suatu negara.
Sebagaimana pandangan para politisi menyebut bahwa politik adalah momentum, setiap retorikanya, gerakan maupun keputusannya merupakan tindakan momentum politis. Demikian halnya dengan komoditas padi diperlakukan pada suatu momentum. Padi sejak bertumbuh menjadi vigor tanaman dan menghasilkan beras hingga terproses benih padi kembali, kerap kali menunggu timing yang tepat dalam rangkaian proses budidayanya. Distribusi benih padi yang berwujud bantuan pemerintah dan dikemas dalam kegiatan launching benih menunggu momentum bernilai untuk disalurkan pemanfaatannya kepada petani.
Momentum lain yang dimanfaatkan dalam mengeksplorasi eksistensi komoditas padi adalah penyelenggaraan gerakan tanam serentak sebagai salah satu upaya mendorong kebersamaan dalam memaksimalkan penambahan luas tanam di areal sawah atau pada lahan potensial di suatu wilayah. Gerakan tanam atau gertam juga bertujuan sebagai strategi mendesiminasikan varietas padi unggul baru di kalangan petani, disamping juga berfungsi sebagai metode perlindungan tanaman dalam skala luas. Selain momentum gertam, terkadang juga dilakukan kegiatan panen bersama untuk mendisplay atau memperkenalkan produk alat mekanisasi pertanian modern dalam aktivitas panen hamparan yang luas, efisien, efektif, cepat dan losses yang minimal.
Dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya, tanaman padi yang menghasilkan beras dan diusahakan oleh ratusan juta petani di dunia sebagai tanaman yang sangat sensitif selalu mengundang perhatian serius dan fokus dalam pembahasan mengatasi masalahnya. Terkadang momentumnya dimanfaatkan untuk menciptakan suatu gebrakan, baik yang bersifat inovasi atau perbaikan produk maupun berupa hal yang memicu instabilitas atau menghadirkan peristiwa yang mengarah ke efek sensasional semata.
Domestifikasi tanaman padi di Indonesia sebagai tanaman konvensional dan menjadi bagian budaya masyarakat lokal yang hidup di kalangan para pelaku pertanian. Secara tradisional, padi diberi perlakuan spesifik ketika pertama kali akan ditanam melalui prosesi turun sawah dan olah tanah, seleksi benih, perendaman, pemeraman, dan hambur benih semai selanjutnya aksi penanaman. Di lokasi tanam, posisi standing crop dilakukan tahapan pemeliharaan dengan mengikuti rentang waktu fase pertumbuhan tanaman padi lalu terpanen, pengangkutan, pengeringan, pabrikasi/ penggilingan, klasifikasi mutu, manajemen gudang, dan pemasaran hingga endingnya on proses di dapur dan meja makan.

Rangkaian proses dan keseluruhan tahapan budidaya padi, ikhtiar momentum dalam setiap item perlakuan dipersandingkan dengan harapan keselamatan dan kesehatan tanaman padi agar terjaga dari energi perusak hingga melahirkan produksi padi yang optimal. Begitupun juga dengan sarana produksi yang mengiringinya seperti pupuk selalu menjadi elemen sorotan utamanya sisi pasokan dari produsen pupuk, kemudian mekanisme usulan melalui elektronik rencana definitif kebutuhan kelompok tani, besaran kuota subsidi dan harga eceran tertinggi serta mobilisasi maupun penyaluran di tingkat lapang memanfaatkan waktu yang tepat di dalam pelaksanaannya.
Selain sarana pupuk, hal lain yang sangat krusial dalam penanganan tanaman padi adalah pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan diupayakan suatu metode pengendalian yang diawali melalui pengamatan agroekosistem padi. Petunjuk PHT agar momentum pengendalian tidak serta merta menggunakan bahan kimia sintetik tanpa menilai ambang kendali. Penggunaan bahan kimia beracun yang tidak bijaksana akan menimbulkan dampak lingkungan yang lebih luas utamanya ketidakseimbangan populasi antara golongan pemangsa alami dengan kelompok hama sasaran.
Terlepas dari semua faktor pengendali tanaman padi seperti keadaan iklim yang menentukan awal musim tanam, ketersediaan benih dan kecocokan varietas untuk adaptasi lingkungan tumbuh, pupuk untuk pertumbuhan dan ketahanan atau hama penyakit penghambat fisiologi atau metabolit tanaman, dan unsur yang tak kalah penting diperhitungkan adalah momentum waktu panen yang tepat karena akan terkait dengan tingkat kematangan buah padi dan fluktuasi harga produksi diakhir. Pada etape inilah penentuan keberhasilan budidaya padi selama musim tanam akan disorot.
Namun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah mengeluarkan patokan harga gabah kering panen untuk melindungi petani dari ketidakstabilan harga gabah melalui Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 14 Tahun 2025 Tentang Harga Pembelian Pemerintah sebesar Rp 6500 per kilogram di tingkat petani tanpa rafaksi dan kadar air tak dibatasi. Bahkan Kepala Negara Prabowo Subianto memanfaatkan momentum di front sidang majelis umum PBB pada bulan september lalu, mengumumkan bahwa Republik Indonesia telah mencetak sejarah kembali meraih kejayaan swasembada beras pada tahun 2025.

Momentum capaian swasembada beras domestik hingga pengakuan oleh lembaga pangan dunia FAO patut kita syukuri, dan apresiasi kepada seluruh pemangku sektor pertanian maupun kolaborasi para pihak. Gejolak pangan yang melanda belahan dunia lain akibat konflik bersenjata, faktor instabilitas ekonomi dan geopolitik maupun dampak perubahan iklim global semoga tak berpengaruh nyata di dalam negeri. Euforia swasembada akan membawa pesan semangat kerja dan produktivitas segenap pemanfaatan sumber daya dan teknologi. Prestasi tersebut sekiranya dijaga, dipantau dan dievaluasi agar energizernya terus diharapkan meningkat dan capaiannya stabil ditengah tantangan dunia yang semakin destruktif.
Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa padi adalah sumber kehidupan dan menggerakkan semua lini penghidupan bagi pelaku pertanian dan sektor ekonomi nasional dan dunia. Momentum yang diselenggarakan pada semua kegiatan padi, kita berharap tidak sekedar menjadi seremonial belaka, namun momentum tersebut sebagai wujud kepedulian pemerintah terhadap pemenuhan kebutuhan sarana produksi padi untuk petani serta melahirkan do’a pengharapan dan merefleksikan sebuah penghormatan kepada-Sang Hyang Seri-yang menghidupi penduduk bumi sejak dari masa lampau, kini dan masa yang akan datang.
Barru, 16 November 2025
*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru
