Hari itu kami pulang dari hajatan seorang teman lama, sesama pengajar dulu. Rumahnya ramai oleh tawa, doa, dan kenangan yang kembali hidup. Bersama kami ada orang tua angkat dari Surantiah—kehadiran mereka selalu membuat perjalanan terasa lengkap, seperti pulang ke akar sendiri.

Dalam perjalanan kembali, suamiku mengarahkan kendaraan ke arah pantai. “Kita singgah sebentar,” katanya. Aku terdiam ketika melihat bangunan itu semakin jelas: Masjid Al-Hakim berdiri megah, seakan memanggil siapa pun yang lewat untuk berhenti dan menenangkan hati.

Kami turun bersama. Aku menggandeng dua gadis kecil kami yang langsung terpukau oleh keindahan masjid. Kubahnya menjulang anggun, cahaya sore memantul lembut di dinding-dindingnya. Aku menarik napas panjang. Ada rasa haru yang tiba-tiba datang tanpa permisi.

Yang membuat langkahku terasa ringan bukan hanya keindahan masjid itu, tetapi kenyataan bahwa suamiku ikut masuk untuk sholat berjamaah. Biasanya, hal itu bukan sesuatu yang mudah terjadi. Aku berdiri di shaf perempuan bersama anak-anak, sementara orang tua angkat kami ikut bergabung. Ketika takbir dikumandangkan, mataku basah. Aku merasa doaku selama ini diam-diam dijawab, meski baru berupa satu langkah kecil.

Usai sholat, kami disuguhi makan gratis. Nasi dan lauk sederhana itu terasa istimewa. Kami makan bersama jamaah lain, berbagi senyum dan syukur. Anak-anak menikmati makanannya dengan riang, seolah masjid itu bukan hanya tempat ibadah, tapi juga rumah yang ramah bagi siapa saja.

Perjalanan belum selesai. Kami pun mampir ke Basko, sekadar berjalan dan menyenangkan anak-anak. Suasana santai itu menutup hari dengan hangat. Namun pikiranku terus kembali ke satu momen: suamiku berdiri dalam shaf, khusyuk, tenang.

Malamnya, dalam diam, aku merenung. Aku sangat terharu. Bukan karena perjalanan, bukan pula karena singgah-singgah yang kami lakukan, tetapi karena harapan yang mulai berani tumbuh. Semoga kelak, ia benar-benar bisa menjadi imam yang sesungguhnya—bukan hanya di masjid, tetapi di dalam rumah tangga kami.

Dan semoga aku tetap kuat, setia mendampingi, sambil terus berdoa:
Ya Allah, jagalah langkah kecil ini agar menjadi jalan yang panjang dan penuh berkah.

(Visited 29 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.