Oleh : Rahmawati*
Ada suatu masa dalam hidupku, keberanian dan tekad seolah menjadi dua bekal utama yang kugenggam erat. Aku masih sangat muda, duduk di bangku kuliah dengan mimpi-mimpi yang belum selesai kutata, ketika sebuah lamaran datang mengetuk pintu hidupku. Banyak orang mungkin melihatnya sebagai langkah tergesa, bahkan terlalu berani untuk usia dan kondisi yang masih rapuh. Dan mereka tidak sepenuhnya salah.
Aku tahu, keputusan itu bukan perkara sederhana. Kuliah yang sedang kujalani, usia yang belum matang, serta tanggung jawab besar bernama pernikahan, semuanya berdiri berhadap-hadapan di dalam pikiranku. Keberanian saja tidak cukup untuk menepis rasa takut. Tekad saja tidak sanggup menjawab semua pertanyaan yang datang dari luar maupun dari dalam diri sendiri.
Di titik itulah aku belajar bahwa hidup tidak hanya ditopang oleh keberanian dan tekad. Ada kekuatan lain yang jauh lebih sunyi namun kokoh: iman.
Iman itulah yang perlahan menguatkanku. Di tengah kegelisahan, aku belajar berserah. Aku percaya, jika langkah ini datang dengan niat baik, maka Allah tidak akan meninggalkanku sendirian menjalaninya.
Keyakinan itu tidak serta-merta menghapus rasa takut, tetapi memberiku ketenangan, bahwa apa pun yang terjadi, semua akan baik-baik saja sesuai rencana-Nya.
Meyakinkan diriku sendiri saja sudah berat, apalagi meyakinkan orang tua. Aku memahami kekhawatiran mereka. Seorang anak yang masih kuliah, masih muda, ingin memikul tanggung jawab besar. Namun dengan kejujuran dan keyakinan, aku menyampaikan bahwa keputusanku bukan lahir dari emosi sesaat, melainkan dari pertimbangan panjang dan doa yang tak henti.
Aku tidak menjanjikan kesempurnaan. Yang kuhadirkan di hadapan orang tuaku adalah kesiapan untuk belajar, untuk bertumbuh, dan untuk bertanggung jawab. Aku meyakinkan mereka bahwa aku tidak melangkah sendirian, ada iman yang menjadi penopang, ada doa yang menjadi penuntun. Waktu membuktikan bahwa keyakinan itu tidak sia-sia. Hidup memang tidak selalu mudah, jalan yang kupilih penuh liku dan pengorbanan. Namun dari sanalah aku belajar menjadi kuat, dewasa, dan memahami makna berserah yang sesungguhnya.
Kini aku mengerti, keputusan besar dalam hidup tidak pernah cukup hanya dengan keberanian dan tekad. Ia membutuhkan iman, sebagai cahaya saat gelap, sebagai pegangan saat ragu, dan sebagai kekuatan ketika dunia mempertanyakan pilihan kita.
Seiring waktu berjalan, aku mulai menyadari bahwa kedewasaan tidak selalu datang karena usia, melainkan karena keadaan yang memaksa kita belajar lebih cepat. Menjadi istri di usia muda saat statusku masih sebagai mahasiswa mengajarkanku banyak hal yang tak pernah kutemukan di ruang kuliah. Aku belajar mengelola perasaan, menata prioritas, dan menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana awal. Ada hari-hari ketika aku bertanya pada diri sendiri, apakah keputusanku benar.
Saat lelah datang bersamaan dengan tuntutan akademik dan peran baru dalam rumah tangga, hatiku sering diuji. Namun setiap kali itu terjadi, aku kembali pada keyakinan yang sama: bahwa Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya dalam sebuah perjalanan. Jika aku dipilih untuk menjalani ini, maka pasti ada kekuatan yang juga disiapkan untukku.
Dukungan orang tua yang semula penuh keraguan perlahan berubah menjadi doa yang menguatkan. Aku melihat di mata mereka bukan lagi kekhawatiran, melainkan harapan. Mereka belajar mempercayaiku, dan aku belajar menjaga kepercayaan itu dengan tanggung jawab. Dari sanalah aku memahami bahwa restu orang tua bukan sekadar izin, melainkan energi besar yang menguatkan langkahku.
Aku pun belajar berdamai dengan impian yang harus tertunda. Kuliah yang tidak lagi berjalan seperti yang kubayangkan, cita-cita yang perlu disusun ulang, semuanya mengajarkanku makna ikhlas. Bukan menyerah, tetapi percaya bahwa setiap penundaan memiliki hikmah. Aku yakin, apa yang tidak selesai hari ini bukan berarti gagal, melainkan sedang dipersiapkan dalam bentuk lain.
Kini, ketika menoleh ke belakang, aku bersyukur pada diriku yang pernah berani melangkah dengan iman sebagai sandaran. Aku mungkin tidak memiliki segalanya saat itu, usia yang matang, kondisi yang mapan, atau rencana yang sempurna, namun aku memiliki keyakinan bahwa Allah selalu membersamai niat yang baik. Dan dari situlah aku belajar, bahwa hidup yang dijalani dengan iman akan selalu menemukan jalannya, meski tak selalu mudah.
*BNsiana sejati dan penggerak literasi Kolaka Utara
