Oleh: Ren Hayasaka*
Pergi bukan berarti lari. Menentukan jalan bukan tanda tak cinta negeri. Ada keputusan hidup yang tidak lahir dari gegap gempita, melainkan dari percakapan panjang dengan diri sendiri. Dari malam yang senyap, dari kalkulasi realitas, dari rindu yang tak selalu punya alamat pulang.
Ketika publik menyoroti Syifa, WNI asal Tangerang yang bergabung dengan Army National Guard Amerika Serikat, sejatinya yang sedang diuji bukan sekadar pilihan personal, tetapi cara kita memahami makna loyalitas dan cinta pada negeri di era mobilitas global. Secara hukum, langkah itu sah. Militer Amerika Serikat memang membuka jalur rekrutmen bagi pemegang Permanent Resident atau Green Card, sebuah kebijakan resmi yang tercatat dalam regulasi pertahanan mereka. Artinya kisah Syifa bukan anomali, melainkan konsekuensi logis dari sistem global yang telah lama berjalan, jauh sebelum media sosial ramai membincangkannya.
Pada sisi lain dunia, Jepang menjadi ruang hidup dan penghidupan bagi lebih dari 160 ribu WNI. Data Kementerian Kehakiman Jepang dan Immigration Services Agency hingga 2025 menunjukkan angka ini terus meningkat. Fenomena ini tidak terlepas dari krisis demografi Jepang yang serius. Statistik resmi pemerintah Jepang mencatat lebih dari 29 persen penduduknya kini berusia di atas 65 tahun, sementara angka kelahiran berada di titik terendah sepanjang sejarah. Kekurangan tenaga kerja bukan lagi prediksi, melainkan realitas struktural.
Dalam situasi itu, WNI hadir mengisi ruang-ruang yang perlahan ditinggalkan. Mereka bekerja di pabrik, rumah sakit, laboratorium, kapal, kampus, hingga sektor riset dan teknologi. Tak viral, tak selalu terlihat, namun nyata menopang roda ekonomi. Jepang membutuhkan manusia, bukan sekadar angka. Dan di sanalah banyak WNI memilih bertahan, tumbuh, dan membangun masa depan.
Amerika dengan seragam militernya dan Jepang dengan disiplin industrinya menawarkan jalan yang sangat berbeda. Namun denyut batin para perantau ini serupa. Mereka pergi bukan karena kurang cinta, melainkan karena berani mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri. Keberanian itu sering kali disalahpahami sebagai pengingkaran, padahal justru lahir dari kesadaran.
Cinta pada negeri tidak selalu berisik. Ia tidak selalu hadir dalam slogan dan seremoni. Ia sering hidup dalam bentuk yang sunyi. Dalam kepatuhan hukum, etos kerja, profesionalisme, dan cara menjaga martabat bangsa di negeri orang. Ada yang mengabdi lewat seragam. Ada yang mengabdi lewat kerja senyap dan konsisten, tanpa kamera dan tepuk tangan. Tidak sedikit dari mereka yang kelak hidup dengan identitas ganda, bahkan paspor yang berubah warna. Namun akar kebangsaan tidak serta merta tercabut. Ia tetap hidup dalam bahasa ibu yang dirindukan, dalam doa yang selalu pulang ke tanah kelahiran, dan dalam sikap menjaga nama Indonesia di mana pun berpijak.
Selamat untuk Syifa atas keberanian mengambil sikap dan putusan. Salam hormat untuk WNI di Jepang serta di belahan dunia lain yang setiap hari membangun martabat bangsa tanpa sorak sorai. Buat saudaraku semua sesama WNI, atau yang sedang proses melepas WNI, atau sudah bukan WNI, yakinlah bahwa memang pergi itu bukan berarti hanya lari, tetapi langkah strategis menentukan jalan dan itu bukan tanda tak cinta negeri.
*Ren Hayasaka adalah nama pena Cak Tun Ahmad Gazali, SH., M.Eng., Ph.D., domisili Jepang.
