Oleh: Serka Irwan, S.H.
Hari ini tanggal 17 Agustus 2026, penulis genap berumur 49 tahun. Usia yang bukan lagi muda, tapi juga bukan tua. Usia yang cukup untuk banyak belajar, jatuh, bangkit, dan bersyukur. Tahun ini, Allah Swt memberiku kado istimewa. Di hari ulang tahun ini, penulis didaulat sebuah amanah sebagai komandan upacara penurunan Sang Merah Putih pada peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Sebuah kehormatan yang membuat dada ini bergetar antara bangga, haru, dan rasa tanggung jawab.
Memperoleh kepercayaan itu, rasanya campur aduk. Bangga karena diberi kesempatan mengemban tugas kenegaraan. Menyadari bahwa memimpin upacara penurunan bendera bukan perkara biasa. Di pundak ada harapan banyak orang, ada wibawa institusi, dan hadir simbol persatuan bangsa yang harus dijaga.
Komando demi komando yang jelas dan lantang agar Sang Merah Putih turun dengan khidmat, tertib, dan penuh penghormatan, bukan sekedar memimpin aba-aba namun sebuah disiplin, tanggung jawab dan kehormatan institusi, menjaga marwah agar sang Merah Putih turun dengan khidmat dan tertib penuh penghormatan.

Berdiri di depan pasukan, dengan lapangan yang hening dan mata semua tertuju ke tiang bendera, penulis menyadari sesuatu. Selama 49 tahun hidup ini ternyata mengantarkan penulis ke titik ini. Titik di mana penulis bukan lagi hanya merayakan kemerdekaan sebagai warga biasa, tapi ikut andil menjaganya secara langsung.
Detik detik penurunan bendera tiba, lapangan sepak bola Palanro hening, angin terasa menahan napas, Sang Dwi Warna Merah Putih diturunkan perlahan paskibra diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, umur 49 tahun telah mengarungi hidup suka dan duka, lelah dan syukur, hormat gerak kepada sang dwi warna adalah sebuah penghormatan atas jasa-jasa dan nilai perjuangan para patriot kusuma bangsa.

Sang Merah Putih seakan berbisik, “Jaga aku, jaga negerimu dan jaga dirimu.” Seorang prajurit selesai bukan saat tugas berakhir, tetapi ketika amanah ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
Di usia 49 ini, penulis belajar bahwa pengabdian tidak mengenal batas umur. Selama tenaga dan niat masih ada, selama negeri ini masih butuh, maka kita harus siap. Menjadi Komandan Upacara bukan soal pangkat atau posisi. Ini tentang disiplin, keteladanan, dan cinta tanah air yang diwujudkan dalam tindakan.
Kado ulang tahun ke-49 ini, penulis akan selalu ingat. Bukan karena mewah, namun maknanya sangat dalam. Terima kasih ya Allah.Terima kasih atas kepercayaan dan kesehatan yang diberikan. Terima kasih Indonesia atas kesempatan mengabdi.

Di usia baru ini, harapan penulis sangat sederhana: semoga bisa terus menjadi pribadi yang bermanfaat, menjaga amanah dengan baik, dan meneladani semangat kemerdekaan, menjaga nilai-nilai pengorbanan, loyalitas dan cinta tanah air dalam setiap langkah.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka! 🇮🇩
Happy birthday negaraku yang mengiringi ulang tahunku ke-49.
Palanro, 17 Agustus 2026.
Salam literasi ✍️
