Awal Agustus 2026 seorang teman dengan bangga campur kecewa berkata bahwa dia sengaja tidak menaikkan bendera merah putih tahun ini karena sakit hati terhadap pemerintah. Salah satu yang disebutnya berulang-ulang adalah kebijakan Presiden Republik Indonesia saat ini dinilainya masih jauh dari harapan.
Bahkan katanya, beberapa pidato belakangan ini tidak memberikan pencerahan kepada masyarakat, namun sebaliknya malah menimbulkan kesesahan. Akhirnya, bendera merah putih yang sejak Juli 2026 sudah siap berkibar di angkasa, diseterika agar bekas lipatannya hilang, disimpan kembali dalam lemari. Tiang bendera yang sudah bersih dari debu, kembali lagi ke tempatnya bersemayam.
Reaksi ini bisa saja berlebihan. Bagaimana mungkin seorang yang tidak puas dengan kinerja pemerintah lalu melampiaskan kekesalan kepada negara. Namun rupanya teman ini tidak sendiri. Melihat perkembangan di media sosial, meskipun kebenarannya masih perlu verifikasi, ternyata kejadian seperti ini lumayan banyak. Cukuplah untuk menarik sebuah hipotesis bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran hingga tahun ketiga ini belum memenuhi ekspektasi sesuai janji kampanye dulu.
Kekecewaan banyak mewarnai pemberitaan di media. Ketidakpuasan terhadap kinerja banyak menghiasi dialog-dialog singkat semi formal berbagai kalangan. Mulai dari kalangan inteklektual hingga kelompok patah pensil, sebutan bagi orang-orang yang putus sekolah di usia muda.
Sebenarnya apa yang terjadi di usia negara yang sudah 81 tahun ini merdeka. Seharusnya pemerintah bisa belajar dari pemimpin-pemimpin terdahulu. Ada tujuh presiden sebelumnya yang berhasil dengan segala plus dan minus. Semuanya bisa jadi pelajaran untuk memimpin Indonesia. Itu jika memang tulus ingin memperbaiki negeri ini. Di Indonesia, tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman, ini modal untuk mewujudkan gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharjo.
Tidak perlu membandingkan Indonesia dengan negara lain. Memang ada persamaan, tapi perbedaan juga lebih banyak. Indonesia punya sejarah sendiri. Kalau mau mencari perbandingan, lebih baik negara yang pernah berada di nusantara dan punya luas teritorial kurang lebih sama dengan Indonesia saat ini. Sebutlah Kerajaan Majapahit selama 234 tahun yaitu pada 1293 sampai 1527. Lalu 75 tahun kemudian VOC dan Hindia Belanda selama 347 tahun yaitu pada 1602 sampai 1949.
Kedua negara ini juga mengalami masa suram di awal-awal pemerintahan. Majapahit diwarnai beberapa pemberontakan, terutama pada saat dipimpin raja kedua yaitu Jayanegara. Dan kongsi dagang VOC meskipun lebih lama, juga tidak bagus-bagus amat, karena diwarnai dengan korupsi, biaya perang dan utang besar.
Keduanya jatuh bangun di awal, sebelum menapaki puncak keemasan. Majapahit yang mencapai kejayaan di usia 57 sampai 96 tahun di bawah Raja Hayam Wuruk, ditandai dengan integrasi nusantara sebagai manifestasi Sumpah Palapa oleh Patih Gajah Mada (Afandi, 2024), kekuatan maritim angkatan laut yang tangguh (Nabil & Rahwiku, 2023), kemakmuran ekonomi dan pusat perdagangan regional (Direktori Majapahit, 2021), stabilitas politik dan hukum yang berjalan baik, serta puncak perkembangan sastra dan budaya (Al Asadi, 2025).
Lalu VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda yang datang sejak 1602, yang sempat berkuasa hampir 200 tahun, nyatanya bangkrut dan Hindia Belanda menggantikannya pada 1 Januari 1800. Dan koloni atau wilayah jajahan ini, oleh berbagai sumber disebutkan baru benar-benar merasa ‘nyaman’ sekitar tahun 1920.
Ini didukung oleh artikel berjudul Colonial Period of Indonesia yang ditulis oleh Siregar (2026) dalam platform media informasi, Indonesia Investment. Siregar menyebutkan bahwa Hindia Belanda mencapai tingkat tertinggi kesuksesan saat bisa mengamankan bahan baku industri dan prestise nasional. Ini terjadi di tahun 1920an.
Hindia Belanda kembali mewujudkan integrasi nusantara yang dulu sukses di bawah Hayam Wuruk, dengan istilah Pax Neerlandica, pada masa kepimpinan Gubernur Jenderal Johannes Benedictus van Heutsz yang menguasai seluruh wilayah nusantara secara utuh. Ada juga sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel yang memberikan keuntungan finansial luar biasa kepada Belanda (Water, 2023).
Novita dkk (2015) menyampaikan bahwa Hindia Belanda berhasil dalam modernisasi infrastruktur. Antara lain pembangunan rel kereta api, kebijakan Pintu Terbuka yang membuka kesempatan masuknya modal swasta, pelabuhan dan telegraf, serta eksploitasi sumber daya yaitu produksi komodutas ekspor mencapai pasar modal.
Nah, kembali ke Republik Indoensia. Usia 81 tahun ini, adalah sepertiga masa Kerajaan Majapahit, dan kurang dari seperempat masa koloni VOC dan Hindia Belanda. Meskipun di usia 81 tahun Majapahit sudah mencapai puncak kejayaan, tidak lantas jadi alasan untuk mencela negeri sendiri.
Harus objektif melihat pencapaian Indonesia sejauh ini, sehingga bisa menjadi alasan generasi sekarang untuk tidak seharusnya mencela pemimpin, mencoba untuk berdamai dengan keadaan dan mencintai negeri sendiri.
Wilayah Indonesia saat ini hanya lebih kecil sedikit dibanding integrasi nusantara yang sampai ke Filipina dan Singapura, dan kurang lebih sama dengan luas wilayah Pax Neerlandica.
Di sektor perhubungan, jika Majapahit sukses membangun sistem maritim dan Hindia Belanda berhasil pada perkeretaapian, maka Indonesia saat ini unggul di modernisasi kereta api, konektivitas angkutan udara, jalan tol, dan khusus Jakarta ada sistem transportasi kota mandiri (Sultan, 2025).
Kemudian pada kuartal awal tahun 2026 ini, Indonesia mencatatkan capaian luar biasa terkait pertumbuhan ekonomi yang solid di angka 5,61 persen. Ini bisa sejajar atau bahkan lebih baik dari kemakmuran ekonomi di era Majapahit dan kebijakan Pintu Terbuka milik Hindia Belanda.
Tiga contoh ini cukup jadi alasan untuk berada dalam koridor dan peta jalan menuju Indonesia Emas 2045, yaitu mencapai masa keemasan di usianya yang genap 1 abad. Sembilan belas tahun ke depan adalah waktu yang cukup untuk membuktikan semua itu. Kita hanya perlu sejalan dengan visi asta cita yang akan berlanjut dengan visi oleh pemimpin setelahnya.
Ketika kita sepakat dan optomistis ini bisa tercapai, maka tidak ada ruang lagi untuk bersikap skeptis kepada pemimpin. Rasa kecewa tetap ada, karena tentu saja tidak semua keputusan pimpinan harus berkenan di hati setiap orang. Penyair abad ke-15 John Lydgate mengatakan bahwa seseorang tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang setiap waktu.
Indonesia boleh berharap suatu saat nanti akan ada titisan Hayam Wuruk yang memimpin dengan arif dan bijaksana. Namun sambil menunggu itu, mari nikmati yang ada sekarang. Jadi, boleh kecewa terhadap pemimpin, tapi cinta pada negeri adalah hal yang tak bisa ditawar. Pemimpin bisa berubah, Indonesia adalah selamanya.
Selamat ulang tahun ke-81 Republik Indonesia. Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur. Merah darahku, putih tulangku, dirgahayu Indonesiaku. Merdeka.
Referensi:
Abdurrahman, Sultan. (2025). ‘Jakarta’s Public Transport Better Than Kualalumpur and Bangkok, Says Governor.’ Tempo English.
Adlani, Nabil & Mahanani, Rahwiku. (2023). djar.id. Jakarta: Grid Network
Afandi, Ahmad. (2024). Bintang Pusnas Edu. Yogyakarta: Relasi Inti Media
Al Asadi, Mutiara Rahma Dewi. (2025). Pusat Unggulan IPTEK Seni Budaya Majapahitan (PUI-PT SBM). Surabaya: Unesa
Direktori Majapahit. (2021)
Novita, Fitrianis, dkk. (2015). ‘Perkeretaapian di Wonosobo tahun 1917-1942. Journal of Indonesian History. Volume 4(1). Semarang: UNNES
Siregar, Lori. (2026). Indonesia Investment. Yogyakarta: Nusa Harmoni
Water, M.P. van de. (2023). The Road to Drain or Gain: Dutch Private Investment and Economic Development in late Colonial and early Independent Indonesia. The Netherlands: Universteit Leiden
Paser, Kalimantan Timur, 17 Agustus 2026
