Suatu malam di ruang kerja Kepala Bagian Tata Usaha tak pernah benar-benar dingin, meski AC sentral berembus tanpa henti. Di balik meja kayu jati berukir tebal yang dipesan khusus menggunakan anggaran pemeliharaan sarana, duduk Fulan bin Koplak. Pria paruh baya dengan rambut klimis hasil usapan minyak bermerek mahal itu tak pernah memandang bawahannya sebagai manusia.

Bagi Koplak, pegawai staf, honorer, hingga pejabat fungsional hanyalah pion-pion kecil di atas papan catur kekuasaannya. Jika menurut, mereka selamat; jika membangkang, riwayat karier mereka akan tamat dalam selembar Surat Keputusan mutasi ke pelosok daerah, tanpa ampun.

Kediktatorannya di Kantor Wilayah adalah rahasia umum yang ditelan bulat-bulat dengan rasa takut. Koplak adalah tipe atasan yang pendendam dan tak pernah melupakan wajah-wajah yang mencoba menguji wewenangnya.

Seorang staf keuangan yang pernah mempertanyakan nota kuitansi ganjil langsung dipindahkan ke bagian kearsipan di gudang bawah tanah yang lembap, dibiarkan membusuk tanpa kejelasan nasib. Sebaliknya, mereka yang rajin menyetor muka, membawakan oleh-oleh mahal, atau pandai menjilat, akan diganjar angka kredit tinggi, bonus berkala, serta kemudahan izin dinas, izin cuti maupun izin sakit.

Namun, kejayaan dan keangkuhan Koplak tidak dibagun di atas kerja keras, melainkan tumpukan berkas perjalanan dinas fiktif, memainkan Rencana Kerja seenak udelnya. Selama bertahun-tahun, Bagian Tata Usaha yang dipimpinnya telah menjadi mesin pencetak uang gelap.

Dengan rapi, ia menyusun skenario kunjungan kerja ke berbagai daerah, memalsukan stempel hotel, memanipulasi tiket pesawat, hingga membuat daftar hadir rapat koordinasi palsu. Uang negara mengalir deras ke rekening-rekening pribadi tersembunyi, membiayai gaya hidup mewahnya yang gemerlap, mobil-mobil baru, dan barang-barang bermerek yang ia pamerkan secara terselubung. Koplak mabuk kekuasaan merasa dirinya tak tersentuh. Baginya, aturan adalah hal fleksibel yang bisa dibeli dengan kekuasaan.

Sampai akhirnya, puncak kesombongan itu runtuh bukan dari pemeriksaan audit internal atau kejaran lembaga antikorupsi, melainkan dari dorongan hasrat terlarangnya sendiri.
Malam itu, di sebuah suite mewah lantai teratas hotel berbintang lima di pusat kota, Fulan bin Koplak merasa berada di puncak dunia. Bau harum parfum mahal bercampur aroma alkhohol murah membumbung di kamar berkarpet tebal tersebut. Di ranjang king size berdraping kain sutra, ia memadukan skandal korupsinya dengan skandal moral bersama seorang wanita muda yang ia janjikan posisi staf tetap tanpa seleksi. Koplak merasa aman di balik pintu kedap suara dan tirai tebal hotel mewah. Ia lupa bahwa musuh terbesarnya tidak selalu datang dari luar, melainkan dari jaring dendam yang selama ini ia tebar sendiri di instansinya.

Tanpa ia sadari, sebuah kamera tersembunyi yang dipasang dengan sangat rapi oleh salah satu staf IT yang dulu pernah ia tindas dan ia permalukan di depan umum, terus merekam setiap detail adegan di atas ranjang itu. Rekaman tersebut tidak hanya menangkap cumbu rayu dan lendir perselingkuhan yang menjijikkan, tetapi juga percakapan vulgar Koplak yang dengan sombongnya membeberkan trik-triknya membobol kas negara demi membiayai wanita-wanita simpanannya.

Hanya dalam hitungan jam, video berdurasi singkat namun mematikan itu tersebar cepat bagai angin malam di grup-grup obrolan internal instansi, sebelum akhirnya meledak di media sosial. Pagi harinya, ketika Koplak melangkah anggun memasuki kantor dengan setelan jas terbaiknya, tak ada lagi tatapan tunduk dari para pegawai. Yang ada hanyalah bisik-bisik, tawa sinis, dan pandangan jijik. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, tim pemeriksa khusus turun, Surat Keputusan pencopotan jabatannya diterbitkan, dan pengawalan kepolisian sudah menunggunya di depan pintu ruang kerja yang dulu begitu ia agungkan.

Lengsernya sang pejabat lalim tidak berawal dari meja hijau, melainkan dari ceceran lendir kehinaan di ranjang hotel mewah.

(Visited 12 times, 12 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.